Selama hampir 2 jam Siena memandangi wajah tenang Diandra yang tengah tertidur pulas. Setelah berkata ingin menceritakan sesuatu, tiba-tiba pria itu menarik dan memeluknya, kemudian langsung tertidur tanpa sempat untuk bercerita.
Entah memang sengaja atau tidak, yang jelas Siena merasa sedikit kesal karena dipermainkan seperti ini. Tapi entah mengapa, melihat wajah tampan pria itu dan pelukan hangatnya, membuat Siena sedikit demi sedikit melupakan kekesalannya.
"Jika dipikir-pikir, kau sudah lama tidak mengungkit nama Yena lagi. Apakah kau sudah benar-benar melupakannya? Atau kau hanya lupa untuk sesaat?" Sekarang Siena dilema, entah mengapa perasaannya menjadi tidak tenang seperti ini. Bagaimana jika Yena tiba-tiba kembali? Menghancurkan pernikahannya yang sudah mulai membaik ini? Membuat waktu 5 bulannya melewati lika liku ini harus berakhir begitu saja?
Siena juga tidak pernah lupa dengan perjanjian yang mereka buat, yaitu pernikahan ini hanya akan bertahan selama 1 tahun. Setidaknya sebelum waktu itu habis, Siena berharap Yena tidak kembali dan membiarkannya mengukir kebahagiaan bersama Diandra walaupun hanya sesaat.
Setelah waktu itu habis, barulah Siena akan mencoba merelakan Diandra dengan siapapun yang akan pria itu pilih nanti.
"Jika dia kembali, bisakah kau tetap bersamaku? Bisakah kau memilihku untuk tetap menjadi istrimu? Bisakah kau mempertahankan pernikahan ini bersamaku?" Siena bergumam lirih dengan nada bergetar, bayang-bayang Diandra meninggalkannya berputaran dikepalanya, mengakibatkan memunculkan embun dikedua matanya yang tidak henti-hentinya menatap wajah Diandra yang begitu dekat dengannya.
"Aku tidak sanggup jika harus melepaskanmu." Tangannya terangkat dan hendak menyentuh wajah itu, tapi rasanya tidak sanggup. Siena memilih memeluk Diandra dan menyembunyikan wajahnya diperpotongan leher pria itu. Menangis tanpa suara, dengan jemarinya yang mencengkram erat selimut yang membungkus tubuh mereka berdua.
Merasakan pergerakan kecil dari Diandra, cepat-cepat Siena menahan nafasnya dan berpura-pura tidur. Dapat Siena rasakan, pria itu sedikit menjauhkan kepalanya, sebelum kemudian menumpukan dagunya diatas kepalanya dan kembali memeluknya lebih erat dari sebelumnya.
'Entah kapan hal itu terjadi, tapi sepertinya aku harus mulai mempersiapkan diri mulai saat ini.'
••••••••••
"Hah, wajah tidak senangnya lah yang selalu menyambut kedatanganku." Devian menyentuh keningnya, kemudian menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah cantik kekasihnya.
"Dia pasti akan sangat kecewa jika mengetahui hubungan kita."
Devian mengangguk-anggukkan kepalanya, karena hal itu pasti terjadi. Diandra pasti teramat sangat kecewa, marah dan merasa dikhianati. Tapi, mau bagaimana lagi. Dirinya lah yang lebih dulu mencintainya, bahkan ia juga yang mendapatkan hatinya.
"Andai saja kalian tidak bertemu saat itu, mungkin aku tidak akan sebingung ini." Menghela nafas panjang, Devian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan kemudian mendongakan kepalanya.
"Maafkan aku, semua itu salahku. Seharusnya aku tidak memberikan harapan seperti itu padanya, seharusnya aku tidak mencari sosokmu dari Kakakmu sendiri. Maafkan aku."
Dengan cepat Devian duduk tegak, menatap sayang kekasihnya itu. "Tidak apa, karena pada dasarnya semua itu adalah salahku. Tidak seharusnya aku pergi tiba-tiba seperti itu, memutuskan hubungan tanpa kejelasan dan menghilang tanpa kabar."
"Tapi, itu juga sal---"
"Shttt, kau tidak akan seperti itu jika aku tidak meninggalkanmu." Devian meraih cangkir kopinya, dan menyesapnya dengan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)