Tiga Puluh

3.6K 340 5
                                        

Jennie menatap Mawar biru yang ada di atas meja riasnya, pandangannya kosong dan sebenarnya pikirannya juga tidak berada di tempat. Hal yang paling dia syukuri saat ini adalah aktivitasnya yang mulai sibuk, dan aktivitas itu membuatnya sedikit lengah dari memikirkan Lisa.

Ini sudah hari ke 7 semenjak Lisa pindah ke Seoul, dan bunga mawar itu adalah yang ke 4 di kirimkannya untuknya dari seorang penggemar. Dia senang masih ada penggemar yang mencintainya meskipun sebenarnya semua fansnya masih bersamanya.

"Selesai." Kata seorang gadis cantik pengrias wajahnya. "Ini sempurnah." Dia menyisir rambut gelombang Jennie ke belakang dengan jarinya, menatap mata coklat sang artis dari kaca. "Kecantikkanmu tidak pernah berubah."

"Kau juga cantik." Jennie tersenyum membalas pujian padanya.

Hari ini aktivitasnya terlalu sibuk karena begitulah yang dia inginkan. Dia ingin berada di luar rumah agar tidak selalu mengingat tentang Lisa, dia juga meminta Jisoo mengambil semua tawaran yang ada. Mulai dari hal kecil sampai brand yang dulu bersamanya kini kembali ke padanya. Dia senang perlahan citranya kembali lagi, tapi dari balik itu semua dia masih merasa sendiri, kesepian dan hampa.

Setelah selesai syuting Jennie memilih kembali ke rumah, mengganti bajunya dan tidur. Seperti hari-hari sebelumnya.

"Malam ini juga?" Tanya Miko yang melirik Jennie dari spion depan.

"Apa dia akan curiga?"

Miko memutar tubuhnya sedikit dan melihat Jennie dari ujung matanya. "Tidak, tapi aku rasa dia berpikir kita penculik." Miko tersenyum dan Jennie menunduk.

"Kalau gitu antar saja aku ke Club."

Sebelum melajukan mobilnya Miko sempat melirik Jennie dan merasa kasian, wanita cantik yang baik hati harus kehilangan semangatnya berbulan-bulan. Meskipun Miko ingin sekali membawa wanita itu ke hadapan Lisa tapi dia tetap ingin menjaga privasi Jennie, sebagaimana dia menjaga privasi Lisa untuk Jennie.

Jennie sampai di club biasa dia berkunjung, club itu cukup privasi dari dunia luar , dan sebagian isinya juga seorang artis yang artinya tidak akan ada kamera atau rekaman apapun jika terjadi sesuatu.

Wanita berambut hitam pendek menghampiri Jennie di meja bar, menanyakan pesanannya.

"Seperti biasa." Katanya.

Musik keras yang menggema di ruangan tidak mampu membuat Jennie bergerak, dia tetap duduk di sana, menunduk dan menikmati minumannya. Sesekali dia mengobrol dengan batendernya atau orang-orang yang dia kenal, tapi dia tidak akan pernah menurunkan kakinya ke lantai dansa meskipun musik dan tarian pengunjung begitu hebo.

Seperti yang telah dia lakukan sebelum-sebelumnya. Dia selesai minum dan dia kembali pulang. Dia tidak cukup mabuk untuk pingsan atau tidak merasakan apapun saat seseorang menyentuh pinggangnya. Jennie tersenyak menoleh ke belakang ketika seseorang meletakkan tangannya di pinggang ramping Jennie. Jennie tentu saja tidak langsung menepis, dia menatap pria itu dan menyipitkan matanya.

"Apa yang kau lakukan?" Dia turun dari bangku nya dan menatap pria itu seperti seseorang yang sedang tidak ingin berdebat. "Kau menyentuhku?" Kemudian Jennie menepis tangan Pria itu.

"Ini malam yang panas, dan kau sendirian." Pria itu mendekat, hampir membuat Jennie muntah karena napasnya yang bau menjijikkan. "Aku bisa menemanimu."

Jennie dengan spontan menampar pria itu ke tika pria itu meletakkan tangannya di atas paha Jennie. Tidak hanya menamparnya, Jennie juga menyiram pria itu dengan minumannya. "Carilah wanita jalangmu di luar!"

Beberapa orang yang ada di sekitar Jennie mendekat, mereka menyaksikan apa yang terjadi pada mereka. Dan teriakkan Jennie berhasil mencuri perhatian bahwa dia adalah Kim Jennie.

The secret relationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang