Bab 54 - Aira Rahmawati Part 54

174 1 0
                                    

Hanifa dan Radit saling menatap, dan dalam sekejap, keduanya berciuman. Lidah mereka saling beradu, menciptakan sensasi yang membuat Hanifa mendesah. Seluruh tubuhnya terasa sangat sensitif, lebih dari yang pernah dia rasakan jauh sebelum menikah dengan mendiang suaminya. 

Sementara mereka terus berciuman, Radit perlahan meremas kedua payudara Hanifa dengan lembut. Sentuhan hangat telapak tangannya terasa memicu gelombang kenikmatan yang menyalakan seluruh tubuh Hanifa. Melalui gamisnya, Radit merasakan sensasi kenyal yang menyenangkan saat jari-jarinya menyentuh bagian lembut itu. Dia merasakan ketegangan dan kelembutan payudara Hanifa, mengingatkan pada keindahan yang tersembunyi di balik kain.

Ciuman Radit semakin liar dan panas, setiap gerakan lidahnya membuat Hanifa semakin terbuai dalam kenikmatan yang membakar. Tangannya yang tidak pernah berhenti meremas dan memainkan payudara Hanifa membuat tubuhnya gemetar di bawah sentuhan lembut namun kuat itu. Setiap tekanan dan pijatan membuat Hanifa semakin tenggelam dalam keinginan yang sulit dia bendung.

Setelah puas menyesap bibir Hanifa, Radit melepaskan ciumannya perlahan. Napas mereka berdua berat, terdengar menggema di ruangan yang kini penuh dengan ketegangan erotis. Radit menatap Hanifa yang wajahnya memerah, matanya setengah tertutup oleh gairah yang menggulung. Senyuman ringan terlukis di bibir Radit, sementara tangannya masih sibuk menggenggam lembut payudara Hanifa, seolah enggan melepaskannya.

Namun, setelah beberapa saat, Radit berhenti. Dia bangkit dari tempat tidur, dan dengan sengaja memperlihatkan tonjolan yang jelas mencuat di antara selangkangannya, di balik kain boxer yang dikenakannya. Hanifa, dengan napas yang masih berat, perlahan-lahan meraba tonjolan itu dengan jemarinya. Sentuhan hangat tangan Hanifa pada bagian intim Radit membuat napas mereka semakin tersengal. Tatapan mata mereka terkunci, keinginan yang memuncak jelas terlihat di wajah keduanya, menciptakan suasana yang penuh gairah di antara mereka.

Dengan tangan yang masih gemetar oleh gairah, Hanifa perlahan menarik pinggiran boxer Radit, menurunkannya dengan sangat hati-hati. Setiap tarikan kain terasa seolah-olah waktu berjalan lebih lambat, mempertegas ketegangan yang memenuhi ruangan. Mata Hanifa tak lepas dari tonjolan yang semakin jelas, membuat seluruh tubuhnya gemetar oleh antisipasi. Boxer itu perlahan jatuh ke lantai, memperlihatkan kemaluan Radit yang telah membuatnya tergila-gila sejak pertama kali mereka bersatu dalam kenikmatan.

Di hadapannya, kemaluan Radit berdiri dengan gagah, tegak sempurna, dan terlihat begitu menantang. Pandangan Hanifa terpaku pada kepala kemaluan Radit yang sudah membiru, menandakan betapa siapnya Radit untuk melampiaskan hasrat yang mendidih di dalam tubuhnya. Cairan bening sudah terlihat di ujungnya, mengisyaratkan bahwa Radit hampir mencapai batasnya. Hanifa terdiam sesaat, merasakan getaran keinginan yang begitu kuat di dalam dirinya. Dia tahu bahwa sebentar lagi cairan kental yang selalu dinantikannya akan segera hadir, dan tubuhnya sudah bersiap untuk menerima serta menikmati setiap tetesnya.

Hanifa memegang batang kemaluan Radit dengan kedua tangannya, menatapnya penuh gairah sambil mengeluarkan desahan kecil dari mulutnya. Dengan perlahan, dia mulai menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah dengan kecepatan yang teratur, setiap gerakan menambah intensitas yang membara di antara mereka.

Radit menutup matanya, menikmati goyangan tangan Hanifa yang lembut namun penuh semangat. Ia menggoyangkan pinggulnya mengikuti ritme yang diciptakan oleh Hanifa, memperdalam kenikmatan yang mereka rasakan. Suasana semakin intens, dipenuhi dengan desahan dan suara sensual yang meluncur dari bibir mereka. Keduanya tenggelam dalam arus hasrat, tidak ingin melepaskan momen yang penuh gairah ini.

Hanifa berhenti sejenak, melepaskan batang kemaluan Radit dari genggamannya. Dia mengalihkan fokusnya, membungkuk sedikit, dan dengan lembut menjulurkan lidahnya, menjelajahi kepala kemaluan Radit. Dia mulai mengelilingi bagian sensitif itu dengan lembut, merasakan getaran gairah yang memancar dari Radit.

Dengan pelan, Hanifa membuka mulutnya, lalu perlahan-lahan mengambil batang kemaluan Radit ke dalam mulutnya. Dia melakukannya dengan hati-hati, membiarkan ujungnya menyentuh langit-langit mulutnya. Dia mulai menghisap perlahan, menciptakan tarikan yang hangat dan menggoda. Suara desahan Radit menggema di sekeliling mereka, semakin menambah suasana penuh gairah.

