Anindya terkejut saat melihat Reiga yang duduk di samping ranjangnya sambil bermain ponsel. Kemana Niskala? Kenapa hanya ada mereka berdua disini? Padahal tadi Anindya sudah mengingatkan agar menyuruh Reiga pulang saja. Apa Niskala menghianatinya?"Lo udah bangun?"
"Niskala mana? Kenapa kamu yang ada disini?"
"Niskala ada urusan penting, jadi gue yang gantiin dia jagain lo disini sampai orang tua lo datang."Jawab Reiga entah jujur atau tidak.
Anindya memalingkan wajahnya,"Kamu pulang aja. Aku gak butuh kamu. Aku bisa sendirian disini."
"Nggak. Gue diberi amanah sama orang tua lo buat jagain lo."
"Yang disuruh jagain aku itu Niskala, bukan kamu!"Kesal Anindya.
"Itu tadi, sebelum Niskala pergi. Lagi pula Niskala udah ngasih tau orang tua lo kalau gue yang bakal jagain lo. Gue laki-laki yang dapat dipercaya, gak kayak si bangsat itu."Balas Reiga.
"Terserah kamu lah. Aku capek!"Beradu mulut dengan Reiga tidak akan ada habisnya. Dan pastinya Anindya tidak akan pernah menang melawan Reiga.
Reiga terkekeh.
"Kondisi lo gimana? Udah merasa baikan?"
Anindya diam. Kedua matanya menatap lurus ke depan tak ingin menatap Reiga sedikit pun.
"Gue bawain buah-buahan buat lo. Gue gak tau buah kesukaan lo apa, gue beli buah yang bagus dan aman untuk ibu hamil."Ujar Reiga.
"Makasih. Lain kali kamu gak usah repot-repot. Aku udah bilang kan sama kamu, berhenti bersikap sok peduli sama aku. Aku gak butuh rasa kasihan kamu."Balas Anindya datar.
"Gue udah bilang gue bukan kasihan sama lo. Gue peduli sama lo dan kandungan lo. Gue sayang sama lo, Anin. Gue serius waktu gue bilang gue pengen ngelamar lo."
Anindya diam tak ingin menanggapi.
"Kenapa sih lo pengen banget bunuh diri? Plis stop, berhenti nyiksa diri lo sendiri."Lanjut Reiga menyinggung penyebab Anindya dirawat saat ini.
"Jangan ikut campur masalah aku, Reiga. Kamu udah selesai jenguk aku kan? Silahkan keluar. Aku capek."Usir Anindya.
Reiga menggenggam tangan Anindya yang terbalut selang infusan membuat Anindya menatapnya kaget,"Anin, berhenti bersikap kayak gini. Lo buat gue khawatir. Gue mohon Terima lamaran gue ya? Gue janji akan bahagiain lo dan memberikan keluarga yang lengkap buat anak ini."
Anindya menepis tangan Reiga dan menatapnya tajam,"Aku gak mau. Sadar Reiga, kamu itu sudah mempunyai tunangan. Yang harus kamu lamar itu tunangan kamu bukan aku!"
"Tapi bukan dia yang gue mau. Gue cuma mau lo, Anindya. Gue sayang sama lo dari dulu sampai sekarang. Kalau aja gue gak keduluan Gino, pasti akhirnya gak akan kayak gini kan?"Reiga tersenyum sendu.
"Lo tau Nin? Gue juga nyesel, nyesel banget. Andai dulu gue lebih berani dan nyatain perasaan gue lebih dulu pasti kejadiannya gak akan kayak gini. Andai gue gak rela mengalah buat Gino. Gue merasa gagal karna gak bisa melindungi wanita yang gue cintai."
"Gue sakit dan hancur dengan keadaan lo. Rasa penyesalan dan rasa bersalah terus menghantui gue setiap saat. Gue takut lo ngelakuin sesuatu yang gak diinginkan saat lo merasa frustasi."
Reiga kembali menggenggam tangan Anindya kembali dan menatapnya dalam,"Satu hal yang harus lo tau, gue selalu mencintai lo. Posisi lo gak pernah tergantikan. Gue tunangan sama Kinara karna dijodohkan. Gue gak bisa nolak karna itu permintaan terakhir kakeknya Kinara, saat itu gue pikir gue bisa lupain lo dengan adanya Kinara. Tapi ternyata gak bisa, posisi lo terlalu kuat dan gak bisa digantikan oleh wanita mana pun."

KAMU SEDANG MEMBACA
REIGA : Ayah Sambung Anakku [√]
Literatura FemininaHamil diluar nikah dan dihamili pacarmu tapi pacarmu tidak mau bertanggung jawab? Bagaimana rasanya? Anindya merasa sangat hancur dan tidak ingin melanjutkan hidupnya. Namun ada seseorang yang bersedia menjadi tempat bersandar untuknya bahkan menj...