Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Azalea langsung masuk ke dalam rumah. Dia membawa kakinya menyusuri rumah mencari Bundanya berada. Tatapannya mendapati wanita yang dicintainya berada di ruang belakang rumah.
"Nyonya besar!" panggil Azalea dengan semangat.
"Aza, kapan kamu dateng, Sayang?" Sambut Bunda Daisy dengan memeluk Azalea dengan penuh kerinduan.
Azalea membalas pelukan Bundanya dengan sayang, dia sangat merindukan wanita ini. "Barusan, My Bun."
Bunda Daisy menuntun Azalea menuju ruangan tempat biasanya keluarganya berkumpul. Kemudian pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan camilan untuk Azalea.
"Wah, beneran tuan putri," candanya Azalea yang melihat Bundanya menyajikan minuman.
"Kamu dari rumah apa dari mana, Aza?"
"Habis ketemu sama temen-temen langsung mampir ke sini. Kangen Nyonya besar Tuan besar."
Azalea mencomot kue yang disajikan Bundanya, dia amat merindukan kue buatan Bunda Daisy.
"Gimana tinggal sama Anka?"
Mendapat pertanyaan dari Bunda Daisy, Azalea menghentikan kunyahannya. Lalu menatap Bundanya itu, "Biasa aja. Nggak ada yang menarik." Balasnya dengan kembali menyuapkan kue yang ada di tangannya.
"Masa nggak ada yang menarik, Aza. Bentar, kamu ke sini bilang sama Anka nggak?"
Azalea dengan santainya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Aduh! Kenapa dijitak kepala aku, Bun," ucap Azalea terkejut.
"Kamu ke sini nggak bilang sama Anka. Kalau dia pulang kamu nggak di rumah gimana. Cepet chat Anka, kasih tau kalau kamu di rumah," Jelas Bunda Daisy.
"Iya, iya."
Azalea mengambil ponselnya di tas. Membuka room chat dengan Devanka, dia mengabari kalau dirinya berada di rumahnya dulu.
Cukup lama Azalea berbincang dengan Bunda Daisy untuk melepas rindu, Dia sekarang berada di kamarnya dulu. Ditatapnya kamar itu penuh kerinduan. Tidak ada yang berubah dari kamarnya itu, hanya saja terasa kosong karena barang-barang yang Azalea ambil.
Azalea mengistirahatkan tubuhnya di kasur dengan duduk bersila. Pikirannya kembali menilik kehidupannya dengan Devanka. Sekarang semuanya sudah berubah dan dia sudah satu bulan lebih tinggal dengan Devanka, tapi tetap saja masih terasa aneh. Bohong jika Azalea tidak pernah memikirkan perasaannya sendiri. Dia terkadang bimbang harus ke mana membawa hatinya itu. Jika dirinya selamanya dengan Devanka, itu berarti dia tidak bisa melabuhkan hatinya pada orang yang disukainya. Namun, Azalea juga takut kalau suatu saat hati dia yang jatuh pada sepupunya itu.
Asyik tenggelam dengan pemikirannya, Azalea bahkan tidak tahu Devanka memasuki kamarnya. Dia tersadar setelah mendengar suara kursi ditarik.
"Kapan Mas Anka masuk?"
"Barusan, kamunya asyik ngelamun," jelas Devanka, "Aza, sini." Perintah Devanka agar Azalea mendekat kedirinya yang sedang duduk di kursi belajar milik Azalea.
"Ngapain?"
"Sini dulu makanya, Za."
Tidak bertanya lagi, Azalea bangun dari duduknya dan menuju ke Devanka.
"Kanapa?"
"Maju lagi sini, jangan jauh-jauh," tegur Devanka karena Azalea tidak berdiri di dekatnya.
Azalea mengikuti perintah Devanka, dia berjalan semakin mendekat ke Devanka. Dan dia berdiri tepat di depannya.
Devanka juga berdiri dari duduknya, tanpa tanda apa pun dia langsung saja memeluk Azalea. Tangannya juga dia bawa mengelus rambut Azalea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandung Silsilah
RomanceJalinan ikatan sakral pada dua insan yang terikat oleh persaudaraan. Azalea harus menggantikan posisi mempelai perempuan pada pernikahan sepupunya. Tanpa bisa menolak, Azalea menerimanya. Kehidupan dan kedekatan membemat Azalea lama-lama menaruh hat...
