chapter 26 🔞

1.2K 131 26
                                    

Tiga bulan kemudian

Tidak terasa Soobin kini telah berusia
tiga bulan. Seokjin pun sudah semakin
sehat dan mampu beraktivitas seperti
biasa karena jahitannya pun telah lama mengering. Dia benar-benar fokus pada
tumbuh kembang Soobin selama tiga
bulan ini dengan memerhatikan asupan
susu untuk putranya, rutin imunisasi, juga mencatat segala perkembangan motorik dan sensorik nya.

Jungkook juga banyak membantu Seokjin mengurus putra mereka, setiap Sabtu dan Minggu suaminya itu akan berada dirumah satu hari penuh untuk berdekatan dengan Soobin. Tiga bulan sudah mereka jalani dengan sangat baik sekali.

Minggu depan adalah peringatan hari
pernikahan mereka yang pertama.
Sebenarnya Seokjin punya rencana untuk membuat pesta, tapi dia tidak sempat mengatakannya kepada Jungkook jadi kemungkinan besar akan mereka lalui bertiga saja di rumah.
Biarlah seperti itu, lagipula Seokjin bisa
merencanakan pesta kapanpun dia mau.

Jungkook memerhatikan putranya yang
sedang asyik menyusu. Hampir setiap
hari Jungkook betah memerhatikan Soobin yang seperti ini, entahlah mungkin dia menyukai aktivitas menyusu.

"Jinnie, kita belum sempet kangen-kangenan dari kemarin. Aku
pengen sama kamu" ucap Jungkook
setengah manja. Dia menyandarkan
dagunya di atas pundak kanan Seokjin
sambil berusaha menggoda istrinya
melalui kecupan lembut.

"Jungkook, jangan macem-macem. Ada Soobin di sini, nanti dia ngamuk lagi kalo kamu ganggu," ucap seokjin.

Jungkook memang gemar sekali membuat putranya menangis
histeris, maka dari itu seokjin sering
memaksa jungkook untuk menjauh kalau dia sedang sibuk dengan soobin.

"Bukannya kebalik, ya? soobin yang sering ganggu kita berdua. Perasaan tiap malem kamu udah dimonopoli sama dia, sama aku nya kapan?" jungkook merengek seperti bayi besar. Seokjin tertawa geli, soobin memang sering sekali mengganggu aktivitas malam mereka sehingga membuat jungkook sering uring-uringan.

Pernah suatu malam mereka ingin bermesraan, belum setengah jalan tapi soobin sudah menangis keras. Jangan tanya betapa frustasinya jungkook karena selalu diganggu.

"Jangan ngomong gitu ah, kamu juga
salah karena gak sabaran. Kalo soobin udah bobok kan bisa lanjut, eh tapi kamu yang tidur duluan" ucap seokjin .

Jungkook memutar bola matanya, dia duduk malas sambil sesekali mencubit kecil pipi soobin yang tembam.

***

Seokjin  tersenyum di dapur sambil
mengecek tanggal di bulan ini. Tepat
hari ini, dia dan jungkook menikah tahun
lalu. Bukan awal yang mulus karena
ada sedikit ujian yang mesti seokjin
hadapi di dalam pernikahannya, tapi dia bersyukur karena mereka sama-sama telah menemukan kebahagiaan di dalam pernikahan ini.

Seokjin sengaja bangun cukup pagi dari
biasanya karena dia ingin memberi
Jungkook kejutan. Kemarin siang Seokjin membeli kue berukuran kecil di toko kue langganannya. Ini akan menjadi hadiah pertama untuk suaminya.

Bibirnya sumringah begitu melihat
jungkook yang masih tidur tengkurap. Suara dengkurannya terdengar, menandakan kalau dia masih sangat terlelap. Dengan perlahan Seokjin melangkah lalu duduk di pinggir ranjang.

Dia meletakkan kue di atas meja samping tempat tidur sebelum tubuhnya merapat ke sisi Jungkook. Seokjin mencium lembut pipi sang suami, dia berbisik tepat di telinga Jungkook yang dia yakin akan bangun setelah ini.

"Happy anniversary, baby.." bisiknya.
Dia terkekeh pelan saat jungkook mulai
menggeliat dalam tidur lalu membuka
kelopak mata. Bisa dilihat kalau semalam tidurnya sangat pulas.

"'Selamat hari pernikahan! Ayo dong kamu buruan bangunnya,' seru Seokjin.

Jungkook yang baru sepenuhnya sadar lantas tersenyum kecil. Dia mengubah posisi tubuhnya menjadi sedikit menyamping sebelum membuka tangan lebar-lebar sebagai tanda sebuah pelukan darinya.

Married without loveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang