Tiga Puluh Satu

5.2K 353 16
                                        

Lisa bangun lebih dulu dari pada Jennie, pada saat dia membuka mata ada perasaan yang menyenangkan di perutnya. Itu seperti ribuan ekor kupu-kupu yang siap keluar untuk mengantri. Perasaan bahagia itu datang dari depan matany, Jennie tertidur dengan napas yang teratur. Tangannya berada di pinggang Lisa dan kepalanya di atas dada Lisa. Rambut Jennie yang indah hampir menutupi semua wajahnya, dan dengan hati-hati Lisa menyingkirkan rambut Jennie ke belakang telinganya.

Jennie mengerang pelan, merasa terganggu oleh gerakan Lisa.

Perasaan bersalah menghampiri Lisa, dia diam menahan napasnya agar tidak membangunkan Jennie yang tidur damai seperti bayi. Dalam diam Lisa memperhatikan mata Jennie yang tertutup, pipinya yang tebal dan bibir Jennie yang merah mudah. Jantung Lisa berdebar hebat, meskipun tidak terjadi apapun tadi malam tapi dia merasa akan terbang bersama kupu-kupu di dalam perutnya.

Dia dan Jennie hanya memutuskan untuk tidur bersama, melepaskan kerinduan yang selama ini menyiksa.

Jennie bergerak, mengeratkan pelukkannya di perut Lisa. Dan mengendus leher wanita itu dengan lembut. "Jangan bangun, cukup seperti ini." Katanya dengan suara serak.

Lisa memeluk punggu Jennie, membalas dengan penuh kehangatan. Dia meletakkan dagunya di atas kepala Jennie dan berbisik. "Handphonemu terus berdering."

"Biarkan saja. Aku sedang tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun."

Lisa menarik wajahnya dan menatap Jennie yang masih memejamkan mata. "Tapi aku pikir itu Jisoo."

Dengan berat hati Jennie membuka matanya. "Aku tahu, dan aku sedang tidak ingin mendengar omelannya." Dia mengedipkan matanya berulang kali, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk dari cela-cela jendela.

Lisa tersenyum, menyingkirkan anak rambut Jennie dari wajahnya. "Baiklah, aku akan menjagamu." Lisa mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jennie dengan cepat.

Jennie tertegun, membiarkan perasaan yang aneh menjalar keseluruh tubuhnya. Ini pertama kalinya setelah perpisahan, dan betapa dia merindukan bibir Lisa di bibirnya. Dia sangat gila karena hampir setiap hari dia membayangkan Lisa menciumnya.

"Kehabisan kata-kata, Kim Jennie?" Tanya Lisa dengan lucu karena ekspresi Jennie.

Jennie mengangguk dengan polos, kemudian pipinya merah. Jennie menarik wajah Lisa dan mendaratkan bibirnya ke bibir Lisa. Mencium bibir bawa Lisa dan menariknya, Lisa merasa sesak karena Jennie jadi dia membalas ciuman Jennie dan membiarkan wanita itu mengambil bibirnya dengan keras.

"Aku merindukanmu." Katanya setelah ciuman itu.

Lisa mengangguk, dia menatap mata Jennie dengan lekat. Ada sesuatu yang tertahan di sana, dia tahu Jennie akan menangis jadi dia menarik Jennie dan memeluknya lagi.

"Maafkan aku."

"Untuk apa?"

"Karena membirkanmu sendirian menghadapi masalah kita."

Mendengar ucapan Lisa, Jennie mempererat pelukannya. Membiarkan wajahnya terbenam di atas dada Lisa. Dia akan menangis jika Lisa melanjutkannya karena dia benar-benar tersiksa di masa-masa itu.

"Sekarang kamu di sini, jangan pergi. Dan maafkan aku karena membiarkanmu pergi." Jennie menarik dirinya, menatap mata Lisa yang juga berkaca-kaca. "Aku...aku pikir aku tidak akan sanggup jika kau tidak ada."

Lisa mencium bibir Jennie sekali, melumat bibir bawah Jennie dengan lembut hingga Jennie mengerang pelan. "Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Kata Lisa.

.....

"Jadi...apa yang aku lewatkan?" Jisoo melipat tangannya sambil menatap Jennie dan Lisa. Dia menyipitkan matanya seolah-olah mengintimidasi mereka yang duduk di meja kopi. "Aku menunggu kau membuka pintu, menghubungimu dan berteriak. Tapi 2 jam kemudian kau baru membukanya."

The secret relationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang