Dibawah pohon tepat disamping Rumah Sakit, Siena termenung dengan tatapan kosong. Helaan nafas terus terdengar, seakan sesuatu yang teramat berat membebani kedua pundaknya.
Siena berbohong saat berkata akan membeli cemilan, sebenarnya yang ia lakukan adalah menghindari Diandra walaupun hanya beberapa saat saja. Karena jika melihat wajah pria itu, dan mengingat pesan Varel, membuatnya ingin terus menangis.
"Huft..."
Siena mendongak saat merasakan genangan air dimatanya, membekap mulutnya sendiri mencoba menahan isak tangisnya yang mungkin saja akan menggangu orang-orang yang berada disekitarnya.
"Aku harus bagaimana? Rasanya aku tidak sanggup jika terus memikirkannya." Hatinya benar-benar sakit, sangat sakit sampai Siena tidak bisa berkata apa-apa untuk menjabarkannya.
"Pantas saja dia menolak keras pernikahan ini, ternyata ada alasan dibalik itu semua." Jika Siena tau hal itu lebih awal, maka ia akan pergi detik itu juga saat rasa cintanya belum tumbuh sampai sebesar ini.
Mungkin jika Yena kembali dengan perut yang tidak buncit seperti itu, Siena akan tetap bersikap egois dan mempertahankan Diandra bagaimanapun caranya. Tapi ini lain lagi, Yena kembali dengan membawa sesuatu yang hanya dalam satu langkah saja bisa menghancurkan semuanya.
"Aku harus apa?" Siena menangis dengan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya, kedua bahunya bergetar dan suara isak tangisnya terdengar jelas.
Semua itu tidak luput dari pandangan Cleo yang berada tidak jauh dari tempat Siena. Pria itu diam-diam memperhatikan bagaimana Siena mencoba untuk tidak menangis, hingga akhirnya perempuan itu tidak bisa menahannya lagi.
Cleo berjalan mendekat seraya melepaskan kemeja yang dipakainya. Sesampainya dihadapan Siena, Cleo menumpukan kedua lututnya diatas rumput hijau yang dipijaknya, dan menutupi kepala perempuan itu menggunakan kemejanya.
"Menangis lah, aku akan menemanimu disini." Bisiknya seraya menepuk-nepuk kepala Siena, mencoba meyakinkan bahwa dirinya tidak akan pergi.
Mendengar hal itu, Siena semakin menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala emosinya melalui tangisan yang membuat hatinya semakin berdenyut sakit.
Seharusnya Siena bertanya langsung pada Diandra tentang kebenaran semua ini, tapi Siena terlalu takut jika jawaban pria itu akan membuat hatinya semakin hancur. Meskipun terdengar bodoh, tapi Siena memilih untuk tidak bertanya apa-apa demi kebaikan dirinya.
Melihat bagaimana Siena menangis, mengingatkan Cleo pada masa kecil mereka. Bisa dibilang, Cleo menjadi saksi atas kerapuhan yang Siena alami untuk kedua kalinya.
Mungkin saat Siena kelas 2 SD, perempuan itu pernah menangis diam-diam dibelakang rumahnya. Cleo yang saat itu merupakan tetangga yang rumahnya tepat berada di samping Rumah Siena, melihat dengan jelas seorang gadis kecil meringkuk didekat pohon jambu.
Cleo yang saat itu hendak mencuri jambu milik keluarga Siena, harus mengurungkan niatnya karena melihat gadis kecil itu terus saja menangis tanpa henti.
Sama halnya seperti saat ini, yang Cleo lakukan hanya menemani Siena menangis, tidak peduli sampai kapan tangisannya itu akan mereda.
"Dulu kau menangis karena kedua orang tuamu, sekarang kau menangis karena seseorang yang kau cintai."
Sejak saat itu, Cleo lebih sering menemui Siena dan bahkan mengajaknya bermain. Awalnya Cleo hanya menganggap Siena adalah gadis kecil yang menggemaskan, bahkan sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Tapi setelah sekian lama menghilang dan kembali bertemu, Cleo merasakan ada sesuatu yang berbeda saat Siena datang menyapanya, dengan menggunakan balutan seragam SMA yang melekat ditubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)