sepuluh

4.7K 482 29
                                        

"Jennie..." Rose memanggil saat melihat Jennie masuk ke bar.

Jennie masuk, dia mengenakan celana Jeans hitam panjang dan kemeja panjang yang lengannya ia sengaja gulung hingga siku, satu sisi ujung kemejanya masuk ke dalam pinggang Jeans. Dengan sapatu high heelsnya dia berjalan menuju Rose yang melambai.

Jennie sedikit kesal setiap kali dia menghubungi Lisa dan Lisa tidak menjawabnya yang menjawab panggilannya justru Rose. Dia bertanya-tanya sedekat apa hubungan Lisa dan Rose.

"Hi." Dia memeluk Rose dan begitupun tanggapan wanita berambit blonde tersebut kepada Jennie. "Di mana dia?"

"Ada di dalam, sedang latihan. Mau pesan sesuatu?"

"Vodka saja."

Rose memesan satu vodka dan segelas beer untuk dirinya. Dengan santai dia duduk melipat kakinua di kursi tinggi menghadap meja batender, begipun dengan Jennie.

"Boleh aku bertanya?" Jennie melihat gelas vodkanya yang dia putar-putar pelan. Ada perasaan aneh yang membuatnya enggan untuk bertanya, tapi perasaanya terlalu lemah untuk tetap diam.

Rose mangguk. "Tentu saja."

"Seberapa dekat kau dan Lisa."

Wanita tinggi dengan baju dress pendek seksinya melirik Jennie dengan senyuman. "Aku menyukainya." Jennie sepontan menatap Rose yang juga menatapnya. "Karena pertanyaanmu yang ambigu, jadi aku pikir kau butuh jawaban yang pasti. Ya, aku menyukainya sejak kami sekelas."

Jennie mengatupkan rahangnya, dugaannya soal perasaan Rose terhadap Lisa benar. Dia tidak buta soal tatapan seseorang dan perasaan seseorang terhadap orang lain, dia masih bisa menilai.

"Kau seorang gay?"

"Siapa yang bisa mempertahankan heteroseksualnya ketika melihat Lisa...tidak ada. Dan aku yakin kau juga." Rose meneguk beernya cukup keras, kemudian dia tersenyum memandang buir-buir es yang meleleh di gelas kacanya. "Aku kira dia bukan seorang gay, jadi aku mundur. Tapi setelah pengumumanmu, mungkin aku punya harapan."

"Harapan?" Jennie menatap Rose yang tersenyum. Matanya menahan amarah, tangannya di atas meja sudah terkepal kuat dengan erangan dalam hati. "Sadarkah kau bahwa kami seorang kekasih?" Tanpa dia sadari, perasaanya terhadap Lisa tumbuh semakin mekar, dia melupakan tentang kontrak mereka dan dia lupa tentang siapa Lisa sebebarnya. Cemburunya mengambil ahli seolah-olah Lisa adalah miliknya.

"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai lawan Jen... aku juga tidak punya niat untuk merebutnya darimu. Hanya saja...Mungkin Lisa bisa berubah haluan jika suatu saat kalian berpisah."

Jennie meneguk habis minumannya, sensasi panas di tenggorokannya membuat dia meringis. "Kau berharap kami berpisah?"

"Mungkin, 3 bulan, 5 bulan atau setahun? Siapa yang bisa bertahan dengan seorang artis." Rose tertawa. "Aku banyak mengenal artis sepertimu, mereka berkencan dan lalu berpisah dengan mudah."

Mendengar ucapan Rose, dia mengingat di mana posisinya sekarang. Dia benar, mungkin dalam hitungan minggu dia dan Lisa akan berpisah. Sebenarnya dia telah kalah oleh Rose.

"Teruslah berharap." Jennie meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja dan pergi meninggalkan Rose yang masih menunduk dan tersenyum puas.

"Jen?" Tepat saat Jennie berjalan ke arah studio dia melihat Lisa keluar dan menatapnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Dia berhenti tepat di depan Jennie.

Jennie melirik Rose yang berjalan ke arahnya. "Kami minum-minum sebentar dan mengobrol." Katanya. "Kau akan pulang?" Jennie berharap Lisa akan memberi jawaban yang membuat dia menang kali ini dari Rose.

The secret relationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang