Hanifa dan Radit menikmati hidangan mereka dengan penuh kelezatan. Suasana hangat di dalam pondok membuat setiap suapan terasa lebih nikmat. Mereka berbicara, tertawa, dan berbagi cerita, sehingga waktu seolah melupakan mereka. Ketika piring dan gelas mereka hampir kosong, keduanya saling pandang dengan senyum puas.
Setelah selesai, mereka mengambil waktu sejenak untuk beristirahat, membiarkan aroma makanan dan suasana malam menyelimuti mereka. Tak lama kemudian, seorang pelayan lainnya datang untuk mengumpulkan piring dan gelas kotor mereka. Dengan sopan, pelayan itu mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan mereka berdua dalam kebersamaan.
Radit menatap Hanifa yang duduk bersandar di dinding pondok, terlihat sedikit bingung dan wajahnya merona. "Hanifa, kamu kenapa?" tanyanya, mencoba meraih tangan kanan Hanifa. Namun, Hanifa mendadak tersentak kaget, tubuhnya seolah terkejut listrik ketika Radit menyentuhnya.
"Eh... loh... kenapa... aku seperti ini? Tubuhku... rasanya panas," pikir Hanifa, merasakan sesuatu yang aneh merayapi seluruh tubuhnya. Napasnya mulai terasa berat, dan dia berusaha menenangkan diri. "Nggh... seluruh tubuhku mulai terasa aneh..." batinnya, merasakan gelombang kehangatan yang tidak biasa.
Di sampingnya, Radit hanya tersenyum dingin, menyadari perubahan yang terjadi pada Hanifa. Dia tahu betul bahwa parfum yang dia gunakan mengandung aroma yang bisa meningkatkan gairah seksual wanita manapun. Dia berusaha setenang mungkin, tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Hanifa.
"Hanifa?" tanya Radit, suaranya lembut namun penuh perhatian.
Hanifa memandang Radit dengan napas yang masih berat, dan tanpa sadar, kata-kata itu meluncur dari bibirnya. "Radit, kamu mencintaiku, bukan?" Dia menunggu jawaban Radit dengan harapan yang menggebu.
Radit mengangguk, matanya menatap Hanifa dengan serius. Dia menunggu saat yang tepat, penuh rasa ingin tahu. "Iya, Hanifa. Aku mencintaimu."
Dengan keberanian yang tiba-tiba muncul, Hanifa melanjutkan, "A-nu... kamu... tertarik... dengan tubuh... wanita... dewasa?" Suaranya bergetar, tidak sepenuhnya sadar akan kata-katanya sendiri.
Radit, tak ingin melewatkan kesempatan ini, membalas pertanyaan Hanifa dengan perlahan meremas payudara Hanifa dengan lembut. Hanifa mendesah, menikmati sentuhan yang membuatnya merasakan ledakan rasa. "Aku tahu, kamu selama ini menahan diri untuk tidak memintaku menidurimu, bukan?" tanyanya, suaranya kini lebih berani. "Hanifa, katakan sejujurnya kepadaku."
Dengan napas yang semakin berat, Hanifa merasakan desiran gairah menyelimuti tubuhnya. Dia menatap Radit dalam-dalam, mencoba membaca ekspresi di wajahnya, merasakan ketegangan yang mulai menghangat di antara mereka. Keinginan itu semakin kuat, dan Hanifa tahu bahwa malam ini, segala sesuatunya mungkin akan berubah.
Hanifa menggelengkan kepala, berusaha menolak dengan keras apa yang dia rasakan. "Tidak, Radit! Aku tidak... tidak mungkin begitu mesum sampai menginginkan kamu meniduriku," ucapnya, meski desahan yang keluar dari mulutnya bertolak belakang dengan kata-katanya. Dia merasakan sensasi aneh mengalir di tubuhnya, membuatnya semakin bingung. "Kenapa tubuhku bisa se-sensitif ini?" pikir Hanifa, nafsu yang melanda semakin tidak bisa dia kendalikan.
Di dalam hati kecilnya, dia mulai mempertanyakan apakah selama ini dia memang berharap hari ini akan tiba. Namun, suara rasional di kepalanya bertarung dengan perasaan yang mulai menguasai dirinya. Radit hanya tersenyum, melihat kebingungan di wajah Hanifa, sebelum akhirnya dia berhenti meremas payudara Hanifa.
Dengan lembut, Radit mendekati pintu pondok dan menutupinya dengan terpal. Hanifa merasa berdebar saat melihat tindakan Radit. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, nada suaranya campur aduk antara rasa penasaran dan kekhawatiran.
Radit menatapnya dengan penuh percaya diri. "Tempat ini sering digunakan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas mesum bersama pasangannya. Mereka biasanya membayar biaya tambahan saat menyelesaikan pesanan," ujarnya, membuat Hanifa tersentak.
Dia mulai menyadari bahwa Radit memang sengaja memilih tempat ini, tempat di mana mereka bisa lebih intim tanpa gangguan. Senyum menggoda muncul di wajah Hanifa saat dia menatap Radit. "Kalau kamu mau melakukan ini denganku, kenapa kamu tidak mengatakannya? Kita bisa pergi ke hotel atau semacamnya," ucapnya, suaranya lebih percaya diri.
Wajah Hanifa kini sudah sepenuhnya dipengaruhi oleh efek parfum yang telah disemprotkan oleh Radit. Jantungnya berdetak semakin kencang saat Radit kembali mendekatinya, dengan tatapan yang semakin intens. Hanifa merasakan tubuhnya semakin panas, seolah terjebak dalam gejolak yang tidak bisa ia kendalikan. Napasnya makin berat, dan suara hatinya yang mencoba menolak semakin lemah tertutupi oleh hasrat yang semakin membakar.
Radit, dengan gerakan yang halus, meremas payudara Hanifa dengan lembut. Hanifa mendesah pelan, matanya terpejam, merasakan sentuhan itu semakin membangkitkan sensasi yang ia coba tolak sejak awal. "Radit..." lirihnya, nyaris tanpa sadar. Dia tahu ada sesuatu yang salah, tapi tubuhnya terasa terlalu lemah untuk melawan apa yang ia rasakan saat ini.
"Aku tahu, Hanifa. Kamu juga menginginkan ini," bisik Radit dengan suara rendah di telinganya, tangannya bergerak lebih intim, membuat Hanifa semakin larut dalam perasaan yang campur aduk. Hanifa hanya bisa menggigit bibir, berusaha menahan diri, tapi tubuhnya berbicara sebaliknya, semakin merespons setiap sentuhan Radit.
Hanifa merasa semakin sulit bernapas, sementara pikirannya terombang-ambing di antara kenyataan dan pengaruh aroma yang mengendalikan tubuhnya. "Tidak... aku tidak boleh..." ucap Hanifa, meskipun kata-katanya terdengar lemah dan tidak yakin.
Radit tersenyum tipis, mengetahui bahwa pengaruh parfum itu telah bekerja sepenuhnya. Dia menunduk, memandang Hanifa yang kini sepenuhnya berada di bawah pengaruhnya. "Tidak perlu khawatir, Hanifa. Nikmati saja malam ini bersamaku," ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hanifa, membuat jarak di antara mereka semakin menipis.
Di dalam pondok, desahan Hanifa terdengar jelas, semakin berat dan penuh gairah. Tubuhnya mulai kehilangan kendali, merespons setiap sentuhan Radit. "Hanifa, jangan ragu untuk mendesah sesukamu. Pondok ini dirancang untuk kenyamanan privasi pengunjung. Keluarkan semuanya," bisik Radit dengan nada yang dalam dan menggoda, tangannya semakin erat menggenggam tubuh Hanifa. Suara lembutnya membuat Hanifa merasa lebih terbuai, meski perasaan malu masih menyelinap di benaknya.
"Ah... tapi... aku... malu..." lirih Hanifa, suaranya bergetar, mencoba menahan desahannya. Sudah dua bulan lamanya ia tidak disentuh oleh lelaki, dan tubuhnya kini bereaksi lebih sensitif dari sebelumnya. Setiap sentuhan yang diberikan Radit seolah-olah membangkitkan seluruh kepekaannya yang telah lama terpendam. Tangannya gemetar, jantungnya berdebar lebih cepat, seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. "Tidak perlu merasa malu, Hanifa. Ini adalah momen kita. Nikmati saja," ujar Radit, membisikkan kata-kata itu dengan penuh pengaruh.
Radit semakin mempercepat gerakannya, meremas payudara Hanifa dengan lebih liar dan intens, membuat Hanifa tidak bisa lagi menahan diri. "Ah... ah... Radit... enak... sekali..." desahnya dengan napas yang semakin tidak teratur, matanya terpejam merasakan gelombang kenikmatan yang membanjiri tubuhnya. Sudah terlalu lama ia menahan diri, dan sekarang, semua hasrat yang selama ini terpendam seolah meledak keluar dalam satu sentuhan Radit. Tubuh Hanifa bergetar hebat, respons fisiknya semakin liar dan tidak terkendali.
Setiap detik terasa seolah membawa Hanifa semakin mendekati puncak kenikmatan. Sentuhan Radit yang penuh kontrol di payudaranya mengirimkan sengatan panas ke seluruh tubuhnya. "Ah... ah... aku tidak tahan lagi..." lirih Hanifa, suaranya hampir putus-putus. Radit bisa merasakan perubahan di tubuh Hanifa, bagaimana setiap desahannya semakin panjang dan napasnya semakin dalam. Dia tahu Hanifa sudah berada di ambang batas.
Akhirnya, Hanifa mencapai klimaks. Tubuhnya menegang seketika, kemudian gemetar hebat saat gelombang kenikmatan yang dahsyat melanda. Suara desahannya semakin tinggi, diikuti dengan hembusan napas yang terdengar berat. "Ahhh... Radit...!" jeritnya, tidak mampu lagi menahan ledakan emosi dan gairah yang menguasai dirinya. Tubuhnya yang sudah lama tidak disentuh lelaki akhirnya menyerah sepenuhnya pada sensasi yang menaklukkan semua logikanya.
Radit tersenyum puas, melihat Hanifa mencapai puncak kenikmatan. "Kamu lihat, Hanifa? Ini semua untukmu. Aku tahu kamu bisa merasakannya," bisiknya dengan suara yang dalam. Hanifa terkulai di pelukannya, tubuhnya masih gemetar dengan sisa-sisa klimaks yang baru saja dialaminya. Keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya masih terengah-engah, seolah tidak percaya dengan intensitas perasaan yang baru saja dirasakannya setelah dua bulan penuh penantian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Her Secrets: Lust
Romansa⚠️Warning: Khusus Dewasa ⚠️ Jangan sungkan memberikan komentar dan bantu naik dengan vote, oke? Sinopsis setiap wanita memiliki satu atau banyak rahasia dalam hidupnya, terlepas dari sisi baik maupun positifnya. Ikuti cerita mereka disini.