Diandra menyembunyikan wajahnya pada bantal, mengabaikan keributan dari teman-temannya yang tengah berdiskusi untuk mencari Siena.
Sudah lebih dari 2 Minggu ini Siena pergi. Entah kemana perginya istrinya itu, yang anehnya tidak bisa Diandra temukan meskipun sudah mencarinya kemana-mana.
'Kau dimana Siena? Aku merindukanmu.'
Melihat kacaunya Diandra semenjak perginya Siena, Jelio merasa sangat prihatin. Tubuhnya menjadi sedikit kurus, rambut dan wajahnya menjadi tidak terurus. Sudah Jelio paksa untuk tetap merawat diri, tapi Diandra malah mengabaikannya dan melanjutkan kesedihannya.
Diam-diam Jelio memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Jika Siena benar-benar pergi, pasti perempuan itu juga berpamitan padanya dan memberitahukan berita perceraiannya. Tapi mengapa ini tidak? Seakan kepergian Siena memang sudah direncanakan.
"Sebaiknya kau mulai merawat dirimu lagi. Jangan sampai saat Siena kembali, penampilanmu seperti gembel." Katanya seraya menarik bahu Diandra hingga pria itu terduduk. Jelio berdecak keras, kemudian beralih menarik kedua tangan Diandra dan membawanya kedalam kamar mandi.
"Bersihkan dirimu, bukankah kau pernah berkata bahwa kau memiliki sesuatu yang penting hari ini?"
Seketika Diandra tersadar, buru-buru menutup pintu kamar mandi dan setelahnya terdengar suara gemericik air.
Jelio menghela nafas lega, setidaknya Diandra sedikit sadar sekarang. Meskipun Jelio bertanya-tanya kepentingan apa yang Diandra memiliki hari ini? Tapi ia tetap bersyukur, setidaknya semangat hidup Diandra perlahan muncul kembali.
••••••••••
Disebuah rumah dengan menghadap langsung kearah pantai, ada Siena yang tengah menempelkan beberapa stiker lucu pada pintu kamarnya. Sudah 2 Minggu Siena disini, seorang diri tanpa ada yang menemani. Dan lagi, entah rumah siapa yang ia tempati ini, dan semua perlengkapan yang dibutuhkan ada disini, tanpa harus susah membelinya lagi.
"Kira-kira sampai kapan aku harus bersembunyi disini?"
"Untuk sekarang sampai waktunya tiba saja. Tapi setelah ini berakhir, kau akan menempati rumah ini untuk waktu yang sangat lama."
Sungguh, Siena tidak mengerti apa maksudnya. Tapi terserah saja, Siena akan mengikuti lelucon April mop ini.
"Mungkin jika bersama Diandra, aku akan dengan senang hati menetap disini."
Rumah ini cukup sederhana, namun terlihat sangat elegan. Memiliki 3 lantai, lantai 1 hanya ada ruang tamu, dapur, ruang santai dan tempat gym. Lalu lantai 2 hanya terisi oleh 2 kamar, dengan satu tempat untuk menikmati pemandangan. Sedangkan lantai 3, hanya ada satu ruangan dengan berbagai buku disetiap sudutnya.
Melihat banyaknya buku dilantai 3 itu, mengingatkannya pada kamar Diandra yang terdapat banyak buku juga. Apakah Diandra adalah mahluk yang hobi membaca? Tapi tidak pernah sekalipun Siena melihat Diandra membaca sebuah buku, apakah Diandra hanya suka mengoleksi buku-buku saja?
"Aku merindukanmu." Setiap mengingat Diandra, pasti Siena akan merindukannya tanpa bisa dicegah. Mungkin Siena memang menyerah untuk mendapatkan balasan cinta dari suaminya itu, tapi Siena masih belum rela jika harus berpisah seperti ini, apalagi jika harus bercerai.
"Apakah dia mencariku? Ataukah dia malah senang dengan kepergian ku?" Gumamnya seraya membuka pintu utama yang terus saja diketuk, dan terlihatlah dua sosok pendiam yang membawanya kesini.
"Kau pasti bosan, bagaimana jika kita bersantai ditepi Pantai?"
••••••••••
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)