Mengisahkan keenam anak yang bersahabat dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya mereka menyimpan luka dan trauma yang mendalam.
Kesalahpahaman membuat hubungan Ashilla dan Dannies merenggang, Vanessa dan Vedol yang selalu menjadi penenga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Warning! Bab kali ini memasuki masa lalu Vanessa dan kemungkinan nyinggung hal yang tidak senonoh! Cerita ini berdasarkan fiksi!
Beberapa tahun lalu, seorang gadis dengan seragam putih biru langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hal paling nikmat setelah bersekolah memanglah tempat tidur. Itulah yang dipikirkan Vanessa.
"Aku bosan," gumam Vanessa sambil mengecek ponselnya. Vanessa pun membuka akun sosmednya lalu tiba-tiba lewat iklan aplikasi yang membuatnya tertarik.
"Seru juga, download aja deh." Begitu selesai download aplikasi-nya Vanessa langsung memainkannya. Sebuah pesan masuk. Vanessa merasa senang karena menemukan laki-laki tampan. Ia segera membalas pesan tersebut sambil tersenyum.
"Namaku Ardha. Namamu siapa?" Begitulah isi pesan dari laki-laki bernama Ardha.
"Vanessa," balas Vanessa.
Ardha mengirim pesan lagi. "Nama yang cantik. Bolehkah kamu mengirim fotomu? Tenang saja, aku akan mengirim foto juga."
Tanpa pikir panjang, Vanessa mengirimkan foto lalu tak lama kemudian Ardha juga mengirimkan foto. Mereka terus saling berbalas pesan hingga tidak terasa matahari sudah terbenam.
"Vanessa! Turun makan!" Teriakan Clarissa mengejutkan Vanessa.
"Iya, Ibu!" Vanessa menyahut lalu dengan cepat mengetik pesan lalu mengirimkan ke Ardha.
"Vanessa!"
"Nanti kita lanjut lagi, ya." Vanessa buru-buru berganti pakaian lalu pergi keluar kamar. Ia tidak menyadari bahwa akan ada bahaya dan ancaman mengintainya.
Di lain tempat, seorang pria duduk di depan laptop tertawa cukup keras.
"Ah, ketemu. Vanessa Naya Putri." Seorang pria tersenyum menatap layar laptopnya lalu beralih ke pesan yang ia kirimkan ke Vanessa.
***
Sejak itu, Vanessa terus berbalas pesan bahkan sudah berpacaran dengan Ardha. Ashilla menyadari perubahan sikap Vanessa pun bertanya.
"Nessa, kamu kenapa akhir-akhir ini terlihat bahagia?" tanya Ashilla menatap heran sekaligus penasaran ke Vanessa.
"Hehe, aku sebenarnya sudah berpacaran."
Mendengar jawaban Vanessa mengejutkan Ashilla bahkan Sisil yang sedang minum ikut tersedak.
"Apa? Dengan siapa?" pekik mereka berdua dengan lantang hingga mengundang perhatian orang-orang.
Vanessa langsung membungkam mulut kedua sahabatnya itu. "Diam, ini di kantin."
"Katakan siapa!" Ashilla menuntut jawaban karena ia tahu Vanessa nyaris tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis, kecuali dengan tiga curut.
"Jangan-jangan Vedol?" tebak Sisil. Vanessa yang hendak makan langsung terbatuk-batuk. Dengan cepat, ia meneguk airnya.
"Dih, najis. Si dodol itu ogah aku." Wajah Vanessa langsung berubah menjadi cemberut.
"Terus siapa?" tanya Ashilla dengan tatapan sinis.
Vanessa tampak ragu menjawab karena ia tahu Ashilla tidak setuju dia berpacaran hanya modal kenalan di media sosial dan itu pun jadian setelah berkelanan tanpa tahu latar belakang. Apalagi Vanessa telah mengirimkan foto kepada Ardha.
"Jawab!" ucap Ashilla penuh penekanan.
"Itu ... namanya Ardha. Aku kenalan sama dia di media sosial lewat aplikasi seperti dating gitu," kata Vanessa.
Ashilla dan Sisil membulatkan mata. "Apa? Kapan?"
"2 hari lalu saat libur," jawab Vanessa dengan perasaan khawatir. Khawatir dan takut lebih tepatnya. Takut karena tatapan Ashilla seperti mau menerkamnya.
"Apa kamu tahu umurnya?" tanya Sisil khawatir.
"Tidak."
"Wajahnya?" tanya Ashilla.
"Tahu."
"Oke, tapi apakah kamu yakin dia tidak memalsukan foto? Zaman sekarang canggih, loh," ucap Ashilla dengan tegas. "Aku bicara begini karena khawatir padamu, Nes. Bisa saja dia orang yang lebih tua darimu dan memanfaatkan fotomu," tambah Ashilla..
"Ardha gak mungkin begitu!" hardik Vanessa.
"Terserah, aku hanya ingin kamu sadar dunia media sosial itu kejam karena ada orang-orang seperti itu," jelas Ashilla.
"Terserah!' Vanessa beranjak pergi meninggalkan kantin tanpa menghabiskan makanannya.
Di sisi lain, Vedol diam-diam menguping pembicaraan mereka. Ia hanya menatap pertengkaran ketiga sahabat tersebut.
"Ardha ... ternyata kamu tidak tertangkap saat itu. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengulangi hal yang sama lagi."
****
Hubungan Vanessa dan Ardha semakin dekat walaupun mereka belum pernah bertemu. Vedol yang memerhatikan dari jauh hanya bisa mengepalkan tangan.
"Dol, ngapain lihatin Vanessa? Suka, ya?" Sisil muncul dari belakang Vedol sambil menyeruput esnya.
"Eh, monyet bekantan! Vedol menjerit sedikit menjauh. Ia menoleh ke arah pemilik suara yang ternyata Sisil. " Nyet, bikin kaget aja."
"Dih, sotoy! Kamu aja napa lihatin Nessa?" sungut Sisil.
"Kepo."
"Apa kamu bilang?!" Mata Sisil melebar lalu ia memukul punggung Vedol membuat cowok itu meringis kesakitan.
"Btw, aku cuma bilang kalian peringatkan Vanessa segera jauhi orang bernama Ardha itu," jelas Vedol lalu ia melangkah pergi tanpa mendengarkan Sisil.
"Tunggu—" Sayangnya, Vedol sudah pergi. Tiba-tiba suara Vanessa terdengar nyaring.
"Yey, akhirnya, bisa bertemu dengan Ardha!" Vanessa melompat-lompat saking bahagianya.
Sisil mendekati Vanessa lalu langsung merampas ponsel Vanessa. Hal itu memancing amarah Vanessa.
"Sil, kenapa sih?"
"Jauhi Ardha!"
"Kamu saja belum bertemu gak usah menilai orang!" Vanessa merebut ponselnya dari tangan Sisil lalu bergegas pergi.
"Vanessa!" Sisil mengejar Vanessa. Namun, tanpa disadari ada sosok misterius memerhatikan sedari tadi.
"Hehe, sebentar lagi rencanaku berhasil."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi, aku kembali lagi menemani kalian. Jujur belum siap sebenarnya isu ini ditulis tapi yasudahlah. Btw, peringatan di atas berlaku untuk bab kedepannya, ya.
Jangan lupa vote, komen, dan follow akun ini. See you.. 😘