Chapter 25: Hope Amidst Despair

33 19 20
                                        

Pasien bernama Kiran mengalami koma, dan kemungkinan besar akan kehilangan ingatannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pasien bernama Kiran mengalami koma, dan kemungkinan besar akan kehilangan ingatannya...





Ravi memandangi Kiran dari balik kaca ruang ICU, perasaan hancur menguasainya. Bunyi monoton dari mesin monitor jantung dan alat bantu pernapasan terdengar samar, seolah menghantam keras di telinganya. Wajah Kiran yang biasanya ceria dan penuh semangat kini tampak pucat dan tak berdaya, tertutupi oleh berbagai alat medis.

“Bagaimana bisa?” gumam Aria yang berdiri di sampingnya, suaranya bergetar menahan tangis. Ravi tidak menjawab, matanya terus terpaku pada Kiran. Kilasan ingatan berputar di kepalanya—saat mereka bersama, saat belum terjadi semua ini. Namun kini, sahabatnya terbaring tanpa daya, dan kemungkinan besar, jika Kiran bangun, dia tidak akan ingat siapa mereka, siapa dirinya sendiri.

Dokter itu telah mengatakan bahwa saraf otak Kiran terganggu. Kemungkinan kecil untuk hidup, bahkan andai pun Kiran berhasil melewati masa kritis ini, dia mungkin akan kehilangan ingatan atau tidak akan menjadi Kiran yang mereka kenal lagi. Kata-kata dokter itu berulang kali terngiang di pikiran Ravi, menghantui setiap sudut benaknya.

"Ravi..." Aria memanggil pelan dengan suara bergetar. Ravi mengerti, mengangguk pelan sambil mengusap punggung sahabatnya, meskipun hatinya terasa begitu berat. Ia tahu apa yang harus dilakukan, namun kenyataan bahwa Kiran mungkin tidak akan mengenali mereka lagi membuatnya patah semangat.

Di sudut lorong, Tommy masih duduk dengan kepala tertunduk, air mata jatuh di pipinya. Dia terisak pelan, kata-kata permintaan maafnya terus keluar tanpa henti. "Maafkan aku... ini semua salahku... Kiran menderita karena aku," ucapnya berulang-ulang, suaranya serak dan penuh penyesalan.

Ravi menatap Tommy dari kejauhan, kesedihan berkecamuk dalam dirinya. Ia ingin menyalahkan Tommy, ingin berteriak dan meluapkan semua perasaan yang membara di hatinya, tetapi yang ia lihat hanyalah seorang anak laki-laki yang hancur, yang terbebani oleh rasa bersalah yang tak terhingga.

Ravi melangkah pelan mendekati Tommy. "Tommy," panggilnya lembut. Tommy tak merespons, kepalanya tetap tertunduk.

Tommy menggelengkan kepala, air mata mengalir semakin deras. “Aku yang mengkhianati kalian... aku yang membuat Kiran dalam keadaan seperti ini... Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.” Suaranya pecah dalam isakan yang tertahan.

Ravi akhirnya melangkah maju, berdiri di depan Tommy. Ia menatap temannya  yang dipenuhi rasa bersalah, dan untuk pertama kalinya, Ravi merasakan kelelahan yang luar biasa. "Tommy, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi," ucap Ravi dengan penuh kehangatan. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memastikan perjuangan kita tidak sia-sia."

Tommy mengangkat kepalanya perlahan, menatap Ravi dengan mata yang bengkak dan merah. “Apa yang harus kita lakukan, Ravi?” tanyanya lirih, suaranya penuh harapan meski terbungkus dalam kesedihan.

Di lorong yang sunyi itu, Frey berdiri dengan gelisah, menatap teman-temannya yang larut dalam kesedihan, dia ikut merasakan itu. Semakin banyak waktu berlalu, semakin besar ketegangan yang dirasakannya. Hati kecilnya juga ikut terpukul, Ravi dan Tommy ada di dekatnya, sama-sama mencoba mengumpulkan keberanian.

❝ᴛᴇᴄʜ ᴡᴀʀꜱ: ᴡᴇ ꜱᴛʀɪᴋᴇꜱ ʙᴀᴄᴋ❞ || ᴇɴʜʏᴘᴇɴ [ᴇɴᴅ]✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang