Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°
[ EDISI JOIN TREND WE LISTEN WE DON'T JUDGE ]
Pada malam hari hujan turun mengguyur sebagian bumi, di sebuah kamar nampak seorang remaja laki-laki dengan tanda lahir di salah satu punggung tangannya itu bergerak gelisah sejak tadi. Di ruang tengah terdapat Jay yang belum pulang, jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, sebentar lagi mereka akan makan malam bersama dan Jay tengah mengorder makanan dari luar.
Ravin gelisah karena ia baru saja mendapat tantangan dari Hazel untuk mengajak Jay mengikuti sebuah trend yang dapat menguntungkan dirinya maupun Jay namun tidak boleh protes jika mendapat jawaban tak sesuai. Trend yang dimaksud adalah we listen we don't judge. Ravin segera mengambil ponselnya lagi yang tergeletak di sampingnya setelah menerima tantangan dari Hazel, notifikasi IMessage yang dikirim oleh Jay terpampang jelas pada layar lockscreen.
Pesan itu berisikan dua bubble yang berisikan Jay menanyakan dirinya sudah selesai atau belum sebab sebelumnya ia izin ingin ke kamar mandi untuk membasuh masker yang ia gunakan dan ini sudah hampir 25 menit. Ravin segera membalasnya kalau ia akan segera ke sana. Lelaki manis itu menyimpan ponsel kemudian menarik napas, "Oke Vin, setelah makan kita bicarain soal ini."
"Tapi gue takut," lanjut Ravin.
Beberapa saat kemudian Ravin menepisnya, jika ia takut, ia tidak akan mendapat jawaban dari pertanyaan yang sudah muncul di kepalanya juga ini adalah tantangan dari Hazel karena sepulang sekolah tadi Hazel sempat bermain di sini terus kita berdua bermain truth or dare. Awalnya Ravin memilih truth namun Hazel memaksanya memilih dare karena sebelumnya Ravin sudah sering memilih opsi pertama dan Hazel akan memberikan tantangannya nanti.
Ia berdiri dari duduknya dan segera beranjak keluar kamar untuk menemui Jay yang sudah menunggu. Punggung tegap lelaki tinggi itu dapat Ravin lihat, kedua matanya terus melihat ke depan di mana Jay tengah fokus bermain playstation. Ravin duduk di samping Jay, sudut matanya melirik ke arah meja yang terdapat dua plastik lumayan besar.
"Hampir 30 menit, bersihin masker emang selama itu?" Jay berbicara tanpa mengalihkan fokusnya dari televisi. Sedangkan sang empu meringis kecil mendengarnya. "Sekalian pake moist, Jay. Terus bales IMessage dari Hazel," jawab Ravin jujur.
Jay berdecak kencang ketika tulisan game over terpampang jelas di sana, ia menyimpan benda itu tak santai kemudian menoleh ke samping menatap kekasihnya. "Kenapa gak sekalian aja hpnya bawa ke sini?" Jay memicingkan kedua matanya. "Lo gak selingkuh kan?"
"Jangan mulai, Jay! Gue bukan lo," sarkas Ravin diakhiri dengan lirikan sebal, ia memalingkan wajahnya enggan menatap Jay. "Udah, gue gak mau berantem sekarang, gak ada tenaga."
Setelah mengatakan itu Ravin segera membuka salah satu plastik yang ada di hadapannya, sementara Jay menghela napas pelan dan tidak menanggapi apa pun lagi. Pasangan yang telah bersama sejak satu tahun terakhir ini yang di mana setiap harinya ada saja bahan untuk bertengkar itu mulai menikmati makan malamnya dengan khidmat tanpa ada sepatah kata pun yang keluar.
Selama makan berlangsung pun tak henti-hentinya Ravin melirik Jay dan di sadari oleh lelaki itu namun ia berpura-pura tidak tahu dan akan menanyakan nanti setelah selesai makan. Di tengah-tengah suasana yang hening tiba-tiba saja Ravin tersedak, ia merasa tertangkap basah saat Jay melirik nya juga.
"Makanya gak usah banyak tingkah, tersedak, kan?" Langsung saja Jay menyimpan makanannya di atas meja dan mengambil air mineral yang ada dalam botol aqua yang tersegel, ia segera membukanya dan memberikan pada Ravin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhealthy Relationship ✓
Teen Fiction[ Baru direvisi sebagian! ] [ BxB, Toxic Relationship, 17+ ] Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
