chapter 28

927 130 24
                                    

Seokjin kira terjadi sesuatu yang sangat
mendesak sampai Jimin menelepon
Jungkook untuk meminta pertolongan,
rupanya Jimin sempat diserempet oleh
motor dan dia terjatuh ke atas trotoar
sampai siku dan beberapa bagian
tubuhnya luka dan cedera ringan.

Kini Seokjin berdiri di depan ranjang
pasien di UGD. Dia diam menatap Jimin
yang entah kenapa sedikit bertingkah
tidak biasanya. Jimin menangis, terlihat dari matanya yang sembab dan memerah. Entahlah apa yang menjadi
alasan Jimin menangis seperti itu,
tapi Seokjin yakin bukan karena luka di
tubuhnya.

"Kami kira kamu darurat banget, Jim. Lagian kenapa kamu jalan-jalan sendirian gitu?" tanya Jungkook. Dia sebenarnya kesal karena waktu bermesraan dengan Seokjin terpaksa harus dipotong gara-gara Jimin, tapi Jungkook tidak mungkin mengatakan kekesalannya.

"Maaf jadi ngerepotin kalian berdua.
Aku kalut banget, aku gak ada tempat
cerita dan aku malu buat telepon Jinnie
cuma untuk ungkapin keluh kesah
aku. Seminggu lalu aku udah nyiapin
barang-barang dan uang buat berangkat ke Seoul, tapi Eomma aku ngambil uangnya dan sampe hari ini ia gak pulang. Berhari-hari aku nyari Eomma aku buat ngambil uang itu, tapi sampai detik ini gak ketemu" jelasnya panjang lebar.

Seokjin dan Jungkook saling bertatapan, tidak disangka ternyata Jimin masih menderita sejak terakhir kali mereka melihatnya.

" Jimin, aku pernah bilang sama kamu
kalo emang ada apa-apa kamu bisa
telepon aku. Jangan sungkan gitu sama
aku atau Jungkook. Kita kan temen, aku
pasti bantu kamu kalo emang kamu
butuh bantuan" ujar Seokjin. Dia dengan
perasaannya yang mudah tersentuh
lantas mendekati Jimin kemudian
mendekapnya hangat.

Seokjin selalu diajarkan untuk tidak
pernah membenci orang yang pernah
menyakiti atau membuatnya kecewa,
untung saja dia tidak ada niatan jahat
untuk menghancurkan hidup Jimin.
Malah Seokjin merasa bersalah karena
mengambil Jungkook darinya.

"Kamu udah lapor polisi tentang Eomma
kamu?" tanya Jungkook. Jimin melepaskan pelukan Seokjin lalu menggeleng lemah.

Dia tahu kalau kepolisian lamban
mengerjakan laporan seperti ini apalagi
Jimin bukan orang kaya, tentunya itu akan semakin sia-sia.

"Aku gak laporin ke polisi karena bakal
percuma aja. Eomma aku tuh gak mungkin kabur ke luar kota, aku yakin dia di busan tapi gak tau di mana. Itu uang udah aku kumpulin setahun dan cukup buat merantau ke Seoul tapi rupanya Eomma aku juga udah berencana ngambil uangnya."

"Kamu butuh berapa, Jimin? Aku gak bisa nolong nyari Eomma kamu karena kota ini terlalu luas untuk nyari dia," ucap Jungkook.

Jimin melirik Jungkook maupun Seokjin
bergantian. Kedua manusia di depannya ini sangat beruntung karena mereka kaya dan saling mencintai. Jimin sangat sial sebab dia terjebak di sini sendirian. Dia tidak bisa menjual tubuhnya kepada pria dewasa seperti Suho karena waktu itu Jimin pernah sekali ketahuan oleh istri Suho sehingga dia tidak lagi berani bertingkah.

"Makasih banget, Jungkook. Aku selalu
ngerepotin kamu dari dulu" lirihnya. Dia kembali menundukkan kepala karena malu.

Seokjin tersenyum kecil, dia meraih telapak tangan Jimin dan menggenggamnya erat.

"Jangan bilang gitu, itu semua cuma masa lalu jadi gak perlu dikenang. Kami bantu kamu ke Seoul, ya? Nanti kalo sudah sampe di sana, aku telepon temen aku yoongi buat jemput kamu dan nawarin kamu kerja. Aku liat, kamu cantik kok Jim. Kalo jadi model pasti cocok, tapi emang gak semudah yang dikira sih. Tapi tenang aja, Yoongi orangnya baik. Nanti aku kenalin ya?"

Jimin mampu merasakan cahaya terang di masa depannya. Seokjin benar-benar membawa sepercik harapan untuknya.

"Aku mau, Jinnie. Ya ampun, makasih
banget!" Jimin mendekap Seokjin untuk
berterima kasih.

Married without loveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang