Mengisahkan keenam anak yang bersahabat dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya mereka menyimpan luka dan trauma yang mendalam.
Kesalahpahaman membuat hubungan Ashilla dan Dannies merenggang, Vanessa dan Vedol yang selalu menjadi penenga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kita mau ke mana?" Vanessa melangkah menyusul Vedol yang sudah berjalan duluan.
"Aku mau bicara soal masalah yang menimpa kita kali ini," jawab Vedol tegas.
Vanessa menelan salivannya begitu bersitatap dengan Vedol. Netra hijau itu menatap dalam mata Vanessa seolah mengisyaratkan butuh bantuan.
"Kamu mau aku har—"
"Wah-wah, lihat siapa ini. Mantan terindahku sedang bersama pacar barunya." Seorang perempuan melangkah mendekati dengan sombongnya.
"Hah?" Vanessa mendelik ke arah perempuan sombong tersebut.
"Kenapa? Kamu cemburu atau takut aku merebut Dodol darimu?" Perempuan dengan rambut bergelombang hitam pekat dan bulu mata melentik mendorong tubuh Vanessa.
"Ah, kamu ada masalah apa, sih?" sewot Vanessa yang hampir terjatuh. Untungnya, Vedol dengan sigap menopang tubuh Vanessa.
"Tidak ada, sih. Aku hanya memperingatkan kalian satu geng akan hancur. Bagaimanapun aku dan pria itu akan membalas dendam dan mencari kelemahan kalian." Perempuan itu mengancam Vedol dan Vanessa sembari tertawa.
"Kelemahan? Coba saja. Kamu takkan bisa karena dua orang sahabat kami akan menghabisimu." Vedol mengancam balik tanpa rasa takut.
"Dannies dan Ashilla? Mereka kan anak broken home lagipula sekali aku mengusik masalah itu mereka pasti akan ketakutan," ujarnya dengan sombong.
"Yakin? Naura, dengarkan kami sebelum kalian menyesalinya. Mereka berdua itu—" Vedol menjeda kalimatnya lalu melangkah mendekati Naura— mantan pacarnya sembari berbisik. "Bisa menjadi pembunuh bila diusik."
"Hah? Omong besar! Itu tak mungkin," sergah Naura dengan suara keras.
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi kami sudah peringatkan. Buktinya aku dan Vanessa pernah hampir mati karena dihajar mereka berdua," ucap Vedol dengan sinis.
"Pokoknya nantikan kehancuran kalian dan Dodol ... kamu akan kembali menjadi milikku lagi. Selamanya." Setelah mengatakan semuanya, Naura berjalan menjauhi Vedol dan Vanessa.
"Cewek gila," umpat Vedol.
"Bisa kita lupakan dia. Sekarang lanjutkan pembahasan tadi," ucap Vanessa dengan dahi berkerut.
Vedol mengembuskan napas dengan gusar. "Aku mau kamu membantuku untuk memaksa Dannies menceritakan semuanya ke Ashilla. Tentu saja, ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui karena dia menyembunyikannya."
"Baiklah."
***
Di ruangan bernuansa putih, Dannies berbaring lemas sambil memandangi langit-langit kamar. Dia tak bisa bergerak sekarang karena memaksakan tubuhnya sesaat setelah sadar.
"Kenapa gue tiba-tiba bangun juga, ya? Ketimpa pohon bukan berarti gue tak patah tulang. Apa karena gue udah biasa dibanting ke tembok sama ayah jadi tidak merasakan rasa sakit?" pikir Dannies sembari mengingat momen ketika Gilang menyiksanya tanpa ampun. Tidak peduli berapa banyak luka dan tulangnya dipatahkan. Itu sungguh perbuatan keji seorang ayah kepada anaknya.
"Dia bahkan tak pantas disebut ayah," gumam Dannies sambil menghela napas.
Tepukan pelan di bahunya membuat Dannies membuka matanya lalu melirik sosok yang menepuknya. Seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat sedikit muda walaupun telah muncul keriput di wajahnya tak membuat kecantikannya memudar.
"Ibu?"
Velona mengulum senyum tipis sambil menatap lembut putranya. Ia mengambil kertas dan pulpen lalu mencatat sesuatu di kertas. Setelah itu, diberikan kepada Dannies 'tuk dibaca.
"Nak, kata dokter kamu sekarang akan semakin sulit mendengar, tapi kamu masih bisa memakai alat bantu pendengar. Dengan syarat, jangan ada kejadian seperti ini lagi karena jika tidak kamu akan tuli permanen dan takkan pernah bisa mendengar suara apa pun. Maafkan, Ibu. Tidak bisa melindungimu, Nak.
Dannies menatap Velona yang masih menatapnya dengan lembut. Padahal sebelumnya ibunya tidak memedulikannya, tetapi sekarang malah menemani dirinya saat sakit. Sesuatu hal yang Dannies inginkan dari dulu.
"Terima kasih, Ibu sudah menemaniku. Gu— aku akan berubah mulai sekarang, tapi Ibu janji satu hal padaku. Tetaplah hidup di sisi Dannies sampai sukses." Dannies mengatakannya dengan air mata yang kian menetes membasahi pipi.
Velona bungkam. Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa, tetapi tatapan penuh harapan dari putranya meluluhkan hatinya. Ia menganggukkan kepala yang membuat Dannies tersenyum lebar. Sangat lebar. Senyuman yang sudah lama tak diperlihatkan kini kembali. Dannies merengkuh Velona dengan senyuman terlukis di wajahnya dan Velona pun membalas pelukan Dannies.
Maafkan, Ibu telah berbohong, batin Velona.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello~ aku kembali lagi setelah hiatus sebulan. Kangen ya? Sama kok. Maaf ya gak bisa nulis panjang kali ini karena baru penyesusaian kembali setelah hiatus.