[ Baru direvisi sebagian! ]
[ BxB, Toxic Relationship, 17+ ]
Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
Warning! Part ini mengandung banyak sekali typo! Happy Reading! °°°°°
Benda kayu yang menjadi akses keluar masuk dalam sebuah bangunan dibuka oleh orang yang mengetahui bagaimana untuk masuk sebab semakin ke depan jaman semakin modern, banyak sekali barang yang dibuat secanggih mungkin.
"Kalian tunggu di luar, jangan ikut ke dalem. Aku cuman mau ambil barang penting." Orang itu mencegah beberapa orang yang mengikutinya sejak keluar rumah.
"Baik Tuan, kalau Anda perlu bantuan ... Tolong segera panggil kami," balas salah satu dari mereka yang disetujui yang lainnya.
Ravin berdeham pelan menanggapi balasan mereka, tanpa berbalik badan dia segera melangkah masuk ke dalam apartemen—— tempat tinggalnya dulu, tempat yang telah menjadi saksi bisu berbagai emosi yang ia rasakan di tempat ini. Tidak, Ravin datang ke sini bukan untuk mengambil barang penting. Perkataan yang menjadi alasan ia diizinkan datang kemari.
Di ruang tengah, kakinya berhenti berjalan, kedua matanya memandang ke arah sofa yang memiliki berbagai kenangan, pahit maupun manis semuanya ada di sana. Ravin kembali melanjutkan langkahnya, kini ia masuk ke area dapur, tangannya terangkat menyentuh meja pantry kemudian tersenyum tipis. "Semuanya sama. Setiap sudut ruangan yang ada di apartemen ini, punya kenangan sakit bahagianya sendiri," gumam Ravin.
"Dan bodohnya gue harus jatuh cinta ke orang yang udah nyakitin gue."
Dulunya, ia sangat menantikan semua balasan-balasan perlakuan kasar Jay padanya namun ketika semuanya terwujud seperti yang ia inginkan ada secuil rasa tidak nyaman dihatinya. Kamar adalah tempat yang kini Ravin pijak setelah dapur, tempat yang menjadi tempat Ravin beristirahat dan menyalurkan keluh kesahnya serta menjadi tempat yang paling sering membuat mereka mengibarkan bendera perang.
Dan di kamar ini jugalah moment positif yang memiliki banyak kenangan yang membuat Ravin jatuh sedalam-dalamnya. "Seandainya, lo gak punya pemikiran sedangkal dan sejahat itu mungkin ini semua gak akan terjadi." Ralat, bukan kamar saja yang mempunyai kenangan positif, hampir setiap sudut apartemen ini memilikinya.
Pentingnya berpikir, menimang, sebelum melakukan sesuatu itu paling utama. Mencari tahu informasi sampai ke akar paling dalam juga tak kalah penting agar suatu saat nanti kita tidak menyesali dengan keputusan yang telah diambil. Jangan menjadi orang yang hanya mementingkan ego karena waktu tidak bisa di putar ulang dan kesempatan kedua untuk memperbaiki belum tentu kamu dapatkan dikemudian hari.
Semakin tinggi ego yang kamu naikan semakin banyak pula kerugian yang kamu dapatkan. Ego hanya sementara, sedangkan hati tetap abadi. Balas dendam itu ada plus minusnya, kelebihannya kita menjadi puas dengan balasan-balasan yang kita berikan, sementara kekurangannya, selain merugikan orang lain, diri sendiri juga ikut rugi, apalagi bertindak tanpa tahu akar masalahnya seperti apa.
Semuanya tidak ada yang mulus lagi sempurna. Ravin membuka pintu balkon kamarnya, kakinya dia bawa ke perbatasan balkon kemudian memejamkan kedua matanya sembari menghirup udara yang terasa segar. Burung mengepakkan sayapnya terbang setinggi mungkin di bawah langit berwarna jingga.
"Apa pun kondisinya, di mata gue, lo selalu cantik, lucu, sekalipun ada lebam di wajah lo. Perfect."
"Walaupun gue tukang selingkuh, pesona lo enggak bikin hati gue minggat sedikitpun."
Setelah puas mengekspor apartemen nya, sekarang Ravin sudah berada di mobil. Kendaraan beroda empat ini segera meninggalkan area perkarangan gedung apartemen, Ravin memandangnya selama beberapa detik sebelum menundukkan kepalanya menatap kalung yang dia temukan di atas laci yang ada di kamarnya. Kalung yang selama ini dia pakai, Ravin mengenakan barang itu kembali, dia menatap bandulannya dan mengusapnya pelan sebelum kembali melihat gedung apartemen yang perlahan hilang dari pandangan.
Selamat tinggal gedung pemukiman yang penuh dengan kesenangan, kesakitan, dan berakhir menjadi kenangan yang abadi.
TAMAT!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.