Hanifa memfokuskan semua perhatian pada Radit, merasakan setiap detak jantung dan napasnya. Dia bergerak dengan ritme yang teratur, menghisap dengan dalam, kemudian menariknya kembali sedikit untuk memberikan sensasi yang berbeda. Lidahnya menjelajahi permukaan batang kemaluan Radit, menambah rangsangan yang membuatnya semakin terbuai. Suasana semakin panas, di mana setiap gerakan Hanifa menciptakan gelombang kenikmatan yang membuat mereka tak bisa berhenti dari satu sama lain.

Hanifa semakin terlarut dalam aksi yang menggoda, setiap gerakannya penuh dengan keinginan dan sensualitas. Dia mulai mempercepat ritme hisapannya, menambahkan sedikit tekanan saat dia mengangkat dan menurunkan kepalanya, membuat Radit merasakan kombinasi antara kelembutan dan ketegangan yang memuncak.

Saat menghisap, Hanifa tidak hanya fokus pada gerakan mulutnya. Dia juga memperhatikan reaksi Radit, bagaimana napasnya semakin berat dan suara desahannya semakin nyaring. Setiap kali dia memperdalam hisapannya, dia bisa merasakan batang kemaluan Radit semakin keras dan membesar di dalam mulutnya. Hal ini membuatnya semakin bersemangat, dan dia berusaha memberikan yang terbaik untuk memuaskan Radit.

Dia juga mulai menggerakkan lidahnya dengan lincah, menciptakan pola-pola yang menggoda di sekitar batang kemaluan Radit. Lidahnya menyapu bagian bawah dan atas, dan sesekali dia menambahkan sedikit hisapan di bagian sensitif yang membuat Radit semakin tergila-gila.

Hanifa, dengan kemaluan Radit masih di dalam mulutnya, mengangkat pandangannya sejenak ke arah Radit. Matanya menyiratkan hasrat yang mendalam, dan meskipun mulutnya sibuk, dia berusaha mengucapkan beberapa kata yang terdengar samar. Dengan suaranya yang lembut, dia berbisik di sela-sela hisapannya, kalimat-kalimat yang mengandung rasa gairah:

"Kamu suka ini, kan?" bisiknya dengan penuh godaan, suaranya terdengar rendah dan serak. Dia kembali menghisapnya dengan lembut, namun tetap membuat Radit merasakan sensasi yang intens.

"Rasanya... begitu keras untukku..." lanjutnya lagi, sambil menggerakkan mulutnya lebih dalam, memberikan Radit sensasi yang lebih kuat. Hanifa sesekali berhenti sebentar untuk mengucapkan kata-kata yang menggoda sebelum kembali melanjutkan aksinya. Setiap kata yang dia ucapkan semakin membakar gairah di antara mereka, membuat Radit semakin terbawa dalam kenikmatan yang tiada tara.

Hanifa terus menghisap dengan lembut, sesekali mengeluarkan kemaluan Radit dari mulutnya untuk memberikan jeda singkat, sebelum mengucapkan kalimat-kalimat yang penuh godaan. Napasnya terengah, namun senyum tipis terlihat di wajahnya saat dia menatap Radit.

"Aku bisa merasakan betapa kamu menikmatinya," bisiknya dengan suara menggoda, sebelum kembali memasukkan kemaluan Radit ke dalam mulutnya, kali ini lebih dalam. Dia memberikan tekanan lebih kuat dengan bibirnya, membuat Radit semakin tenggelam dalam kenikmatan.

"Apakah kamu ingin aku berhenti... atau teruskan sampai kamu tidak tahan lagi?" tanyanya sambil sesekali menjilat lembut, matanya tetap terkunci dengan mata Radit, memberikan tantangan yang jelas. Suara desahannya menambah sensualitas suasana, membuat Radit semakin gila dengan setiap sentuhan dan kata-kata yang keluar dari mulut Hanifa.

Radit hanya bisa mendesah lebih keras, tak sanggup merespons dengan kata-kata, hanya tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan oleh Hanifa. Hanifa menyesuaikan ritme dan intensitas hisapannya berdasarkan desahan dan reaksi Radit. Dia semakin terlarut dalam suasana, merasa berkuasa dengan setiap gerakan yang membuat Radit terbuai. Saat menghisap, dia menambahkan gerakan lidahnya yang lincah, menjelajahi setiap bagian dengan penuh perhatian.

"Begini? Apa kamu suka?" Hanifa bertanya dengan nada menggoda, sembari terus menggoyangkan kepalanya. Dia bisa merasakan betapa tegangnya Radit, dan itu hanya memicu hasratnya untuk memberikan lebih banyak kenikmatan.

Radit merespons dengan desahan dalam, kepalanya terlempar ke belakang seolah tak mampu menahan rasa yang semakin membara. "Ya, teruskan... tolong, Hanifa..." suaranya serak, penuh permohonan yang tak terucap.

Hanifa tersenyum mendengar kata-kata Radit, merasakan dorongan untuk membuatnya mencapai puncak. "Kau tahu, aku sudah lama menginginkan momen ini..." ujarnya dengan nada menggoda, sebelum kembali menenggelamkan kemaluan Radit ke dalam mulutnya, lebih dalam dan lebih bersemangat.

Dengan tangan yang sudah bebas, dia mulai membelai paha Radit, menambah keintiman di antara mereka. Setiap gerakan semakin membuat Radit tak berdaya, terperangkap dalam gelombang kenikmatan yang luar biasa.

Her Secrets: LustTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang