Respati dan Tyas mencoba untuk tabah dan menyemangati putri mereka. Karna setelah Anindya dikeluarkan dari kampus, Anindya mengurung dirinya di kamar. Tyas khawatir takut terjadi sesuatu dengan Anindya karna makanan yang taruh di depan kamar selalu utuh seperti tidak disentuh sedikit pun.Ini sudah 3 hari, Tyas mencoba untuk membujuk Anindya. Bila terus begini, bukan hanya membahayakan kandungannya saja tapi Anindya juga. Anindya tak pernah tak makan hingga 3 hari lamanya.
Tok tok tok
"Anin, ini Bunda. Bunda boleh masuk?"
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Bunda khawatir. Ini udah 3 hari kamu ngurung diri kamu di kamar. Udah 3 hari kamu gak makan, kasian calon anak kamu kalau kamu siksa begini."
Tak ada sahutan. Namun Tyas dapat mendengar suara Anindya yang sedang memuntahkan sesuatu. Memang ini bukan yang pertama kalinya Anindya mual-mual, tapi Anindya belum makan sedikit pun. Tyas khawatir tubuh anaknya semakin lemas.
"Astaga, Ayah!"
"Ayah, cepet kesini!"
Respati berlari dengan raut wajah panik,"Kenapa Bunda? Anin kenapa?"
"Anin muntah di dalam. Bunda takut Anin semakin lemas karna Anin belum makan apapun selama 3 hari ini. Tolong dobrak pintunya, Ayah."
Respati mengangguk lalu mengambil ancang-ancang sebelum bergerak mendorong pintu tersebut dengan tubuhnya hingga pintu terbuka. Respati dan Tyas memasuki kamar anaknya. Mereka terkejut melihat Anindya pingsan di kama mandi.
"Astagfirullah, Anin!"
"Ayah, cepet gendong Anin. Bunda mau suruh Pak Tejo siapin mobil."
•••
Tyas menghela nafas lega melihat Anindya mulai membuka matanya. Tyas mengenggam tangan Anindya yang terbalut selang infus, memberinya kecupan hangat.
"Ayah, sini. Anin udah sadar."
"Beneran Bun? Alhamdulillah."Respati menghampiri istrinya.
"Bunda, Ayah, kita dimana sekarang?"Tanya Anindya dengan suara lirih. Wangi khas obat-obatan mulai menyeruak ke dalam indera penciuman Anindya.
"Kamu di rumah sakit, sayang. Tadi pagi Bunda anterin makanan buat kamu, terus denger kamu muntah-muntah. Setelah Bunda dan Ayah masuk ke kamar, kamu udah pingsan."Jawab Tyas.
"Untungnya kandungan kamu masih bisa diselamatkan. Dokter tadi udah kasih suntikan vitamin buat kamu. Kamu harus banyak makan dan minum karna tubuh kamu sangat lemas."Ucap Respati.
Anindya tersenyum kecut. Kenapa janin ini tidak mati saja sih? Padahal Anindya sengaja tidak makan dan minum dengan harapan ia keguguran. Namun percuma saja, hanya menyiksa dirinya sendiri.
"Anin, lain kali jangan begini lagi ya. Bunda tau kamu capek. Tapi jangan berpikir untuk menyiksa diri kamu sendiri. Bunda gak mau kehilangan kamu, sayang. Kamu itu harta berharga di dunia ini yang Bunda punya. Kalau kamu hancur, Bunda juga ikut hancur."Ujar Tyas sedih.
"Bunda benar, Anin. Kalau kamu berat hidup disini. Kita pindah ke kota lain. Supaya kamu bisa memulai hidup baru dan melupakan semua rasa sakit kamu disini."Kata Respati.
Kedua mata Anindya berkaca-kaca, ternyata orang tuanya sangat mengkhawatirkan keadaannya dan peduli padanya. Padahal Anindya sudah membuat mereka kecewa, Anindya semakin merasa bersalah.

KAMU SEDANG MEMBACA
REIGA : Ayah Sambung Anakku [√]
ChickLitHamil diluar nikah dan dihamili pacarmu tapi pacarmu tidak mau bertanggung jawab? Bagaimana rasanya? Anindya merasa sangat hancur dan tidak ingin melanjutkan hidupnya. Namun ada seseorang yang bersedia menjadi tempat bersandar untuknya bahkan menj...