Surrogate Wife : 20

41.8K 1K 13
                                        

Siena terdiam, memandang Diandra yang tengah mengupas buah apel dengan tatapan bertanya-tanya. Setelah hari itu, Diandra menjadi sangat pendiam, seakan menganggapnya mahluk tak kasat mata dan lebih sering berada diluar Apartemen. Gejalanya sama persis seperti awal pernikahan mereka, benar-benar sama.

Apa yang merasuki Diandra? Apakah hantu yang membuat Diandra dulu seperti itu kembali lagi? Jika memang iya, maka Siena akan sangat sedih. Padahal ia sudah senang dengan Diandra yang sudah menganggapnya ada, sudah memandangnya seperti manusia pada umumnya, dan saat berbicara dengannya pun sudah enak didengar.

Tapi, sekarang Diandra kembali ke setelan awal. Siena bingung, bagaimana cara ia mengembalikan Diandra seperti 2 Minggu lalu? Apakah ia harus menjauhi Diandra lagi seperti saat itu? Sehingga Diandra merasa terabaikan dan berakhir mendekatkan diri?

Tapi Siena malas. Jika ia melakukan hal yang sama, belum tentu mempan untuk kedua kalinya. Dilihat dari Diandra saat ini, pria itu terkesan seperti terpaksa menjauh darinya, berpura-pura tidak menganggap keberadaannya dan mengabaikannya.

Haruskah Siena tetap diam? Ataukah ia berusaha agar Diandra tidak seperti itu lagi? Tapi jika dibiarkan terus seperti itu, Siena merasa ada sesuatu yang hilang.

Memilih beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Diandra dan berdiri dibelakang tubuh pria itu. Awalnya Siena ragu untuk melakukan apa yang ada didalam kepalanya, tapi jika ia tidak melakukannya, mungkin ia akan menyesal nanti.

'Aku memang sudah tidak memiliki urat malu dimata Diandra, jadi untuk apa ragu?'

Dengan tekad penuh, Siena menjulurkan kedua tangannya dan hendak memeluk Diandra dari belakang. Tapi sebelum itu terjadi, Diandra sudah berjalan melewatinya begitu saja.

Siena terdiam, menatap kedua tangannya yang masih melayang di udara. Mendengus kesal, Siena mengikuti langkah Diandra yang berjalan menuju sofa dan duduk disana.

Lagi, Siena memilih berdiri dibelakang tubuh Diandra. Siena terdiam sejenak, lalu kembali mengangkat kedua tangannya dan hendak menggapai kepala pria itu. Tapi sialnya, Diandra malah berdiri dan berjalan santai menuju kulkas.

Tanpa ada kata menyerah, Siena kembali mengikuti Diandra dan hendak melakukan hal yang sama. Tapi, lagi dan lagi Diandra berjalan menjauhinya. Terus berlanjut seperti itu sampai Siena lelah sendiri.

Semakin Siena mengikuti dan berniat melakukan sesuatu, semakin Diandra menjauh dan tidak sedikitpun memberinya kesempatan. Siena kesal, Siena marah dan Siena ingin menangis saat melihat Diandra yang seperti itu dengan sengaja.

Melihat pria itu kembali duduk disofa, Siena hanya diam mematung didekat pintu. Menatap kesal pada Diandra yang terlihat santai dan menikmati apelnya. Tanpa melakukan apa-apa lagi, Siena berdecak keras dan berjalan dengan tergesa menuju kamarnya.

Setelah suara bantingan pintu terdengar, barulah Diandra membuang nafasnya dan melemaskan tubuhnya. Melihat niat terselubung dan kegigihan perempuan itu, membuat Diandra sedikit ketar-ketir dan berkeringat dingin.

Jika sampai Siena berbuat nekad, Diandra tidak yakin bahwa ia bisa menahan diri. Mengingat bagaimana pagi itu, Diandra merasa bahwa pertahanan dirinya mulai goyah sedikit demi sedikit.

Jadi sebisa mungkin, Diandra akan menjauh dan menghindari hal semacam itu.

Bertepatan dengan itu ponselnya berdering. Diandra merogoh saku celananya, mengeluarkan benda persegi itu dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Dian, bisa kau datang? Adikmu akan kembali malam ini, bersama dengan kekasihnya. Sekalian saja kita membicarakan tentang pertunangannya."

Diandra terdiam, hanya mendengarkan dengan seksama suara sang Ayah yang terdengar bahagia.

Surrogate Wife [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang