Happy Reading
💚
Di hadapan Azalea sekarang, Sekolah Menengah Atas tempat di mana Devanka bekerja terlihat ramai. Azalea mendadak mendapatkan ide untuk membuatkan Devanka bekal makan siang, dan dengan beraninya Azalea mengantarkan bekal itu langsung ke sekolahannya.
Melihat tempat pos satpam yang kosong, Azalea langsung menuju lobi yang hanya tinggal lurus dari gerbang sekolah. Azalea disambut oleh salah satu guru piket yang jaga hari ini.
“Cari siapa, ya?” tanya guru laki-laki itu.
Azalea melirik cepat sekeliling tempatnya yang terlihat sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.
“Cari Mas Anka, eh, Devanka. Saya cari Devanka.”
“Oh, Pak Devan, lagi ngajar di lapangan voli sebelah. Mau dipanggilin?” tawar guru itu.
“Boleh.”
“Boleh duduk dulu di situ.” Tunjuk guru itu pada bangku panjang di depan ruang yang bertuliskan kepala sekolah.
Azalea duduk di bangku yang ditunjuk tadi. Dia meletakkan makanan yang dibawanya di sampingnya. Dengan menunggu Devanka, Azalea bermain ponselnya.
“Aza?”
Mendengar namanya dipanggil, Azalea mendongak dan menemukan Devanka yang sudah datang.
“Kamu kenapa ke sini?”
“Mau nganterin bekal makan siang. Aku masakin ini buat Mas Anak.” Azalea mengambil bekalnya dan menunjukkannya pada Devanka.
Devanka tidak menyangka jika Azalea akan ke sekolahnya hanya untuk mengantarkan bekal makan siang. Sejauh inikah perlakuan yang dilakukan Azalea untuk menunjukkan rasa cintanya pada Devanka.
“Tumben?” Devanka duduk di samping Azalea dan mengambil bekal itu.
“Tiba-tiba kepikiran gitu.”
Suara bel istirahat berbunyi nyaring. Halaman yang sebelumnya sepi sekarang sudah mulai diisi anak-anak yang berlalu lalang.
Azalea melihat satu guru perempuan yang terlihat muda mendekat ke arah dirinya dan Devanka duduk. Azalea menatap curiga guru itu, dia merasa ada yang tidak beres dengan guru itu.
“Pak Devan, nanti data anak-anak yang ikut lomba dikasih ke aku di perpustakaan ya?” ucap Guru perempuan itu dengan nada lembut yang menurut Azalea sangat menjijikkan.
“Iya, nanti aku ke perpustakaan,” balas Devanka juga dengan lembut.
Azalea dengan cepat menoleh ke Devanka. Menyebalkan sekali Devanka juga harus membalasnya dengan lembut.
“Pak Devan ikut ke kanti makan sama yang lain?” tawar guru itu lada Devanka yang membuat Azalea mendengus kasar.
“Enggak tau nanti. Aku udah ada yang bawain bekel.”
Guru itu melirik ke Azalea dengan tatapan tak suka, lalu mengangguk dan pergi dari sana.
“Aw, kenapa diinjek kaki aku, Aza?”
Setelah guru perempuan itu berbalik pergi, Azalea dengan cepat menginjak kaki Devanka untuk menyalurkan rasa kesalnya.
“Pengin aja.”
“Mau ikut makan di kantin?” tawar Devanka pada Azalea.
“Emang nggak papa kalau ada orang asing makan di kantin khusus guru?”
“Kata siapa kamu orang asing, kamu istri aku,” dengan santainya Devanka menjawab tanpa memedulikan jika ada guru lain atau murid yang lewat di depan mereka.
Wajah Azalea memanas mendengar pernyataan Devanka. Perutnya terasa geli saat Devanka mengatakan kalimat itu. Sekali lagi Azalea rasanya ingin berteriak.
Devanka benar-benar mengajak Azalea menuju kantin khusus guru yang ada di sekolahan itu. Selama Azalea berjalan di samping Devanka, tatapan setiap murid selalu mengikuti langkah mereka. Bahkan, saat memasuki kantin pun tak lepas dari tatapan para guru yang sedang makan di sana.
“Pak Devan ajak siapa, nih.” Ujar salah satu guru dengan name tag Rian yang langsung duduk di sebelah Devanka.
“Sama istri,” lagi-lagi Devanka menjawabnya seperti itu.
“Oh, ini istrinya Pak Devan, toh. Beda banget sama pas jadi pengantin,” kata Guru Rian dengan sedikit gaduh.
Azalea meringis mendengarnya. Dia sendiri juga merasa seperti tidak mengenali dirinya sendiri saat menjadi mempelai perempuan. Maklum, Azalea jarang sekali memaki make up sebelum-sebelumnya.
Devanka menikmati makanan yang Azalea masak, sedangkan Azalea sendiri hanya menyaksikan Devanka yang menurutnya sangat sexy itu karena bulir keringat yang masih menetes di sekitar dahi dan lehernya.
“Udah liatinnya. Nanti bisa dilanjut di rumah lagi,” kata Devanka pelan.
“Terlalu sia-sia kalau nggak diliat.”
“Itu diliatin sama guru-guru lain”
“Biarin aja,” balas Azalea lagi. Biar saja mereka para guru melihat Azalea, dia tidak peduli. Yang Azalea pedulikan hanya manusia di depannya yang sudah mengambil hatinya itu.
---
Malam ini Azalea mengajak Devanka untuk mencari jajanan di Alun-alun kota. Ke duanya berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari makanan yang mereka mau, lebih tepatnya yang Azalea mau. Karena Devanka hanya mengikuti dan menjaganya saja.
“Mas mau apa?” tanya Azalea. “Itu, apa itu, apa itu, atau itu.” Lanjutnya dengan menunjuk setiap penjual yang ada.
“Nggak pengin apa-apa, kamu aja yang beli.” Jawabnya dengan menyaksikan penjual di sana.
“Oke, kita cari lagi, ya?”
Devanka mengangguk, lalu berjalan mengikuti Azalea.
Azalea berhenti di salah satu penjual jajanan bakar. Dengan antusias Azalea memilih makanan yang akan dibelinya.
Menunggu makanannya dibakar, Azalea mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera.
“Mas Anka, coba liat sini. Ayo, foto,” Azalea memanggil Devanka yang sedang memperhatikan sekitar Alun-alun.
Mendapati Devanka yang sudah menoleh ke arahnya, Azalea langsung saja merangkul bahu Devanka dan menempelkan pipinya dengan pipi Devanka. Tombol shutter Azalea tekan untuk mengambil foto ke duanya. Azalea tersenyum puas dengan hasil fotonya walau yang Devanka tampilkan hanya raut wajah datar tanpa ekspresi.
“Pesanannya sudah jadi, Kak,” ucap penjual itu pada Azalea yang fokus dengan ponselnya.
“Oh, Iya. Makasih, Kak.” Ucap Azalea dengan mengambil plastik bungkus jajanannya.
Devanka yang melihat Azalea sudah mendapatkan jajanan mengajaknya untuk duduk di pinggir lapangan Alun-alun dengan menatap kendaraan yang berlalu lalang.
“Mas Anka mau?” tawar Azalea dengan menyodorkan satu tusuk makanannya.
“Kamu aja yang makan.”
Karena Devanka menolak tawarannya, Azalea langsung melahap makanan itu. Matanya dengan setia memperhatikan kendaraan atau pun orang yang lewat di jalan.
Sudah habis jajanan yang dibelinya, Azalea mengajak Devanka untuk melanjutkan jalannya mengelilingi lapangan Alun-alun kota.
“Pak Devan?”
Azalea menoleh ke seseorang yang sudah mengganggu perbincangannya dengan Devanka. Dia kembali bertemu dengan guru perempuan yang ditemuinya di sekolah Devanka tadi siang.
Azalea menoleh ke Devanka yang menanggapi panggilan guru perempuan itu dengan mengangguk. Dengan cepat Azalea menautkan tangan kirinya dengan tangan kanan Devanka. Tidak lupa badannya semakin dia dekatkan ke Devanka.
Perempuan itu yang melihat pergerakan Azalea menatap tajam ke arahnya. Ingin sekali dia mendorong Azalea menjauhi Devanka.
“Pak Devan, dia siapanya Pak Devan, ya?” perempuan itu bertanya dengan tatapan yang berubah lembut saat menatap Devanka.
Devanka menolehkan kepalanya ke Azalea, “Dia? Dia istri saya Bu Ziana.”
Perempuan yang disebut dengan Bu Ziana itu terkejut. Dis menatap Azalea dengan tersenyum miring.
“Tapi sangat jauh berbeda dengan Pak Devan, ya? Dia terlihat bar-bar dan tidak feminin untuk seorang Pak Devan yang berwibawa,” ucapnya dengan nada meremehkan.
Azalea merubah ekspresinya menjadi datar dan menatap tajam Bu Ziana. Dia melepaskan tautannya dengan Devanka, lalu berjalan mendekat ke Bu Ziana.
Tatapan Azalea menyorot tajam ke mata Bu Ziana.
“Mas Anka saja yang menjadi suamiku tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Anda siapa dengan beraninya mengatakan itu,” ucap Azalea dengan penekanan.
Baru saja Azalea akan membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya kembali dia rapatkan karena Devanka yang berbicara.
“Dia perempuan saya, istri saya, Bu Ziana tidak berhak mengatakan itu pada perempuan saya. Bagaimana pun perempuan saya, dia akan tetap cocok untuk saya,” Devanka ikut menyela pada pembicaraan Azalea dan Bu Ziana. Devanka tidak senang jika Azalea dikatakan seperti itu oleh orang lain. Baginya, Azalea tetap cocok dengan dirinya bagaimana pun penampilan dan sifatnya.
Azalea tersenyum penuh kemenangan pada Bu Ziana. Azalea juga kembali menautkan tangannya pada tangan Devanka. Lalu tanpa meminta izin pada Devanka, Azalea mencium lagi pipi Devanka di depan Bu Ziana secara langsung.
Bu Ziana yang melihat itu langsung pergi dengan perasaan dongkol di hatinya. Jika bertemu dengan Azalea lagi, Bu Ziana ingin membalasnya suatu saat.
Azalea dan Devanka kembali berjalan, keduanya sama-sama diam dengan tangan yang masih bertaut. Azalea tidak berniat membuka suaranya sama sekali, dia masih malu karena mencium Devanka lagi tanpa izinnya.
Namun, Azalea tidak merasa bersalah karena sudah mencium Devanka dua kali hari ini. Ini sebagai bukti bahwa Azalea tidak main-main dengan perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandung Silsilah
RomansaJalinan ikatan sakral pada dua insan yang terikat oleh persaudaraan. Azalea harus menggantikan posisi mempelai perempuan pada pernikahan sepupunya. Tanpa bisa menolak, Azalea menerimanya. Kehidupan dan kedekatan membemat Azalea lama-lama menaruh hat...
