Kedatangan Profesor Bima sebagai pengganti Profesor Law memunculkan kontroversi di sekolah. Profesor Bima, seorang ahli teknologi yang ambisius, memiliki pandangan yang berbeda. Dia mendukung pengembangan teknologi robotik tanpa batas, percaya bahwa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam delapan pagi, aula pengadilan balai kota dipenuhi oleh suasana tegang. Seluruh ruangan dipenuhi oleh wartawan, pengacara, dan para penonton yang ingin menyaksikan persidangan ulang ini. Sejak malam sebelumnya, Aria telah tiba di kota dengan wajah lelah, duduk di samping Tommy. Aria tampak lelah dengan raut wajah yang penuh kecemasan, terus-menerus memikirkan Ravi yang masih belum ditemukan. Tommy yang duduk di sampingnya berusaha untuk tetap fokus, meski jelas tampak bahwa pikirannya juga terganggu. Mereka diam, menyimak jalannya persidangan dengan penuh perhatian.
Sidang kali ini adalah untuk membacakan tuduhan terhadap Profesor Bima, yang didakwa atas berbagai kejahatan serius. Saksi pertama, Bu Laila, telah memberikan keterangannya dengan rinci. Namun, saat tengah persidangan, suasana mendadak berubah ketika salah satu hakim membisikkan sesuatu pada Hakim Ketua. Hakim Ketua, seorang pria dengan sikap tegas dan wibawa, mengangguk perlahan sebelum mengambil keputusan.
“Sidang akan melanjutkan dengan memanggil saksi terakhir,” ujar Hakim Ketua dengan suara yang bergema di seluruh ruangan.
Pintu ruang aula terbuka lebar, dan semua mata tertuju pada sosok yang memasuki ruangan. Tuan Herlangga, ketua Dewan Kota, muncul dengan mengenakan jas formal, namun dia duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang asisten. Pandangan Herlangga yang paruh baya, dengan rambut yang mulai memutih, terfokus pada arah depan. Meskipun dia tampak sehat setelah pulih dari kecelakaan yang membuatnya koma, aura keseriusannya jelas terasa. Josh, yang ada di antara para penonton, tampak terkejut melihat sosok itu, mengenali Herlangga sebagai orang yang pernah menolongnya.
Hakim Ketua mempersilakan Tuan Herlangga untuk memberikan kesaksian. Suasana dalam ruangan menjadi semakin hening saat Herlangga memulai keterangannya.
“Saya ingin mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi,” kata Herlangga dengan suara yang tegas namun penuh emosi. “Beberapa waktu lalu, saya mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan saya koma. Setelah pulih, saya mengetahui bahwa kecelakaan tersebut adalah hasil dari konspirasi jahat yang dirancang oleh Profesor Bima.”
Herlangga melanjutkan dengan menjelaskan dengan pelan, "Profesor Bima adalah penyebab utama kecelakaan yang saya alami. Bima membayar seseorang, seorang tahanan, untuk menubruk mobil saya dengan truk kargo besar." Rekaman CCTV dari kejadian tersebut kemudian diputar di layar besar di ruang aula, menampilkan gambar kecelakaan yang sangat dramatis. Seluruh ruangan menjadi heboh ketika para wartawan mulai berteriak dan mengajukan pertanyaan.
Herlangga terus melanjutkan, “Para bodyguard saya berhasil menangkap tahanan tersebut, dan dia mengaku bahwa perintah untuk melakukan kecelakaan itu datang langsung dari Profesor Bima. Ini adalah bukti yang tidak bisa dibantah, dan saya menyerahkan pada Hakim Ketua agar Profesor Bima dihukum seberat-beratnya.”
Wajah Profesor Bima tampak muram saat melihat bukti-bukti tersebut. Suasana di ruangan semakin memanas dengan sorakan dari para wartawan yang tampaknya semakin tidak sabar untuk menulis laporan mereka. Beberapa dari mereka bahkan mulai bertanya kepada pengacara Bima tentang apa yang bisa mereka katakan untuk membela klien mereka.