Bab 37 - Aira Rahmawati Part 37

285 1 0
                                    

Begitu memasuki kamar, Hanifa langsung menutup pintu dengan perlahan dan menguncinya, memastikan privasi mereka terjaga. Ruangan itu sudah familiar bagi Radit. Ini bukan pertama kalinya ia berada di kamar Hanifa dan melakukan hal-hal yang begitu intim dengannya. Sambil berjalan menuju kasur, Radit tampak tenang, meski di dalam dirinya ada gairah yang mulai membara. Dia duduk di pinggir kasur, matanya tak lepas dari Hanifa yang bersandar di pintu dengan senyuman nakal, siap untuk menggoda kekasihnya.

"Hanifa, lakukan apa yang harus kamu lakukan," perintah Radit dengan nada rendah, penuh gairah. Hanifa tersenyum, sebuah senyum yang penuh godaan dan kepercayaan diri. "Baiklah, sesuai keinginanmu, sayang," jawabnya lembut. Tanpa ragu, dia mulai melangkah pelan, memutar tubuhnya dengan anggun, seakan sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan. Tubuhnya yang masih dibalut chemise sky blue yang tanpa bra, tampak begitu menggoda dalam cahaya lembut kamar. Hanifa tahu betul bagaimana membuat Radit tergoda, dan malam ini dia ingin memberikan yang terbaik.

Hanifa memulai tarian sensualnya, setiap gerakan dipenuhi oleh keanggunan dan gairah. Pinggulnya berayun pelan, memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna, sementara dadanya yang tanpa penyangga di balik chemise itu bergetar lembut setiap kali ia bergerak. Tangan-tangannya dengan lembut menyentuh tubuhnya sendiri, mengusap pinggul dan dada dengan gerakan yang perlahan, seakan membiarkan Radit menikmati pemandangan indah di depannya. Tatapannya penuh dengan godaan, dan setiap langkahnya dirancang untuk menyalakan api hasrat di dalam diri Radit.

Radit menonton dengan mata yang tak berkedip, terpesona oleh penampilan Hanifa. Tangannya perlahan mengelus benjolan di selangkangannya yang semakin jelas terlihat, merespons tarian Hanifa yang semakin panas. "Hanifa, lingerie pilihanmu kali ini sangat membuatku bergairah," pujinya dengan suara berat, matanya masih terfokus pada gerakan Hanifa yang semakin menggoda. Hanifa hanya tersenyum mendengar pujian itu, merasa puas dengan reaksi yang ditimbulkan. Dia terus menari, chemise sky blue yang dia kenakan sejak sebelum Radit datang kini semakin memancarkan pesonanya, membuat setiap detik menjadi semakin intens dan penuh gairah.

Radit tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Hanifa. Tatapannya penuh dengan gairah, terutama saat dia memperhatikan setiap gerakan payudara Hanifa yang berayun mengikuti tarian sensualnya. Setiap goyangan, setiap lengkungan tubuh Hanifa membuat Radit semakin terpesona. Matanya terpaku pada bagian dada Hanifa, memperhatikan dengan penuh kekaguman bagaimana payudara Hanifa yang masih kencang, meskipun usianya telah menginjak 39 tahun.

"Ah... Hanifa... sulit bagiku menolak goyangan payudaramu yang begitu kencang dan seksi. Aku bahkan tidak percaya kalau usiamu sudah 39 tahun, tapi tubuhmu masih terlihat begitu mempesona," puji Radit lagi, suaranya berat, penuh dengan ketertarikan. Sambil terus mengelus benjolan di selangkangannya, Radit semakin tenggelam dalam tarian yang disuguhkan Hanifa, menikmati setiap gerakan yang memamerkan sensualitas wanita itu dengan sempurna.

Hanifa terus menari, mendekatkan dirinya perlahan-lahan kepada Radit. Setiap langkah semakin mendekat, hingga akhirnya dia berhenti tepat di depan Radit yang masih duduk di pinggir kasur. Senyum nakal terbentuk di bibir Hanifa saat matanya tertuju pada benjolan yang terlihat jelas di balik celana jeans Radit. Pandangannya berubah lebih intens, memperlihatkan bagaimana dia siap untuk melanjutkan permainan ini dengan cara yang lebih intim.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hanifa jongkok di depan Radit. Dengan gerakan yang penuh kelembutan namun menggoda, dia menatap Radit sambil berkata, "Sayang, biarkan aku yang menangani ini selanjutnya." Suara Hanifa terdengar rendah dan menggoda, penuh dengan keyakinan. Radit berhenti mengelus benjolan di antara selangkangannya, mempercayakan sepenuhnya kepada Hanifa untuk melanjutkan. 

Hanifa merasakan denyut gairah yang semakin meningkat saat jarinya mengelus benjolan yang sudah mengeras di celana Radit. Dengan lembut, dia menyentuh bagian tersebut, memperhatikan bagaimana Radit terengah-engah, nafasnya berat menandakan ketegangan yang menyelimuti. Tatapan matanya berfokus pada benjolan itu, membuatnya semakin ingin menyentuh dan melihat lebih dalam. "Hanifa, kamu mau lihat lebih jelas lagi bukan? Lepaskan celana jeansku," perintah Radit, suaranya bergetar penuh hasrat. Senyum nakal menghiasi wajah Hanifa, "Ya, aku mau," jawabnya mantap, semakin membakar semangatnya untuk melakukan apa yang diinginkan.

Hanifa  dengan cepat menyentuh ikat pinggang celana jeansnya Radit. Dia mulai membuka ikat pinggang dengan perlahan, merasakan ketegangan di udara. Radit sedikit mengangkat pinggulnya, memberikan bantuan agar celana jeansnya lebih mudah lepas. Ketika celana itu akhirnya terlepas, Hanifa merasakan aliran listrik yang melintasi tubuhnya melihat celana dalam Radit yang sudah terlalu ketat, seakan tak mampu menahan gairah yang membara.

Matanya berbinar saat dia menyadari betapa menyenangkannya pemandangan di depannya. "Biar aku membebaskan punyamu, terlihat sakitkan?" ucap Hanifa dengan nada menggoda, suaranya lembut namun penuh keyakinan. Dia bisa melihat betapa menggairahkannya Radit, dan itu semakin membangkitkan semangatnya untuk melanjutkan. Perlahan, dia meraih sisi celana dalam Radit, merasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya.

Dengan gerakan yang sangat sensual, Hanifa mulai menarik celana dalam Radit ke bawah, memperlihatkan penisnya yang sudah mengeras sepenuhnya. Setiap sentuhannya terasa lembut namun penuh gairah, membuat Radit semakin tenggelam dalam hasrat yang meluap-luap. 

Hanifa memegang batang penis Radit dengan lembut, merasakan urat-urat yang menonjol di sana, menandakan hasrat yang membara. Tatapannya tak lepas dari mata Radit yang penuh antisipasi. "Penis besar dan panjang ini sudah berapa kali menjelajahi vaginaku. Aku sudah tidak sabar ingin merasakannya di dalamku," ucapnya. 

Radit tersenyum mendengarnya. "Sebelum itu, kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan?" tanya Radit, suaranya dalam dan menggoda. Hanifa mengangguk, matanya berkilau penuh semangat. Dengan gerakan yang anggun, dia mencium kepala penis Radit dengan lembut, mengawali petualangan ini. Jari-jarinya menyentuh paha Radit, memberikan sentuhan lembut yang membuatnya bergetar. Hanifa menjilati kepala penis Radit dengan lidahnya, merasakan kehangatan dan rasa asin yang khas. Setiap jilatan membangkitkan desahan dari Radit, membuatnya semakin tenggelam dalam kenikmatan.

Hanifa mulai menjelajahi bagian sensitif itu dengan lebih dalam, lidahnya bergerak perlahan dari kepala menuju batangnya, menjilati seluruh permukaan dengan penuh perhatian. Dia memperhatikan setiap reaksi Radit, memastikan bahwa setiap sentuhan dan gerakannya membuatnya semakin terangsang. Dengan perlahan, Hanifa menggenggam batang Radit, menambah tekanan di bagian bawah saat dia mulai menghisap dengan lembut. Dia menikmati suara desahan Radit, membuatnya semakin bersemangat untuk melanjutkan.

Saat Hanifa menambah kecepatan hisapannya, dia juga memainkan lidahnya di sekitar batang Radit, menjilati dan mengisap dengan penuh semangat. Setiap gerakan yang dilakukan Hanifa menciptakan aliran kenikmatan yang membuat Radit semakin sulit menahan diri. "Ah, ini dia, Hanifa. yang ku tunggu-tunggu setiap saat" kata Radit sambil memerhatikan kepala Hanifa yang bergerak naik dan turun dengan cepat, merespons gerakan tubuhnya yang penuh gairah. Hanifa merasakan ketegangan dan gairah di dalam dirinya semakin meningkat, dan dengan setiap hisapan yang dalam, dia ingin Radit merasakan kenikmatan yang diinginkan oleh kekasihnya tersebut.

Hanifa semakin merasakan gairah membara dalam dirinya saat dia menghisap penis Radit dengan penuh keahlian, seperti seorang bintang porno yang mahir. Baginya, melakukan blowjob bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi merupakan keterampilan yang harus dimiliki setiap wanita. Pengalamannya yang kaya, jauh sebelum menikah dengan mendiang suaminya, membuatnya sangat percaya diri dalam memberikan kepuasan. Dengan setiap gerakan, dia menunjukkan betapa terampilnya dia dalam permainan ini, menciptakan suasana yang penuh dengan keintiman dan hasrat.

Radit merasakan denyut gairah yang semakin mendalam, dan seiring dengan itu, dia tahu bahwa klimaks sudah di ambang pintu. Hanifa juga merasakan gelombang gairah yang semakin kuat dan mempercepat gerakannya, menambah intensitas dan keinginan di antara mereka. Ketika Radit tak kuasa menahan diri, dia menekan kepala Hanifa lebih dalam, membuat batangnya memasuki mulutnya hingga ke rongga mulut. Suara desahan dari Hanifa menggema di ruangan, menambah ketegangan dalam momen tersebut saat sperma mengalir ke tenggorokannya. Rasa panas dan kedekatan itu semakin memicu hasrat mereka, membuatnya semakin sulit untuk berhenti.

Ketika airmata Hanifa mulai membasahi pipinya karena tekanan yang diterimanya, momen itu menjadi semakin intim. Setiap desahan, setiap gerakan meremas paha Radit membuat mereka berdua merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setelah beberapa saat, Radit akhirnya menghentikan tekanan, dan Hanifa segera mengeluarkan penis Radit dari mulutnya, keduanya terengah-engah, merasakan kelelahan dan kepuasan yang luar biasa. Meskipun ada sedikit rasa sakit dan kesulitan bernapas, Hanifa sangat menikmatinya.

Her Secrets: LustTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang