Unhealthy Relationship || Twenty Nine

4.7K 215 38
                                        

Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°










Terlampau menjungjung tinggi jika permintaannya akan terkabul namun nyatanya Jay harus menerima kenyataan tatkala penolakan lah yang ia dapatkan. Lelaki tinggi itu mengangguk pelan tidak ingin memaksa Ravin untuk menuruti kehendaknya, melihat bagaimana respons anak itu beberapa saat lalu seharusnya Jay sadar untuk tidak meminta yang aneh.

Kesannya dia tidak tahu diri dan tidak tahu malu setelah apa yang telah ia perbuat. Seharusnya Jay malu untuk menampakkan wajah di depan Ravin, seharusnya Jay tidak perlu berbicara seperti itu dan langsung ke inti saja karena tujuan dirinya kabur adalah untuk bertemu Ravin dan meminta maaf. Dalam hati Jay terkekeh kecil menyadari bagaimana tak tahu malunya ia.

"Jay ..." Si manis seperti ingin menanyakan sesuatu namun dia terlihat ragu. "Bicara aja, Ravin. Tanyain semua yang pengen lo tahu selagi gue ada di sini, di hadapan lo, di deket lo."

Tidak tahu mengapa begitu Jay berkata demikian ada perasaan tidak nyaman dihati Ravin, lelaki itu berucap seolah tidak akan ada kesempatan dilain waktu untuk bertemu lagi. "Kenapa lo bisa sampai ada di sini? Terus kenapa lo di kejar sama orang-orang tadi?" tanya Ravin.

Sebisa mungkin dia melawan rasa takutnya dengan bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Jujur sedari tadi Ravin berusaha agar terlihat biasa saja padahal aslinya tubuhnya tremor bahkan saat berbicara pun suaranya ikut bergetar. "Semuanya—— karena keluarga lo," cakap Jay singkat namun sulit dimengerti oleh Ravin.

Dahinya mengernyit bingung ketika Jay membawa-bawa keluarganya. Semuanya? Karena keluarganya? "Gue bisa ada di sini karena di sekap keluarga lo, orang-orang tadi itu juga bawahan keluarga lo, dan semua luka ini ..." Jay menunjuk dirinya sendiri. "Juga karena keluarga lo," terang Jay.

"Mereka lakuin ini semua ke gue untuk ngebales semua perbuatan gue ke lo termasuk menanggung dosa yang udah Johan lakuin ke Kakak lo yang bikin gue salah paham," lanjutnya mengungkapkan fakta yang belum Ravin ketahui.

"Johan? Kakak? Maksudnya gimana? Jay, jangan bikin gue nambah pusing, yang pertama aja belum masuk ke otak dan ini nambah lagi? Kalau mau jelasin, jelasin satu-satu, Jay."

Sang empu menghela napas pelan, dia mendongak menatap Ravin yang mengerutkan dahi, lelaki manis itu benar-benar dilanda kebingungan akan tetapi jika dipikir lagi untuk opsi pertama itu—— sudah sangat jelas bukan? "Kenapa lo jadi lemot gini, sih, Ravin? Mereka kasih lo makan apa sampai otak pinter lo kapasitasnya turun," celoteh Jay. "Opsi pertama itu gak perlu gue jelasin lagi karena semuanya udah jelas, kalau belum paham coba lo cerna lagi maksudnya apa."

Hening. Setelah Jay berkata seperti itu Ravin benar-benar diam mencoba mencerna apa yang Jay katakan beberapa saat lalu. Lelaki tinggi dengan kondisi tubuh jauh dari kata baik itu ikut terdiam serta kedua matanya yang tidak teralihkan sedikitpun dari sosok tersebut. Suara kicauan burung serta dersik mengisi keheningan antara Jay dan Ravin, silauan sang Bagaskara semakin naik ke permukaan.

Detik terus berganti tanpa henti. "5 menit. Gimana, lo udah ngerti maksud ucapan gue?" sahut Jay bertanya.

"Ngerti," balas Ravin menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Jay. "Tapi dikit, tapi okelah. Seenggaknya gue paham," lanjutnya belibet sehingga membuat lawan bicaranya keheranan.

Perkataan yang seharusnya cocok untuk tidak dipahami itu bukan perkataan Jay melainkan perkataan Ravin barusan. Baiklah, Jay tidak ingin menunda-nunda lebih lama lagi, ia harus meluruskan semuanya hari ini juga, semua hal yang tidak Ravin ketahui. "Dengerin baik-baik, jangan sela ucapan gue sedikitpun, gue mau lurusin semuanya, jelasin semua yang gak lo ketahui tentang gue." Jay berujar tegas sembari memegang kedua bahu Ravin.

Unhealthy Relationship ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang