Bab 52 - Aira Rahmawati Part 52

177 2 0
                                    

Radit mendekatkan tubuhnya kembali pada Hanifa, menghirup aroma tubuhnya yang masih lembap karena aktivitas sebelumnya. Dia melayangkan ciuman lembut di bibir Hanifa, semakin mendalam seiring napas mereka yang kembali tak teratur. Tangannya, yang tadi hanya menyinggahi payudara kanan Hanifa, kini meremasnya dengan lebih kuat namun tetap penuh kasih. Jari-jarinya mengelus lembut kulitnya yang hangat, membuat Hanifa mendesah kecil di antara ciuman mereka.

Saat Radit melepaskan ciumannya, ia menatap Hanifa dengan pandangan penuh nafsu. Bibirnya melengkung dalam senyuman menggoda, dan dengan suara serak, dia berkata, "Masih ada sedikit waktu, ayo kita lanjutin lagi. Mumpung kamu masih telanjang." Radit menyeringai nakal, matanya tidak lepas dari tubuh Hanifa yang masih berbaring di sampingnya.

Hanifa tersenyum tipis, wajahnya yang letih masih memancarkan aura kepuasan, namun jelas keinginan untuk lebih masih ada di dalam dirinya. Dia meraih tangan Radit yang masih berada di payudara kanannya, menggenggamnya erat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Ya... lanjutkan, Radit," bisiknya sambil menatapnya dengan pandangan yang penuh gairah.

Radit segera merespon, menurunkan bibirnya ke leher Hanifa, meninggalkan jejak ciuman panas di sepanjang kulitnya. Tubuh mereka kembali menyatu dalam hasrat membara mengabaikan langit yang masih gelap.

Tiga puluh menit berlalu, dan Hanifa terbaring di atas tikar dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya terlihat sangat lemas. Keringat mengalir membasahi kulitnya yang bercampur dengan sisa-sisa sperma yang mengalir dari tubuhnya, memberikan kilau lembap di bawah cahaya redup pondok. Wajahnya memancarkan kelelahan yang teramat sangat, namun juga kepuasan yang tak bisa disangkal.

Radit, yang masih duduk di sebelah Hanifa, menatapnya dengan senyum tipis penuh kemenangan. Dengan gerakan santai, dia mengenakan kembali pakaiannya, satu per satu, hingga akhirnya dia kembali sepenuhnya berpakaian. Setelah selesai, dia berdiri dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, pandangannya tak lepas dari Hanifa yang masih terbaring di tikar.

Hanifa, meskipun tubuhnya masih terasa lelah, perlahan duduk dan meraih handuk kecil yang tergeletak di dekatnya. Dia berdiri dengan langkah gontai, lalu mulai membasuh tubuhnya yang dipenuhi keringat dan sisa kenikmatan seadanya. Gerakannya lambat, seolah setiap inci kulitnya masih merasakan dampak dari apa yang baru saja mereka lakukan.

Setelah merasa tubuhnya cukup bersih, Hanifa mengenakan kembali pakaiannya dengan sedikit gemetar, tangan-tangannya masih agak lemah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang perlahan kembali normal, sementara pikirannya berusaha kembali ke realita. "Aku harus segera pulang," gumamnya pelan, matanya menatap Radit dengan sedikit senyum lelah, tapi puas.

Hanifa dan Radit keluar dari pondok mereka, dan sinar matahari pagi yang terang menyambut wajah-wajah yang baru saja terbangun dari malam penuh gairah. Pondok-pondok di sekitar mereka tampak ramai, banyak pasangan lain juga keluar dari tempat persembunyian masing-masing, dengan wajah lelah namun bahagia. Hanifa sedikit menunduk, merasa malu, karena ia tahu bahwa pondok-pondok di sini memang sering dihuni oleh pasangan yang mabuk asmara, dan malam itu, mereka tidak sendirian dalam petualangan liar tersebut.

Radit berjalan dengan santai di sampingnya, tampak tak terlalu peduli dengan sekitarnya. Hanifa, di sisi lain, berusaha menenangkan diri dan menjaga sikapnya agar terlihat tenang. Meski rasa malu sedikit menghantui, ia tak bisa menghilangkan kilasan kenangan dari malam yang baru saja berlalu. Setiap langkah yang diambilnya membuat tubuhnya yang masih sedikit lemas terasa berat, tetapi ia berusaha menyembunyikannya.

Saat mereka mencapai meja counter di pintu keluar, seorang pelayan muda dengan seragam rapi menyambut mereka dengan senyuman profesional. "Selamat pagi, Ibu. Semoga malam Anda menyenangkan. Apakah Anda ingin menyelesaikan pembayaran sekarang?" tanya pelayan tersebut dengan nada sopan.

Hanifa mengangguk pelan, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Dia memberikan uang itu kepada pelayan sambil berkata, "Ya, saya ingin membayar untuk sewa pondok, makanan, dan layanan privasi tambahan."

Pelayan itu memeriksa total tagihan di buku kecilnya dan tersenyum lagi, "Baik, totalnya untuk sewa pondok, makanan, dan layanan privasi sebesar 1 juta rupiah. Semua sudah termasuk." Hanifa mengangguk, menyadari bahwa harga tersebut sudah mencakup makanan yang disajikan semalam dan juga tambahan layanan privasi khusus yang membuat malam mereka terhindar dari gangguan.

Pelayan itu menerima uang yang diberikan Hanifa, menghitungnya dengan cekatan, lalu mengembalikan sisa kembalian jika ada. "Terima kasih, Ibu. Semoga Anda puas dengan layanan kami. Jika ada hal lain yang Anda butuhkan di lain waktu, kami akan dengan senang hati melayani." Pelayan itu memberikan senyum sopan sebelum menyimpan catatan pembayaran dan mengakhiri transaksinya.

Hanifa mengucapkan terima kasih singkat, masih merasa sedikit canggung. Radit, di sebelahnya, hanya tersenyum santai dan mengangkat alisnya seolah tak peduli dengan situasi yang baru saja mereka alami. Setelah menyelesaikan urusan di meja counter, mereka pun melangkah keluar, meninggalkan area pondok yang kini semakin ramai oleh pasangan-pasangan lain yang juga bersiap untuk pulang.

Hanifa dan Radit pun masuk kembali ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, dan perlahan mereka meninggalkan tempat itu, menandakan berakhirnya kencan mereka yang penuh gairah. Di sepanjang perjalanan, suasana terasa sedikit hening, tetapi keheningan itu diwarnai oleh rasa nyaman di antara mereka. Hanifa mengendarai mobilnya dengan tenang, sambil sesekali melirik Radit yang duduk di sebelahnya, tampak santai dan tersenyum tipis.

Mereka tiba di simpang tempat Radit menunggu semalam. Radit bersiap turun dari mobil, tetapi sebelum itu, Hanifa mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Radit dengan lembut. "Sampai jumpa lagi ya, sayang," ucapnya manis. "Hari ini kamu mau ke sekolah, bukan? Jangan sampai terlambat ya," tambahnya dengan suara lembut, namun sedikit bercanda.

Radit tersenyum hangat, menatap Hanifa dengan pandangan yang penuh rasa sayang. "Iya, aku tidak akan terlambat. Terima kasih untuk semuanya," jawabnya. Setelah itu, ia membuka pintu dan keluar dari mobil. Dengan lambaian tangan terakhir, Radit melangkah pergi, meninggalkan Hanifa yang masih duduk di belakang kemudi, mengawasinya hingga ia hilang dari pandangan.

Setelah Radit pergi, Hanifa menarik napas panjang dan mengambil cermin kecil dari dashboard mobil. Dengan hati-hati, ia merapikan hijabnya yang sedikit berantakan setelah kencan mereka. Setelah yakin semuanya sudah rapi, Hanifa mulai mengarahkan mobilnya menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Hanifa mendapati suasana rumah sudah ramai dengan aktivitas pagi. Yulianti, anaknya, sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Hanifa mengamati putrinya yang mengenakan seragam rapi, lengkap dengan tas sekolah di pundaknya. Namun, ada satu hal yang membuat Hanifa terkejut.

"Karina? Kamu menginap di rumah kami?" tanya Hanifa begitu menyadari bahwa Karina, teman Yulianti, juga sudah mengenakan seragam sekolahnya dan tampak siap untuk berangkat.

Karina tersenyum, mendekati Hanifa dengan penuh keakraban, lalu mencium pergelangan tangan Hanifa sebagai tanda hormat. "Iya, Tante. Soalnya Yulianti nggak bisa tidur sendirian tadi malam," ucap Karina sambil tersenyum menggoda, melirik Yulianti yang berdiri di sebelahnya.

Yulianti, merasa tersindir, segera mencubit pinggang Karina dengan kesal, "Ih, Karina, jangan bilang-bilang dong!" ucapnya dengan nada setengah bercanda. Karina hanya tertawa kecil, menikmati reaksi temannya.

Hanifa tersenyum melihat keakraban mereka. "Karina, bukannya sekolahmu berbeda dengan Yulianti, bukan? Mau aku antarkan ke sekolahmu?" tawarnya dengan ramah.

Namun, Karina menggelengkan kepala dengan sopan. "Tidak perlu, Tante. Aku naik angkot saja sama Yulianti. Kami satu angkot kok, jadi nggak repot," jawab Karina sambil tersenyum.

Hanifa mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan, ya," ucapnya lembut. Yulianti pun berpamitan pada ibunya, begitu juga Karina. Mereka berdua kemudian berjalan bersama, meninggalkan rumah untuk pergi ke sekolah masing-masing.

Hanifa berdiri sejenak di depan pintu, mengamati punggung Yulianti dan Karina yang semakin menjauh. Ia merasa lega melihat anaknya begitu ceria, dan sedikit tersenyum sendiri mengingat bagaimana malamnya berakhir, sebelum kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan tenang.

Her Secrets: LustTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang