Diandra menunduk dengan menggenggam erat tangannya, penolakan dan senyum manis Siena saat memasuki ruang bersalin terus memenuhi kepalanya.
"Tunggu diluar saja ya? Aku akan kembali dengan bayi-bayi kita tidak lama lagi."
Padahal Diandra sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari untuk menemani Siena disaat-saat yang penting ini, namun mengapa Siena malah mendorongnya untuk tetap diluar?!
"Tenanglah Kak, pasti Kakak ipar akan baik-baik saja." Devian mencoba menenangkan, juga mencoba membangkitkan semangat Diandra yang padam setelah Siena menolak untuk ditemani.
Dengan menghela nafas sedalam-dalamnya, Diandra menyandarkan kepalanya, bersedekap dada dengan kakinya yang berada diatas paha Devian tanpa sungkan, kemudian menutup matanya dengan rasa khawatir yang tidak akan padam.
••••••••••
Setelah menunggu penantian yang panjang, akhirnya Diandra bisa bernafas lega karena Siena baik-baik saja, namun dua bayi mungil didepannya membuat Diandra sedikit heran.
"Bayi kita, mengapa memiliki rambut pirang seperti itu?" Tanyanya tanpa berniat sedikitpun untuk menyentuhnya.
Siena menunduk, sedikit terisak kecil yang membuat Diandra bertanya-tanya dalam diamnya. Tidak ada sedikitpun niatan untuk Diandra bertanya ataupun menenangkannya, karena untuk mendekat pun rasanya enggan.
"Maaf, mereka bukan darah dagingmu, melainkan darah daging Maxim."
Diandra melotot, menatap penuh kecewa pada Siena yang terlihat merasa bersalah. "Maxim? Siapa dia? Apakah selama ini kau berselingkuh dibelakang ku?!"
Mendengar suara Diandra yang menggelegar, Siena hanya bisa menangis dan tidak sanggup untuk menjawab.
Dengan perasaan yang campur aduk, Diandra menjambak rambutnya, kemudian melenggang pergi setelah membanting pintu dengan sangat keras.
BRAK!!
"KAKAK! BAYINYA ADA BANYAK!"
Suara teriakan Devian setelah mendobrak pintu, membuat Diandra terbangun secara paksa dengan jantungnya yang berdebar kencang. Bahkan saking terkejutnya, kedua tangan dan kakinya pun bergetar, tidak lupa keringat dingin membanjiri pelipisnya.
"Kakak! Ayo cepat, kau harus menyambut kedatangan bayi-bayi mu!!" Devian sudah seperti anak kecil yang melihat mainan lucu, tidak bisa diam dan terus memaksanya untuk bergegas mengikuti keinginannya.
Namun Diandra hanya diam, pria itu tengah menenangkan dirinya, juga mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Setelah dirasa lebih baik, Diandra berdiri sembari menyugarkan rambutnya.
Tapi sebelum melangkah, Diandra menelisik ruangan yang ditempatinya, dan tiba-tiba otaknya berhenti berfungsi saat melihat Siena sudah berada diatas bed pasien dengan tersenyum teduh kearahnya.
"Hai, apakah tidurmu nyenyak?"
Diandra tertegun, kemudian membekap mulutnya. Kepalanya menoleh, namun tidak menemukan keberadaan Devian yang beberapa saat lalu masih berada didekat pintu. Melihat situasi yang membingungkan ini, apakah semuanya hanya mimpi?
Melihat bagaimana kebingungannya Diandra, bagaimana linglung nya pria itu seraya menatap kearahnya, Siena hanya mampu terkikik geli meskipun perut bagian bawahnya terasa cukup menyakitkan.
"Kemarilah, aku butuh mengisi energi lagi." Kedua tangan Siena terbuka lebar, juga sesekali menggerakkan jari-jarinya menyuruh Diandra untuk mendekat.
Diandra memang melangkah mendekat, namun tatapan linglung nya tidak hilang. "Bukankah kau berada di ruangan itu? Bukankah kau tengah berjuang melahirkan bayi kita?" Pertanyaan beruntun dengan wajah polos itu, membuat Siena menggeleng kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)