"Bisa jelaskan ini apa?" Jennie berdiri di hadapan Lisa saat wanita itu keluar dari kamar. Dia menunjukkan layar handphonennya ke depan wajah Lisa dengan marah. "Kau sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Lisa menunduk, membaca satu judul yang muncul di berita pagi itu.
"Aku gak mabuk." Katanya dan meninggalkan Jennie. Dia berjalan ke dapur, mengambil botol air dan mencari ibuprofen di kotak obat.
"Tapi mereka mengatakan kau mabuk dan meninju seorang pria."
Lisa menarik napasnya dengan lembut, berusaha menahan rasa sakit kepala yang menyiksa. Badannya panas, keringat jatuh membasahi dahinya. "Aku tidak mabuk Jen." Katanya dengan pelan. Dia membuka pembungkus obatnya dan menelannya. Kemudian dia bersandar di meja sambil bernapas berat tanpa menoleh ke Jennie yang berada di belakangnya.
"Berita ini, mereka bilang kau mabuk."
"Ya Tuhan!" Dia marah, dia meninggikan suaranya dan menyisir rambutnya kebelakang. "Aku akan jelaskan padamu tapi biarkan aku istirahat dulu." Dia meyakinkan Jennie bahwa untuk saat ini dia benar-benar butuh waktu.
"Tapi aku butuh jawabanmu sekarang, Pihak managementku sudah menghubungiku dari tadi." Jennie mengejar Lisa dari belakang, bahkan dia memposisikan dirinya di samping Lisa. "Jelaskan!" Katanya mencegah Lisa masuk ke kamar.
Mata Lisa merah, kepala dan rasa mual di perutnya terlalu sakit untuk menahan. Belum lagi tingkah Jennie yang menyebalkan. "Dengar!" Dia menahan napas lalu memegang bahu Jennie dengan kuat. "Dia menghinamu dan aku tidak suka jadi aku meninju wajahnya."
Jennie sedikit terkejut karena suhu tubuh Lisa di kulitnya terasa seperti terbakar. Dia juga sadar kalau mata Lisa merah.
"Katakan saja itu pada semua wartawan. Tapi aku bersumpah aku tidak mabuk." Dia menyingkirkan Jennie dari pintu kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Lisa menghela napas legah dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Rasanya dia sangat legah seperti ikatan di dadanya terlepas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan lekat, pikirannya jauh dan berdebar ketika mengingat bagaimana bibir Jennie yang lembut menempel di bibirnya. Meskipun itu bukan sebuah ciuman yang aktif, tapi ciuman itu membuat Lisa demam.
"Ah sial!" Katanya dengan marah. "Ada apa ini? Apa aku seorang gay?" Dia berguling-guling di kasurnya dengan gelisah, memukul-mukul bantal dan meredam suara jeritannya di bantal. Meski rasanya aneh, tapi Lisa sudah mulai merasakan kenyaman dan suka kepada Jennie.
Dia bingung, dia gusar dan dia tidak bisa menerima bagaimana perasaannya pada Jennie tumbuh yang awalnya mengagumi menjadi rasa ketertarikkan. Apa lagi melupakan ciuman singat itu.
"Dia benar-benar membuatku gila." Lisa keluar dari kamarnya setelah mendengar Jennie menerima banyak telepon pagi itu. Jadi dia berniat memberi tahu Jennie tentang yang sebenarnya.
"Jen." Dia mengetuk pintu kamar dengan lembut.
Jennie keluar dengan wajah yang kusam, lesuh dan lelah. Dia menatap Lisa hampir menangis. "Bisa jelaskan sekarang?" Katanya dengan memelas.
Melihat ekspresi Jennie yang begitu sedih Lisa jadi merasa bersalah. Dia mengangguk dan memberi saran padanya untuk melakukan Live instagram agar mereka bisa menceritakan keseluruhan kejadian malam itu.
"Hi, aku Jennie." Dia menyapa penggemarnya saat dia menyalakan Live pada akun instagram miliknya. Kemudian dia menoleh ke arah Lisa. "Kami ingin menyampaikan sesuatu terkait berita yang muncul hari ini." Lisa mengangguk dan menatap Jennie bahwa semua akan baik-baik saja dan dia yang akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuat kalian resah." Lisa menatap Layar handphone Jennie kemudian memandang kekasih palsunya penuh penyesalah. "Aku ingin menyampaikan bahwa benar aku telah meninju pria tersebut yang merupakan pengunjung bar tempatku bekerja. Tapi aku tidak dalam ke adaan mabuk. Aku dalam ke adaan sadar dan sepenuhnya tidak dalam pengaruh alkohol ataupun obat-obatan."
Jennie menatap Lisa dengan keterkejutan. Ada dua alasan mengapa dia begitu terkejut, pertama karena Lisa mengaku dia meninju seorang Pria yang merupakan penggemarnya, kedua karena dia tidak dalam pengaruh alkohol.
