Dina dan Rani tersenyum puas setelah melihat Aira mencapai klimaks. Suasana di kamar mandi masih dipenuhi dengan kehangatan dan sisa-sisa gairah yang belum padam. Dina perlahan berjalan menuju bathtub, duduk di pinggirannya dengan gerakan anggun. Sesampainya di sana, dia melebarkan kakinya, memperlihatkan kemaluannya yang sudah basah, seolah mengundang Aira untuk memperhatikannya lebih dekat.
Aira memandang dengan tatapan terpana ketika Dina mulai menghisap jari manis dan telunjuknya secara bersamaan, matanya tak lepas dari Aira. Gerakan itu lambat, sensual, dan penuh gairah. Setelah beberapa saat, Dina memasukkan kedua jari itu ke dalam kemaluannya sendiri. "Ah... Bu Aira... tidak kah Ibu melihat aku sudah sangat basah?" bisiknya penuh godaan. "Mau menjilatinya?" tanyanya dengan suara menggoda, sambil terus memasukkan dan mengeluarkan dua jarinya dengan cepat, membuat gerakan yang semakin memicu gairah di antara mereka.
Rani, yang berdiri di dekat Aira, menatap pemandangan itu dengan senyum kecil di bibirnya. Dina mendekatkan diri ke telinga Aira yang masih memerah dan berbisik dengan lembut, "Bu Aira, habis Dina, tolong urus punyaku juga, ya."
Aira menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdegup kencang saat melihat Dina dengan begitu terbuka memainkan kemaluannya sendiri. Sensasi yang ia rasakan begitu campur aduk—antara rasa lelah yang masih membebani tubuhnya dan gairah yang kembali membara di dalam dirinya. Meskipun tubuhnya terasa berat, Aira merasa tak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Dina.
Dengan langkah pelan, Aira berjalan mendekati bathtub tempat Dina duduk. Dia lalu berlutut di depan Dina, menopang tubuhnya dengan kedua lutut yang gemetar, sementara pandangannya tak lepas dari tangan Dina yang terus memasukkan dan mengeluarkan jari-jarinya dari kemaluannya sendiri. Setiap gerakan yang dibuat Dina begitu memikat, dan Aira merasa terhipnotis oleh pemandangan di depannya.
Dari posisinya yang lebih rendah, Aira mengamati bagaimana Dina dengan penuh kenikmatan terus melakukan masturbasi. Suara basah dari gerakan jari-jari Dina semakin membuat suasana menjadi panas. Nafas Dina yang terengah-engah berpadu dengan desahannya, dan Aira dapat merasakan keinginan kuat yang menguar dari tubuh gadis itu. Tanpa bisa mengalihkan pandangannya, Aira hanya bisa duduk di sana, memandangi Dina yang menikmati dirinya sendiri di hadapannya.
Aira merasakan keinginan di dalam dirinya mulai bangkit lagi, meskipun kelelahan masih membebani. Tubuhnya seolah tak bisa menolak apa yang sedang terjadi di depannya. Tatapannya semakin dalam, dan dengan jarak sedekat itu, ia bisa merasakan getaran di udara antara mereka berdua, seakan-akan mereka sedang terhubung oleh gairah yang sama.
"Ah... ah... ah...," Dina mendesah keras, suaranya terdengar serak dan penuh kenikmatan. "Dilihat oleh orang lain saat sedang masturbasi memang sangat enak sekali..." ucapnya, tatapannya tak lepas dari Aira yang masih berlutut di depannya. Ada kebanggaan dan kepuasan tersirat dalam suaranya, seolah dia menikmati sepenuhnya bagaimana Aira mengamati setiap gerakannya dengan tatapan yang penuh gairah.
Sementara itu, di bawah aliran air shower, Rani berdiri sambil mengamati pemandangan yang terjadi di antara Dina dan Aira. Perlahan, dia mulai meremas payudara kanannya dengan tangan kanannya, menikmati setiap sensasi yang muncul. Tangan kirinya bergerak ke bawah, menyentuh dan memainkan vaginanya sendiri, seolah terpicu oleh apa yang ia saksikan. Nafasnya mulai terengah-engah, suara desahannya semakin terdengar jelas di dalam kamar mandi yang penuh gairah itu.
"Dasar... Dina... kamu... benar-benar... mesum...," kata Rani dengan suara berat dan penuh nafsu, sambil terus meremas payudaranya sendiri. "Tapi... aku... menyukainya..." lanjutnya, matanya kini setengah terpejam, membiarkan dirinya terhanyut dalam kenikmatan yang dia rasakan. Tubuh Rani mulai bergerak mengikuti irama sentuhannya sendiri, semakin membenamkan dirinya dalam gelombang gairah yang terus meningkat.
