"Ayah hanya ingin mengucapkan salam perpisahan untukmu, dan juga Ayah benar-benar minta maaf atas apa yang telah Ayah lakukan padamu selama ini."
"Semoga kau selalu bahagia bersama istri, dan anak-anakmu ya Diandra."
Setelah kedatangan tiba-tiba siang itu, Leo benar-benar menghilang seakan ditelan bumi. Tapi meskipun begitu, Diandra tidak terlalu memperdulikannya. Mungkin saja Leo pergi keluar negeri untuk menjalani kehidupan barunya.
"Oh ya, apa kau melihat sepatu yang kemarin kita beli?"
Diandra menolehkan kepalanya, menelisik penampilan Siena yang terlihat sudah rapi dan teramat cantik dengan perut buncitnya itu. "Sepertinya ada didalam tempat sepatu, tunggu sebentar." Baru saja Diandra hendak berlari keluar dari kamarnya, tapi Siena lebih dulu menggenggam tangannya.
"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri, lagi pula aku juga akan turun kebawah." Lalu Siena melangkah mendahului Diandra keluar dari kamar mereka. Saat kakinya hendak menuruni tangga, tiba-tiba saja Diandra menariknya dari belakang, kemudian mengangkat tubuhnya begitu saja tanpa beban.
"Haruskah kita membuat lift di Rumah ini?" Tanyanya dengan nada yang jelas terdengar khawatir, ditambah lagi ekspresi wajah cemas Diandra, membuat Siena hanya bisa tersenyum kecil.
"Tidak perlu, karena aku lebih menyukai tangga daripada sebuah lift."
Menghela nafas panjang, Diandra mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan perlahan. Sudah dari beberapa bulan lalu Diandra menanyakan perihal itu, tapi jawaban Siena tetap sama yang membuat Diandra hanya bisa pasrah saja.
Setelah menurunkan Siena diatas sofa, Diandra beralih mengambilkan sepatu yang Siena maksud, sepatu ungu muda dengan beberapa pelangi disampingnya.
"Saat itu Anna, lalu mengapa sekarang harus Yerin dan Dona? Bukankah lebih baik bersamaku?" Diandra bertanya lirih, bibirnya cemberut dan kembali menghampiri Siena yang hanya tersenyum.
Setelah Diandra berjongkok didepannya, Siena mengacak-acak rambut pria itu dengan gemas. "Tidak apa, kebetulan juga aku, Yerin, dan Dona sudah membuat janji untuk sekalian berbelanja." Jawabnya yang memang benar apa adanya.
Diandra mendengus, tapi kedua tangannya tetap memasangkan sepatu pada kaki Siena dengan begitu hati-hati. Kepalanya kembali mendongak, menatap Siena dengan begitu memelas, mencoba membujuk agar perempuan itu membatalkan rencana mereka.
"Atau paling tidak, bolehkah aku ikut?"
Siena menggelengkan kepalanya berkali-kali, begitupun dengan jari telunjuknya yang bergerak berlawanan arah dengan kepalanya. "Tentu saja tidak, karena ini adalah perkumpulan para perempuan. Jika kau ingin ikut, maka kau harus menjadi perempuan sepertiku lebih dulu."
Mendengar hal yang sangat mustahil itu membuat Diandra seketika terdiam. Siena terkekeh, lalu mencubit pipi pria itu. "Tunggu saja di Rumah ya? Oh, atau kau pergi bersama teman-temanmu saja? Bagaimana?"
Mendengus kecil, Diandra tiba-tiba berdiri. "Tunggu." Kemudian melangkah cepat menaiki tangga. Siena hanya bisa mengerjap bingung, apakah Diandra marah?
Kurang dari 10 menit kemudian, suara langkah kaki yang mendekat membuat kepala Siena spontan menoleh.
"Bagaimana? Apakah sekarang aku bisa ikut?"
Siena tercengang, menatap penuh keterkejutan pada penampilan suaminya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Y-yang benar saja?"
Melihat reaksi Siena yang begitu terkejut, Diandra hanya bisa menggaruk kepalanya dan menarik-narik pakaian yang melekat ditubuhnya. "Bagaimana? Apakah penampilanku sudah seperti dirimu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomantikSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)