Setelah pulang dari rumah sakit, Respati dan Tyas tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun Anindya dapat melihat siratan kecewa yang begitu dalam padanya. Tyas hanya diam sambil menenangkan dirinya yang menangis penuh rasa penyesalan.Makan malam yang biasanya penuh kehangatan dan disertai obrolan ringan oleh Ayahnya, kini terasa dingin dan hening. Jujur Anindya tak berselera makan jika suasananya begini, apalagi kedua orang tuanya mengabaikan Anindya setelah mengetahui kehamilannya.
"Ayah, Bunda, boleh Anin bicara sekarang? Anin gak tahan terus diabaikan kayak gini."
Lagi-lagi mereka hanya diam. Bahkan menatapnya saja tidak. Anindya tersenyum getir. Apa mereka akan berencana mengusirnya karna tak sudi menampung anak yang hanya menjadi aib keluarga. Jujur Anindya tak siap.
"Anin minta maaf udah buat Ayah dan Bunda kecewa. Anin gak bisa menjaga kehormatan Anin padahal Ayah dan Bunda udah membesarkan Anin, mengajarkan Anin untuk lebih melindungi diri sendiri. Anin sangat menyesal. Kalau waktu bisa diulang, Anin balik ke masa itu. Anin gak mau hal ini terjadi."Ujar Anindya disertai tangisan.
"Siapa yang sudah menghamili kamu? Apa ini ulah pacar kamu?"Tanya Respati setelah lama terdiam.
"Iya, Ayah."Lirih Anindya.
Respati menatap Anindya tajam,"Inilah alasan Ayah gak mengizinkan kamu berpacaran dulu. Ayah takut Ayah kecolongan. Apalagi kamu berpacaran dengan laki-laki seperti Gino. Waktu pertama kali Ayah bertemu Gino, Ayah sudah tau kalau laki-laki itu pergaulannya tidak benar. Kenapa sih kamu tidak nurut sama Ayah?!"
Anindya menunduk takut,"Maaf Ayah, Anin nyesel."
Anindya takut bila Respati sudah marah, apalagi masalahnya serius seperti ini. Ayah mana yang tidak akan marah bila anak perempuan satu-satunya hamil diluar nikah. Respati pasti merasa gagal menjadi seorang Ayah karna tak bisa menjaga putrinya.
"Ares tenang, jangan emosi. Kamu buat Anin takut."Ujar Tyas menenangkan suaminya.
Tyas terkejut saat dokter mengatakan bahwa Anindya sedang hamil. Bahkan Tyas sampai menyuruh dokter tersebut untuk test ulang takut hasilnya tertukar dengan pasien lain. Namun setelah Tyas pikir-pikir lagi, gejala yang Anindya alami memang seperti gejala hamil.
Tyas sebenarnya sedikit curiga saat Anindya terus mengeluh mual-mual setiap pagi pusing, mual mencium parfumnya sendiri. Namun Tyas tidak ingin berpikir negatif, mungkin Anindya hanya sakit asam lambung karna Anindya sering telat makan.
Ternyata dugaannya memang benar. Putrinya hamil tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Tyas tentu sangat kecewa, hatinya sakit karna Anindya bisa semudah itu menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang belum sah menjadi suaminya.
"Anin, apa Gino sudah tau kamu hamil?"
"Udah Bunda. Saat Anin pertama kali coba pakai test pack dan hasilnya positif, Anin langsung kasih tau Gino. Tapi Gino bilang dia butuh waktu sendiri."Jawab Anindya tak berani menatap wajah Respati yang siap menyemburkan amarahnya.
"Kamu lihat kan? Laki-laki yang kamu cintai itu tidak serius sama kamu. Kalau dia serius dan gentleman, pasti dia akan langsung tanggung jawab. Sebelum ngelakuin itu, dia udah mikir atas resiko yang akan ditanggungnya nanti. Tapi pacar kamu itu malah menghilang dan lari dari tanggung jawabnya!"
"Sebelum Gino tau tentang kehamilan Anin, Gino udah ngelamar Anin. Anin pikir Gino akan langsung tanggung jawab dan mempercepat tanggal pernikahan kami, tapi Anin gak nyangka Gino malah menghilang tanpa kabar. Anin udah cari Gino di rumahnya tapi Gino gak ada. Anin gak tau harus gimana lagi."
"Anin sangat menyesal Ayah, Bunda. Anin mohon maafin Anin. Walaupun berat menerima kehamilan ini, Anin mau minta dukungan Ayah dan Bunda. Anin gak akan sanggup melanjutkan hidup kalau kalian buang Anin juga."Ujar Anindya, kedua matanya sembab karna tangisannya tak berhenti.

KAMU SEDANG MEMBACA
REIGA : Ayah Sambung Anakku [√]
Chick-LitHamil diluar nikah dan dihamili pacarmu tapi pacarmu tidak mau bertanggung jawab? Bagaimana rasanya? Anindya merasa sangat hancur dan tidak ingin melanjutkan hidupnya. Namun ada seseorang yang bersedia menjadi tempat bersandar untuknya bahkan menj...