Bab 39 - Aira Rahmawati Part 39

261 3 0
                                    

Radit melanjutkan gerakan ritmisnya dengan percaya diri, membuat Hanifa terpesona. Setiap goyangan pinggulnya terasa sangat menggoda, dan Hanifa tidak bisa menahan desahannya yang semakin lama semakin panjang. Suasana di sekitar mereka semakin intim, menciptakan ketegangan yang sulit diabaikan.

Di bawah kaki mereka, terdapat genangan kecil yang menunjukkan reaksi fisik Hanifa terhadap perasaan terangsangnya. "Ah... ah... ah... aku suka sekali... anal..."  kata Hanifa dengan suara lembut, mengekspresikan kepuasan yang mendalam. Setiap kata yang diucapkannya seolah menambah gairah di antara mereka.

Radit semakin mempercepat gerakan tubuhnya, menciptakan getaran yang membuat Hanifa semakin menjadikan jeritan kenikmatan. Dalam keintiman tersebut, Hanifa merasakan bahwa ukuran penis Radit terasa lebih besar dari sebelumnya, memberikan sensasi yang luar biasa di dalam dirinya. Jeritan dan desahan Hanifa mengisi ruang kamar, menciptakan atmosfer yang penuh dengan gairah.

"Ah... ah... ah... Radit? Kamu mau... keluar? Tahan dulu... aku juga mau sampai," kata Hanifa dengan suara menggoda. Dia merasa gelisah, tetapi juga sangat menikmati setiap detik dari momen tersebut. Permintaan itu menciptakan ketegangan di antara mereka, memperdalam pengalaman yang sedang mereka jalani.

Radit menjawab dengan semangat, "Aku akan berusaha!" Dia terus menggoyangkan pinggulnya, berusaha mengimbangi permintaan Hanifa sambil tetap menikmati keintiman yang semakin intens. Suara desahan keduanya bergema di dalam kamar, dipadukan dengan suara lembut dari kontak tubuh mereka.

Tidak lama kemudian, Radit mempercepat gerakannya dengan lebih intens lagi. Pada gerakan terakhir, dia menekan pinggulnya dengan kuat untuk memastikan benar-benar penisnya masuk bagian paling dalam anus Hanifa. Dengan kekuatan dan kedalaman gerakan itu, mereka akhirnya mencapai klimaks bersamaan, merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa.

Mereka berdua bernafas berat, terlihat lelah setelah momen intim yang intens. Kaki Hanifa sudah tampak lemas saat Radit mencabut penis dari dalam anusnya, menyebabkan Hanifa mendesah sedikit. Ketika Radit menarik keluar,sperma yang telah masuk ke dalam anus Hanifa mengalir keluar dan jatuh ke lantai, bercampur dengan genangan cairan kemaluan Hanifa, menambah kesan erotis dalam suasana tersebut. "Hah... hah... Radit, spermamu berjatuhan... kamu harus memasukannya lagi ke lubang yang lain ya..." protes Hanifa sambil memperhatikan sperma  yang bercampur dengan cairan kemaluan Hanifa di lantai.

Radit membantu Hanifa untuk kembali berdiri dengan normal sebelum menuntunnya menuju kasur. Setelah mereka berbaring, Radit berkata, "Aku akan mewujudkan keinginanmu, lebarkan selakanganmu." Hanifa pun perlahan-lahan melebarkan selakangan, memperlihatkan vaginanya dengan malu-malu. Dia tidak bisa menahan rasa antusiasnya, dan Radit mendekat, mengarahkan penisnya ke arah vagina Hanifa, lalu mulai menggesekkan kepala penisnya dengan lembut.

"Radit, meskipun sudah dua kali keluar, penismu masih mengeras, kamu memang gagah... " puji Hanifa dengan nada menggoda, matanya bersinar penuh nafsu. Radit tersenyum mendengar pujiannya, merasakan semangatnya semakin meningkat. 

"Kalau begitu, aku harus mempercepat goyanganku agar kamu merasakannya lebih dalam," jawab Radit sambil memasukkan penisnya dan mulai menggoyangkan pinggulnya. 

Hanifa tidak bisa menahan jeritan kenikmatan yang keluar dari bibirnya. "Ah... ah... ah... ah... ah... ah..." lirihnya sambil meremas kain seprai pada masing-masing tangannya. Dia benar-benar tenggelam dalam momen itu, menikmati setiap detik dari pengalaman intim mereka.

Suara deritan kasur karena gerakan Radit dan desahan Hanifa menambah suasana yang menggairahkan. Dengan setiap dorongan, Radit merasakan dorongan yang semakin kuat dari Hanifa, mendorongnya untuk terus menggoyangkan pinggulnya. "Lebih cepat, Radit! Aku ingin merasakannya lebih lagi!" seru Hanifa, menambah semangat Radit untuk memberikan kenikmatan yang lebih dalam.

"Ah... ah... ah... ah... ah... enak... sekali..." lirih Hanifa, suaranya penuh dengan kenikmatan. Setiap goyangan Radit membuat payudara besarnya menari mengikuti irama gerakannya, menciptakan pemandangan yang menggairahkan. Sensasi ini semakin meningkat, dan Hanifa merasakan gelombang kenikmatan yang terus mengalir di seluruh tubuhnya. Sambil terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, Radit membungkuk dan menciumnya, mengunci mulutnya dalam ciuman yang penuh gairah. 

Hanifa mendesah dalam ciuman Radit, suaranya meluncur lembut, penuh gairah, saat goyangan pinggul Radit semakin cepat. "hmm... hmm... hmm..." desahnya, mencerminkan betapa nikmatnya momen ini. Dalam detik-detik yang penuh keintiman, keduanya akhirnya mencapai klimaks bersama-sama, terjebak dalam gelombang kenikmatan yang tak tertahankan. "Hmm!! hmm! hmmm!!!!" jerit Hanifa, merasakan sperma Radit mengalir ke dalam dirinya dengan dalam, menciptakan sensasi luar biasa yang menggetarkan jiwa. Tubuh mereka melemah, terjatuh dalam pelukan satu sama lain, seolah dunia di luar sana menghilang.

Setelah momen puncak itu, Radit melepaskan ciumannya dan kembali menggoyangkan pinggulnya dengan lembut. Hanifa, yang merasakan kelelahan sekaligus gairah, lirih meminta, "Ah... ah... Radit... berikan... aku... sedikit... waktu... ah... ah." Namun, Radit hanya tersenyum nakal, mengabaikan permintaan itu, dan mempercepat kembali gerakannya. 

"Aku ingin kamu merasakan lebih," katanya, suaranya penuh semangat, membuat Hanifa tak dapat menahan diri untuk terus tenggelam dalam lautan kenikmatan yang ditawarkan.

Hingga waktu berlalu, mereka bertransformasi ke posisi cowgirl, di mana Hanifa duduk di atas Radit, merasakan kekuatan dan kendali. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, menciptakan hubungan yang intim dan penuh gairah. Namun, Hanifa merasa kesulitan mengimbangi gerakan Radit yang semakin bersemangat, dan dia mulai berusaha lebih keras untuk mengikuti ritme. Setiap gerakan semakin memperdalam rasa koneksi, dan tidak lama kemudian, mereka kembali mencapai orgasme ke sekian kalinya, bersatu dalam puncak kenikmatan yang membara.

Setelah orgasme itu, Hanifa tampak sangat lemas, tubuhnya letih namun puas. Dengan lembut, dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Radit, merasakan kehangatan dan keamanan di sampingnya. "sudah... puas? Aku... sudah... tidak... muda... lagi... jadi aku... kesulitan mengimbangi gerakanmu..." ucap Hanifa dengan nada lelah, namun ada senyuman nakal di wajahnya, menandakan bahwa dia menikmati setiap detik yang mereka lalui bersama.

Dengan kata-kata itu, Hanifa akhirnya tertidur dalam pelukan Radit, meninggalkan jejak kenangan indah dari pengalaman intim yang penuh gairah. Suasana kamar dipenuhi kehangatan dan cinta, menciptakan perasaan tenang setelah keintiman yang mendalam. 

Setelah hubungan intim yang mendalam, Radit dengan hati-hati menurunkan Hanifa yang tertidur dari posisinya di atasnya ke samping. Ia menatap Hanifa yang telanjang dan penuh keringat dengan senyuman dingin, menciptakan kontras antara keindahan dan kerentanan momen tersebut. Tindakan lembut Radit menunjukkan perhatian dan kelembutan setelah pengalaman intim yang mereka lalui, menandakan bahwa meskipun ada keintiman, ada juga jarak emosional yang mungkin ada di antara mereka.

Setelah momen itu, Radit memutuskan untuk meninggalkan kamar tanpa mengenakan pakaiannya, yang menunjukkan rasa percaya diri dan tantangan. Dengan langkah mantap, ia menuju kamar Yulianti sambil mengucapkan, "Baiklah, aku akan menangani yang satunya." 

Sesampainya di depan kamar Yulianti, Radit membuka pintu dengan perlahan, berusaha tidak mengganggu ketenangan malam. Begitu pintu terbuka, pandangannya tertuju pada Yulianti yang tertidur dengan damai, mengenakan gaun tidur yang memikat. Gaun itu terbuat dari bahan satin tipis yang menyelubungi tubuhnya dengan lembut, memancarkan kilau halus di bawah cahaya redup kamar. Setiap lekukan gaun tersebut tampak membelai kulitnya yang mulus, menciptakan siluet yang menggoda di balik kain yang tipis.

Belahan gaun yang rendah dan seksi memperlihatkan lekuk payudara Yulianti, menyoroti keindahan dan kecantikan tubuhnya. Setiap detik yang berlalu, Radit tak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang memikat itu. Kulit Yulianti terlihat sempurna, halus dan bercahaya, menciptakan kontras yang memikat dengan kain gaunnya yang gelap. Dalam keadaan tertidur, dia tampak begitu rentan dan menarik, memikat hati Radit dengan aura sensualitas yang tak terbantahkan.

Semakin Radit mengamati, semakin dia merasakan ketegangan dalam dirinya. Melihat Yulianti dalam gaun tidur yang seksi itu membangkitkan gairah yang terpendam, membakar hasrat yang sulit untuk ditahan. Setiap napas Yulianti yang lembut seolah mengundang Radit untuk mendekat, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Dia membayangkan bagaimana rasanya menyentuh kulitnya yang halus, membelai lekuk tubuhnya yang menggoda.

Her Secrets: LustTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang