Mengisahkan keenam anak yang bersahabat dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya mereka menyimpan luka dan trauma yang mendalam.
Kesalahpahaman membuat hubungan Ashilla dan Dannies merenggang, Vanessa dan Vedol yang selalu menjadi penenga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DISCLAIMER: BAB INI MENGANDUNG ADEGAN DEWASA! HARAP DI BAWAH UMUR TIDAK MEMBACANYA
* * *
"Ugh." Vanessa membuka matanya perlahan. Matanya mengerjap beberapa kali, begitu kesadarannya kembali matanya membulat sempurna. "Apa ini? Tolong!"
"Tidak akan ada yang membantumu, Sayang. Sekarang, Nessa, kamu milikku." Seorang lelaki muncul dengan seringaian terukir, tangannya memegang dagu Vanessa serta tatapan liarnya merosot ke bagian bawah tubuh Vanessa.
"Siapa kamu? Ini di mana? Lepaskan!" Vanessa memberontak, tetapi ikatan yang mengikat tangannya di kursi terlalu kuat.
"Masa kamu lupa sama aku? Kita kan sudah berpacaran, Sayang. Sekarang, banya ada kita berdua di sini. Kamu tidak bisa pergi ke manapun. Tubuh ini hanya aku yang boleh mencicipinya," ujarnya dengan nakal memainkan bagian intim tubuh Vanessa.
"Tidak mungkin! Ardha, bukan orang tua kayak kamu! Lepaskan aku!" elak Vanessa. Ia berusaha memberikan perlawanan, sedangkan Ardha— lelaki itu mendekati Vanessa dengan tatapan buas.
Vanessa teringat ucapan Vedol dan teman-temannya tentang Ardha, sungguh ia sangat menyesal sekarang tidak mendengarkan mereka. Bulir-bulir airmata menetes, Vanessa hanya bisa merutuki dirinya dan menundukkan kepala.
"Jangan menangis, Sayang. Aku selalu ada untukmu. Kita akan hidup bahagia, tugasmu hanyalah melayaniku seumur hidupmu," kata Ardha sambil mencekram bahu Vanessa.
Jarak antara mereka tidak ada. Vanessa masih enggan mengangkat kepalanya, hal itu membuat Ardha frustasi pun semakin mencekramnya menggunakan kuku. Vanessa masih kekeh, bibir bagian bawahnya digigit menahan rasa sakit. Vanessa berpikir cara ini lebih aman daripada berhadapan langsung lewat mata.
"Kamu keras kepala, Vanessa!" Suara renyah menggema membuat Vanessa terjatuh dalam kondisi masih terikat.
Vanessa tak gentar. Ia hanya tertawa keras, kali ini ia akan melakukan perlawanan menyakitkan yang takkan dilupakan oleh pria penipu dihadapannya. Ia akui dirinya lemah, tetapi ini bukanlah apa-apa apalagi dibandingkan saat Ashilla berlatih bela diri dengannya.
"Ada gunanya juga aku berlatih bela diri dengan bu gorila," gumam Vanessa.
"Kamu bilang apa? Kamu akhirnya sadar kan posisimu? Begitulah, perempuan itu tugasnya hanyalah melayani laki-laki seumur hidup! Kalian itu hanya alat bagi kami untuk kelahiran anak dan harus anak laki-laki! Itulah tugasmu juga! Putuskan hubunganmu dengan keluargamu dan dunia dan menikahlah denganku, jangan khawatir kamu tidak perlu pendidikan untuk jadi istriku!" Tawa Ardha memecah keheningan di ruangan yang tidak ada jendela, lembab, dan bau. Banyaknya kotoran hewan dan bau bangkai yang menusuk hidung.
Vanessa mengernyitkan dahi begitu mencium bau bangkai karena menyengat banget. Namun, ia tidak bisa bergerak. "Bau ini seperti bau mayat membusuk!" pikir Vanessa menebaknya.