Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°
"ABANG! ABANG TAHU GAK? TADI WAKTU AKU AJAK KAK EL KE CAFE, ADA YANG DEKETIN DIA! GANTENG BANGET, BANG!"
Aleetta, si pemilik suara yang telah berteriak sedari awal dia menginjakkan kaki ke pintu utama. Yang menjadi tersangka utama hanya mampu meringis pelan, apa katanya tadi? Di dekati? Apa Aleetta tengah melebih-lebihkan sesuatu?
Lelaki itu tidak mendekatinya sama sekali, dia hanya mengembalikan barang miliknya yang jatuh. "Jangan bohong, Al. Dia gak deketin aku, dia cuman balikin gelang Bang Shaka yang aku pake jatuh, jangan di lebih-lebihin gitu, ah!" tegur Ravin yang berjalan di belakang Aleetta.
Shaka yang hendak pergi keluar pun mengangkat sebelah alisnya, dia bersedekap dada dan mengurungkan sementara tujuan awalnya yang akan pergi ke kantor menemui sang Papa. "Kalau ada yang mau deketin kamu, bawa dia ke hadapan Papa sama Abang. Kita seleksi dulu, dia cocok apa enggak jadi pasangan kamu." Senyum Aleetta semakin lebar saat Shaka memberikan jawaban seperti itu.
"Seleksi? Udah kayak mau masuk PTN aja!" seru Ravin.
Mendengar itu, Aleetta menolehkan kepalanya ke arah Ravin. "Belajar dari pengalaman, Kak. Supaya gak salah pilih pasangan lagi," timpal Aleetta lalu menyengir.
Shaka menggelengkan kepalanya, dia menatap adiknya yang terlihat kesal. "Masuk, Al. Tadi Mami sempat kasih Abang pesan, kalau ketemu di depan suruh langsung ke kamar Mami." Dengan segera Aleetta mengalihkan pandangannya.
"Iya, kah? Kalau begitu aku pergi dulu. Bye-bye," pamit Aleetta.
Setelah kepergian adik sepupunya, Shaka segera mendekat kepada adiknya. "El, ada yang mau Abang tanyakan ke kamu. Tapi nanti, sekarang Abang mau ke kantor Papa dulu. Abis dari sana kita bicara empat mata, ya?" sahut Shaka.
Saat Ravin akan mengangguk menyetujui ajakan Shaka, lelaki itu kembali berbicara. "Tapi kamu siap apa enggak? Karena pertanyaan Abang ini hampir sepenuhnya mengarah ke putra Pradipta," lanjut Shaka memberitahu tujuannya berbicara.
"Hm, Apa ..., pertanyaan ini Penting?" tanya Ravin dan Shaka mengangguk.
"Sangat penting, El! Kalau kamu gak siap buat jawab gak apa-apa, Abang gak akan maksa. Mungkin di lain waktu Abang akan tanyain itu semua," jawab Shaka.
Ravin terdiam sejenak, "Aku pikirin dulu, boleh? Siap atau enggaknya nanti aku kasih tahu lagi." Ia berujar. Shaka mengangguk paham, ia akan memberikan waktu untuk adiknya untuk berpikir terlebih dulu.
"Boleh. Asal jangan dipaksain. Kalau begitu Abang pergi dulu. Abang tunggu jawaban kamu dan jawaban itu gak harus hari ini juga gak apa-apa."
°°°°°
Shaka memang memberikan banyak waktu luang untuk dirinya berpikir menyetujui permintaan Shaka yang ingin berbicara empat mata dengannya perihal Jay. Namun sejak beberapa menit terakhir, ia tidak bisa diam dan terus mondar-mandir dikamarnya memikirkan ini semua.
Meskipun ada yang mengganjal ketika Shaka berucap demikian. Ravin duduk di ujung kasur, melangkah mondar-mandir di depan sana ternyata cukup melelahkan. "Abang gak akan tanyain aneh-aneh soal, Jay, kan? Kok gue deg-degan, ya?" gumam Ravin.
"Tapi mau tanyain apa? Gue yakin, Abang, Papa, Mama, dan yang lainnya pasti udah tahu soal Jay. Jadi, apa yang mau mereka gali lagi tentang dia lewat gue?"
"Mereka bahkan tahu gimana sikapnya selama ini. Dan gue rasa, gak ada yang harus dicari tahu lagi karena semuanya udah jelas dan bukti udah mereka pegang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhealthy Relationship ✓
Fiksi Remaja[ Baru direvisi sebagian! ] [ BxB, Toxic Relationship, 17+ ] Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