"Pria itu mengaku sebagai penggemar Jennie, tapi dia membahas soal fantasi seksnya dan membayangkan Jennie sebagai kekasihnya." Lisa kembali menatap Mata Jennie dengan rasa marah mengingat pria itu. "Dia juga menjelek-jelakkan Jennie."
Mendengar semua penjelasan dari Lisa, Jennie terkejut dan dia merasa lebih marah dari Lisa.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Tanya Jennie setelah mereka mematikan Livenya. Di sana ada Jisoo yang baru saja datang ketika melihat Jennie dan Lisa Live. Tapi dia hanya duduk menyaksikan Jennie yang berjalan mundar mandir di sekeliling ruangan.
"Sesuatu hal yang tidak penting." Lisa mengabaikan Jennie dan dia kembali ke dapur, mengambil air sebotol lalu meneguknya sampai habis. Penar di kepalanya masih belum hilang, dan demamnya juga masih belum turun.
"Itu penting untukku." Jennie menarik tangan Lisa, berusaha mencegah wanita itu masuk ke dalam kamar. Hari ini dia terlalu banyak di abaikan oleh Lisa, dia tidak suka dan dia benci jika Lisa mengabaikannya. "Aku artis jika kau lupa. Sesuatu hal yang melibatkanku itu semua penting."
"Aku membelamu, dan aku tidak berbuat hal yang buruk."
"Dia penggemarku."
"Penggemar gila mana yang melalukan fantasi seks terhadap idolanya!" Dia membentak, menatap mata Jennie dengan marah. "Dan kau masih membelanya?" Lisa gelisah, keningnya berkerut. Perasaanya hancur karena sikap Jennie yang tidak membelanya.
"Tanpa penggemar, aku bukan siapa-siapa Lisa." Jennie gantian membentak, matanya sama marahnya dengan Lisa.
"Persetan denganmu Jen!" Dia menghempaskan tangan Jennie dan meninggalkannya ke kamar. 10 menit kemudia dia keluar dengan tas ransel dan tas gitarnya.
"Jangan tunggu aku, aku tidak pulang malam ini." Dia berpamitan tanpa menatap Jennie.
Jisoo yang masih duduk di sofa sambil mengemil hanya menyaksika pertengkaran dua kekasih yang saling keras kepala. Dia tersenyum mengangguk,. Setelah melihat Lisa keluar membawa tas dan menutup pintu, Jisoo berdiri menghampiri Jennie.
"Apa begitu caramu mengucapkan terima kasih?"
Jennie berbalik, wajahnya merah dan keningnya berkerut.
"Lisa, terima kasih sudah membelaku. Atau Lisa terima kasih sudah meninju wajahnya mewakiliku." Jisoo mengejek, memperhatikan perubahan raut wajah Jennie yang marah berubah jadi sedih. "Kau terlalu lemah mengakui bahwa kau suka dengan tindakannya."
"Apa?" Dia menatap Jisoo yang berdiri bersandarkan meja makan.
"Ya, kau sukakan dengan tindakan Lisa? Itu tindakkan seorang kekasih Jen. Kau tidak pernah mendapatkan itu dari Tae, dan akui saja kau menyukainya."
"Jangan sembarangan menilai orang Unnie, pikiranmu terlalu kotor." Jennie berjalan ke dapur, mengambil sebotol wiski dan menuangkannya ke gelas. "Jelas-jelas tindakannya di luar kendali, dia tidak perlu meninju pria itu. Bagaimana jika pria itu jadi dendam padanya? Dia bisa berbahaya."
Jisoo tertawa tanpa henti, dia memegang perutnya dengan kaku. "Ya ampun, kau benar-benar artis yang buruk menutupi kepedulianmu."
Dia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku tidak tahu, kepalaku benar-benar pusing." Jennie menangis, dia benar-benar tidak tahu bagaimana perasaanya pada Lisa akhir-akhir ini. Dia marah pada diri sendiri, dia cemburu dengan Rose dan dia juga buruk memperlakukan Lisa akhir-akhir ini.
Jisoo menarik diri dan memeluknya, menenangkan punggung Jennie dengan lembut. "Jangan tahan perasaanmu, aku tahu kau merasa senang dia ada di sini bersamamu. Melebihi bagaimana Tae memperlakukanmu."
....
Tbc
....
KAMU SEDANG MEMBACA
The secret relationship
FanfictionLisa seorang wanita pekerja keras yang miskin, gagal kuliah dan banyak memiliki pekerjaan paru waktu untuk membiayain hidupnya dan juga keluarganya. Suatu hari dia mendapat tawaran pekerjaa dari seorang Pria kaya raya di Korea, pekerjaan itu membawa...