Dina mempercepat gerakan jarinya, memasukkan dan mengeluarkannya dari vaginanya dengan semakin cepat, napasnya semakin berat dan terdengar keras. Tubuhnya mulai bergetar, matanya terpejam rapat saat ia mendekati puncak kenikmatan. Desahannya berubah menjadi erangan yang semakin intens, dan dalam hitungan detik, tubuh Dina mengejang dengan keras. Gelombang klimaks menghantamnya dengan kuat, dan tanpa bisa dikendalikan, cairan keluar dari vaginanya, memercik ke arah Aira yang berlutut di depannya. Sebagian dari cairan itu mengenai wajah Aira, membuatnya terkejut namun tak mampu bergerak, terpaku oleh pemandangan yang baru saja terjadi di depannya.
Aira menatap Dina yang kini terengah-engah, tubuhnya masih gemetar akibat klimaks yang begitu kuat. Dina tersenyum kecil di tengah kelelahan yang melandanya, merasa puas dengan apa yang baru saja ia alami. Sementara itu, Rani, yang masih berada di bawah shower, ikut terhanyut dalam intensitas momen tersebut. Tangannya yang terus memainkan vaginanya sendiri semakin cepat, diiringi dengan remasan payudara kanannya yang semakin kuat.
Tak lama kemudian, Rani juga mencapai puncaknya. Tubuhnya melengkung sedikit ke belakang, bibirnya terbuka untuk mengeluarkan erangan panjang. Air dari shower yang mengalir deras ke tubuhnya seolah menambah intensitas klimaks yang ia rasakan. Cairan kenikmatannya pun mengalir di antara jari-jarinya, dan Rani berdiri dengan tubuh lemas, membiarkan diri terhanyut dalam momen puas yang membanjiri seluruh inderanya.
Di tengah kesunyian kamar mandi yang hanya diisi oleh suara napas lelah dari dua gadis remaja, Aira berbicara dengan nada tenang meskipun wajahnya sudah memerah, "Dasar kalian ini. Aku akan meminta biaya tambahan untuk layanan pagi ini." Dengan perlahan, Aira menyibakkan poni kanan rambutnya, mendekatkan wajahnya ke vagina Dina. Dengan lembut, dia mulai mencium bibir vagina Dina, kemudian melanjutkannya dengan jilatan halus. Dina tersentak kaget merasakan sensasi lidah Aira yang menjilatinya, dan dengan suara lirih, ia berucap, "Ah... ah... lidah Ibu Aira... memang enak..." sambil tersenyum kecil.
Di sisi lain, Rani tampak kecewa. Ia merasa tak sempat merasakan sentuhan Aira di vaginanya karena sudah terlebih dahulu melakukan penetrasi dengan dildo dua sisi. Dalam benaknya, ia berpikir, "Ini memang salahku... tapi aku... cemburu..." Sambil bergulat dengan perasaan tersebut, Rani memutuskan untuk kembali memuaskan dirinya sendiri, kali ini menggunakan kedua tangannya untuk memainkan vaginanya.
Aira terus menjilati vagina Dina, menikmati sensasi manis dari madu yang keluar. Lidahnya bergerak dengan lembut dan teratur, membuat Dina merintih pelan seiring meningkatnya kenikmatan yang dirasakannya.
Setelah beberapa saat, Aira mengangkat wajahnya, menatap vagina Dina yang kini sudah sangat berair. Dengan hati-hati, ia menggunakan kedua tangannya untuk melebarakan bibir vagina Dina, memastikan setiap bagian terlihat jelas sebelum ia kembali menunduk dan melanjutkan aksinya.
Desahan Dina semakin keras, tubuhnya gemetar saat rasa nikmat semakin intens. Hingga akhirnya, dengan satu jilatan terakhir, Dina mencapai klimaksnya, tubuhnya melengkung dalam kenikmatan yang tak tertahankan.
Aira kemudian menghisap vagina Dina dengan lembut, menampung setiap tetes madu yang keluar dari dalamnya. Ia menikmati rasa yang manis, memastikan tidak ada yang tersisa. Setelah Dina selesai orgasme, Aira mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh kepuasan, lalu tersenyum sambil berkata, "Madumu sangat segar ya, Dina."
Wajah Dina langsung memerah. Ia merasa malu dan tak menyangka bisa dibuat merasa demikian oleh Aira. Dina memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rasa malunya yang semakin memuncak. "Padahal semalam Bu Aira terlihat sebagai penerima... apa dia memiliki potensi untuk memberi juga?" pikir Dina sambil menatap ke arah lain, masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Aira, yang masih penuh percaya diri, kembali berdiri dan berjalan mendekati Rani. Tanpa ragu, dia menyentuh vagina Rani yang sudah basah. Sentuhan lembut dari Aira membuat Rani mendesah pelan. "Ah... ah... Bu... Aira... aku... mau juga dijilatin," ucap Rani dengan nada yang penuh gairah, menikmati setiap sentuhan tangan Aira yang membangkitkan sensasi nikmat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Her Secrets: Lust
Romance⚠️Warning: Khusus Dewasa ⚠️ Jangan sungkan memberikan komentar dan bantu naik dengan vote, oke? Sinopsis setiap wanita memiliki satu atau banyak rahasia dalam hidupnya, terlepas dari sisi baik maupun positifnya. Ikuti cerita mereka disini.