Mengisahkan keenam anak yang bersahabat dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya mereka menyimpan luka dan trauma yang mendalam.
Kesalahpahaman membuat hubungan Ashilla dan Dannies merenggang, Vanessa dan Vedol yang selalu menjadi penenga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa minggu kemudian, Vanessa semakin menghindari teman-temannya dan asyik chattingan dengan Ardha. Teman-temannya sudah memperingatkan Vanessa, tetapi gadis itu enggan menanggapinya. Ashilla dan Sisil sampai mengkhawatirkannya karena Vanessa terlalu fokus pada laki-laki, sedangkan nilai sekolahnya menurun drastis.
"Aku gak tahan lagi! Perempuan itu harus dikasih geplak!" Ashilla bersungut sambil mengepalkan tangan. Ia tak akan menahan diri untuk menghajar Vanessa.
"Woi! Vanessa Naya Putri! Keluar lu! Kali ini, gue gak akan pakai panggilan baku ke lu! Gue bakal jadikan lu samsak gue, hari ini! Si Dannies keparat itu bikin gue muak akhir-akhir ini sampai ingin gue tonjok mukanya!" teriak Ashilla dengan amarah membara.
Sisil di belakangnya hanya tersenyum kikuk. Tidak ingin ikut campur karena tidak mau jadi sasaran empuk Ashilla yang sedang marah. Jadi, ia memutuskan diam saja. "Ah, Ash, tunggu aku!" Sisil langsung mengejar Ashilla yang sudah jalan duluan meninggalkannya. Mereka pergi mencari Vanessa di penjuru sekolah.
Hingga sesampainya di kantin, mereka menemukan Vanessa yang sedang makan sambil membalas pesan. "Pasti cowok keparat! Bukannya sekolah yang bener malah pacaran!" Ashilla langsung berlari ke arah meja Vanessa sambil melancarkan tinjunya.
Padahal dia juga sedang pacaran dengan Dannies, dasar. Bahasa cinta Ashilla memang saling adu jotos, batin Sisil sambil menghela napas.
Sementara itu, serangan tiba-tiba dari Ashilla mendarat dengan mulus di wajah Vanessa hingga perempuan itu jatuh tersungkur. Semua perhatian orang-orang tertuju kepada mereka. Bisikan-bisikan mulai memenuhi kantin.
"Habislah sudah, setelah ini rumor buruk tersebar lagi," gumam Sisil.
"Sakit tahu! Kenapa, sih? Lagi makan juga!" seru Vanessa sambil memegang pipinya yang nyeri akibat pukulan Ashilla.
"Kenapa? Sakit? Heh! Lu gue peringatin sekali lagi putuskan cowok yang tidak pernah lu temui itu sebelum menyesal! ancam Ashilla sambil menatap tajam Vanessa.
"Idih! Ogah! Lagian gue ada kok fotonya! Dia seumuran sama sama kita! Terus, dia cerita sekolahnya di mana dan tinggal di mana! Kan, gue udah cerita ke kalian." Vanessa dengan tatapan sinis menjawab lalu berbalik pergi.
"Tunggu!"
Suara berat itu menghentikan langkah Vanessa. Tentu seisi kantin pun perhatiannya beralih ke pemilik suara tersebut. Vanessa berbalik badan dengan tatapan sinis ditunjukkan ke sosok dihadapannya. "Kenapa, Vedol?"
"Ashilla benar, putuskan dia! Gue udah selidiki orang bernama Ardha itu! Alamat, identitasnya, dan sekolahnya itu semua rekayasa saja! Lagian foto yang dia kirim bukan berarti foto asli dia! Kalian kan kenalan lewat aplikasi! Lu gak takut nasibmu kayak murid kelas sebelah?! Murid itu kehilangan keperawannya karena kenal laki-laki asing lewat aplikasi! Memalsukan identitas dan mendekati korban! Lalu, apa lebih gilanya? Laki-laki itu adalah pria dewasa yang seumuran ayah lu! Mau gitu? Mau berakhir kek gitu? Gue tanya!" Vedol menjelaskan panjang lebar dengan nada lantang. Mengeluarkan semua emosi yang selama ini ia tahan demi menjaga martabat Vanessa.
"Kami begini karena khawatir sama lu, Nessa. Jadi, putuskan dia sebelum menyesal. Jika lu berakhir kayak gitu juga gak akan ada yang mau dekat denganmu," ucap Dannies dengan tatapan sinis.
