Kedatangan Profesor Bima sebagai pengganti Profesor Law memunculkan kontroversi di sekolah. Profesor Bima, seorang ahli teknologi yang ambisius, memiliki pandangan yang berbeda. Dia mendukung pengembangan teknologi robotik tanpa batas, percaya bahwa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tommy masih menunggu di luar ruangan interogasi, hatinya berdebar cemas. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan penjaga keluar bersama Ravi, Aria, dan Kiran. Tommy segera mendekat dan bertanya dengan nada cemas, "Apakah kalian mendapat hukuman?"
Penjaga itu hanya mendorong Tommy ke samping tanpa berkata apa-apa. Mereka mengantarkan ketiganya ke asrama, ke kamar mereka masing-masing. Tommy mengikuti dari belakang, memperhatikan dengan saksama setiap gerak-gerik penjaga. Setibanya di kamar, penjaga tersebut berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada yang masuk atau berkomunikasi dengan Ravi, Aria, dan Kiran.
Tommy tahu dia harus segera bertindak. Dia bergegas menemui anggota kelompoknya yang lain. Mereka berkumpul di tempat seperti biasa dan Tommy segera bertanya, "Siapa yang bisa membantu menyusupkanku ke kamar Ravi?"
Gonzales, seorang anggota yang dikenal lincah dan cerdik, mengangkat tangannya. "Aku bisa melakukannya. Aku tahu jalan pintas yang bisa membawa kita ke sana tanpa terlihat."
Tommy merasa lega mendengar itu. "Bagus, lewat mana jalan pintasnya?"
Gonzales tersenyum percaya diri. "Serahkan saja padaku. Hal seperti ini gampang."
Tommy mengajak Gonzales untuk segera bergerak, namun Gonzales menggeleng. "Aku sedang sibuk sekarang. Kita lakukan jam 6 sore nanti."
Tommy menghela napas pasrah dan mengangguk setuju. "Baiklah, kita bertemu di tangga nanti."
Sore itu, tepat jam 6, Tommy menunggu Gonzales di tangga. Setelah beberapa menit, Gonzales muncul dengan senyum tenang dan membawa persiapan alat. "Ayo, kita harus bergerak cepat." Desak Tommy.
Mereka berdua naik ke atap gedung dan bergerak hati-hati menuju balkon kamar Ravi. Gonzales membantu Tommy menavigasi rute yang sempit dan licin di atap. Setelah beberapa saat, dengan peralatan keamanan yang dibawa Gonzales mereka berhasil mencapai balkon kamar Ravi.
Ravi, Aria, dan Kiran yang sedang berbicara pelan di dalam kamar terkejut melihat Tommy dan Gonzales muncul di depan mereka. Ravi segera membuka pintu balkon.
"Tommy? Gonzales? Bagaimana kalian bisa ke sini?" tanya Ravi dengan nada terkejut.
Tommy segera masuk dan berkata, "Kami harus memastikan kalian baik-baik saja. Apakah kalian mendapat hukuman?"
Ravi mengangguk dengan wajah serius. "Iya, kami mendapat hukuman skorsing selama lima hari di sel tahanan siswa. Kami akan dimasukkan ke sel jam 9 malam nanti."
"Sialan memang," Tommy mengumpat pelan, merasa frustrasi dengan situasi yang semakin sulit. Dia mengeluarkan alat kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada Ravi. "Ini alat komunikasi. Gunakan ini untuk tetap berhubungan dengan kami, karena di sel kalian tidak diperbolehkan membawa apapun."
Ravi menerima alat itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Tommy. Ini akam berguna." Ravi melihat ke arah pintu sebentar, "Sebelum mereka mengetahui keberadaan kalian sebaiknya kalian segera pergi."