"Gue anggap itu pujian. Lalu, Nessa, ini peringatan terakhir! Kami sampai melakukan kekerasan pada lu dan memakai kata tidak baku dalam panggilan. Ingat lain kali tidak ada peringatan dan kami terpaksa menggunakan kekerasan lebih dari hari ini. Jika perlu, gue turun tangan buat hantam lu. Bukan Ashilla lagi, camkan itu. Yok, cabut."
Setelah perdebatan tersebut, mereka pergi meninggalkan kantin. Tersisa Vanessa yang masih terduduk di lantai dan masih menjadi tontonan orang-orang. Vanessa kembali merenung cukup lama hari itu hingga sepulang sekolah. Vanessa berjalan sambil menundukkan kepala tanpa melihat sekelilingnya.
"Apa aku lakukan selama ini? Bahkan, nilaiku menurun semua. Guru juga memperingatkan aku harus belajar lebih giat. Baiklah, mungkin lebih baik aku menghindari Ardha sementara waktu. Eh, ini di— hmph!"
Ponsel Vanessa terjatuh beserta tasnya setelah ia sampai di halte. Ia dibawa masuk ke mobil dalam kondisi pingsan dan mobil itu melaju dengan cepat.
Seorang perempuan dengan seragam sekolah yang sama bersembunyi tidak jauh dari lokasi Vanessa diculik tersenyum miring. "Nessa, selamat bersenang-senang, ya. Maafkan gue yang melakukan ini. Toh, sudah saatnya lu ketemu dengan pacar lu itu dan gue bisa sama Vedol. Gara-gara lu yang dekat dengannya gue sebagai pacarnya selalu ditinggalin! Ini pembalasan, gue!" Perempuan itu pun pergi dari tempat kejadian dan hari itu Vanessa menghilang.
*** Kabar menghilang Vanessa menguncang keluarganya. David dan Clarrisa mencari-carinya ke mana-mana, tetapi tidak ketemu. Bahkan, David sampai meminta bantuan kakaknya yang seorang polisi ikut membantu. Hasilnya nihil.
"Paman, Tante! Liat ini! Tas dan ponsel Nessa!"
Semua keluarga besar berkumpul melihat barang yang ditemukan. "Di mana kamu temukan ini, Bagas?" tanya kakak David, Dean.
"Di halte tak jauh dari sekolah, Ayah. Omong-omong, Paman David kenapa tidak menjemput Nessa kayak biasanya atau meminta sama aku buat jemput dia?" Bagas beralih bertanya soal Vanessa yang tidak dijemput seperti biasanya.
"Sebelum berangkat kami sudah memberitahunya untuk menunggu di sekolah seperti biasanya, tapi anak itu entah melamun atau apa malah berjalan tanpa arah," jawab David sambil memukul tembok.
"Vid, aku sudah cek rekaman cctv di sekolah dan sekitarnya, tapi sepertinya ada yang menghapusnya karena rekamakan di dekat halte dihapus. Terakhir, Nessa terlihat di gerbang sekolah dan tebakanmu benar dia jalan tanpa arah karena ia tidak ada di rekaman dekat sekolah atau di tempat biasanya ia menunggu jemputan," jelas Dean.
"Sial, berani sekali mereka menculik putriku! Awas saja orang itu!" gerutu David.
"Dek, jika ada nomor asing menelpon kamu angkat saja siapa tahu itu pelaku penculikan Nessa. Jika dia meminta uang tebusan kamu iyain saja demi mendapatkan informasi tempat Vanessa disekap. Sini kujelaskan rencananya," ucap Dean lalu mereka mendengarkan rencana Dean untuk menyelamatkan Vanessa.
"Baiklah, mari kita lakukan. Selama Vanessa selamat," ucap David.
"Oh, iya, hal ini jangan beritahu ibu dan ayah David. Kalau mereka tahu Vanessa diculik nanti ibu pingsan dan ayah sakitnya semakin parah. Keluarga kita jarang ada kelahiran anak perempuan, jadi Vanessa benar-benar harta keluarga ini. Putri keluarga Pradipta satu-satunya di generasi 30." Dean berkata dengan penuh kehati-hatian. "Aku ngomong gini karena mungkin saja Nessa diculik oleh musuh keluarga kita jadi kita perlu berhati-hati," lanjut Dean sedikit berbisik.
"Baik!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi~ malam ini spesial update dalam rangka ultahku. Kangen, gak? Aku agak sibuk sebelumnya dan mempersiapkan alur masa lalu Vanessa yang saling terhubung dengan masa lalu Vedol. Nantikan terus, ya.