Name duduk di bangku taman rumah sakit, mendengarkan Shizune yang sedang bercerita panjang lebar. Ia sesekali mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang berlalu-lalang, anak-anak kecil yang bermain riang, dan suasana damai di sekitar. Meskipun terlihat seperti pendengar yang baik, sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan cerita Shizune. Namun, ia tetap menghargai lawan bicaranya dengan menatap wajah Shizune dan memberikan perhatian yang cukup.
"Walaupun Naruto sering membuat onar waktu kecil, tapi itu adalah dirinya yang sebenarnya," kata Shizune dengan senyum lembut, matanya memancarkan rasa kagum. "Dia tidak peduli apa pun yang orang katakan. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri."
Name menoleh, kini mendengarkan dengan sedikit lebih perhatian. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang sepertinya menyentuh sisi hatinya.
"Naruto pernah dipaksa untuk menjadi anak yang penurut dan patuh," lanjut Shizune, "tapi dia tak pernah bisa."
"Kenapa?" tanya Name singkat, nada suaranya mencerminkan rasa penasaran.
"Karena itu bukan jati dirinya," jawab Shizune sambil tersenyum kecil. "Dia memilih jalan hidupnya sendiri, meski banyak orang meragukannya."
Ucapan itu membuat Name terdiam. Selama ini, ia selalu berusaha menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya. Ia menciptakan topeng agar bisa diterima di Konoha tanpa dicurigai. Semua itu demi menjalankan misinya. Tapi kini, misi itu telah gagal. Jadi, apa gunanya lagi menyembunyikan jati diri? Kata-kata Shizune bagaikan cermin yang menunjukkan betapa ia telah jauh dari siapa dirinya sebenarnya.
"Kau juga harus seperti itu, Name," kata Shizune dengan nada lembut tapi tegas. "Beranilah menjadi dirimu sendiri."
Pikiran Name kacau. Ia merasa seolah seluruh kebohongan yang ia bangun selama ini perlahan runtuh. Apakah ia sanggup melepaskan semua itu? Name akhirnya berdiri, mencoba menguasai dirinya.
"Aku harus pulang," ujarnya singkat sambil membungkukkan badan sebagai tanda pamit.
Shizune tersenyum hangat dan mengangguk. "Hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi, Name."
Name mengangguk kecil, lalu melangkah pergi meninggalkan taman rumah sakit. Namun, pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan Shizune. Dalam langkah-langkahnya yang berat, ia berhenti sejenak, menghela napas panjang, dan menatap ke langit. "Berani menjadi diriku sendiri, ya?" gumamnya lirih.
Tiba-tiba, ia merasa diawasi. Insting shinobi-nya langsung bekerja. Tanpa ragu, ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan melemparkannya ke arah sebuah pohon. Pisau itu menancap tepat di batangnya.
"Sampai kapan kau mau mengikutiku?" tanyanya dingin, suaranya terdengar sinis. "Apa ini perintah Kakashi?"
Hening. Tidak ada jawaban. Name menyeringai tipis, lalu berjalan mendekati pohon itu untuk mengambil pisaunya. Sebelum mencabutnya, ia berbicara dengan nada lebih tegas. "Jika ingin membuntuti seseorang dengan jutsu tak terlihat, setidaknya jangan berisik."
Masih tidak ada jawaban. Setelah mencabut pisaunya, Name melanjutkan langkahnya. Meskipun merasa lega karena telah berhasil mengungkap keberadaan orang itu, pikirannya tetap dihantui oleh kata-kata Shizune.
Saat ia larut dalam pikirannya, suara panggilan seseorang membuatnya tersentak. "Name!"
Ia menoleh dan melihat Akizuki berlari kecil mendekatinya. Wajahnya tampak cerah seperti biasa.
"Darimana saja kau?" tanya Akizuki sambil tersenyum lebar.
"Rumah sakit," jawab Name singkat, masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Akizuki mengangguk, lalu berjalan di sampingnya tanpa diminta. Name tidak mempermasalahkan hal itu, menganggap Akizuki mungkin memang searah dengannya.
"Kau kelihatan sedang memikirkan sesuatu," kata Akizuki, memecah keheningan.
"Tidak ada," jawab Name cepat, nadanya datar.
Saat berjalan, perhatian Name teralihkan pada sebuah kedai taiyaki di pinggir jalan. Ia baru teringat bahwa tujuannya sebelum pergi ke rumah sakit adalah membeli makanan. Ia berhenti sejenak, menatap kedai itu.
"Kau mau taiyaki? Aku traktir," tawar Akizuki sambil tersenyum lebar.
Sebelum Name sempat menolak, Akizuki sudah melangkah ke kedai dan memesan dua taiyaki, masing-masing rasa cokelat dan kacang merah. Ia kembali ke Name sambil menyerahkan salah satu taiyaki.
"Kau mau yang rasa cokelat atau kacang merah?" tawarnya.
Name ragu sejenak sebelum mengambil rasa cokelat. "Terima kasih," ucapnya pelan.
"Sama-sama," balas Akizuki santai.
Di sepanjang perjalanan, Akizuki terus bercerita tentang dirinya. Name baru tahu bahwa Akizuki, yang selama ini ia kira hanya seorang pustakawan, ternyata juga seorang shinobi. Usianya baru 16 tahun, lebih tua darinya. Cara Akizuki berbicara dengan penuh semangat membuat Name sedikit terhibur, meskipun ia tidak banyak merespons.
Akhirnya, mereka tiba di depan rumah Kakashi. Name berhenti di depan pagar, lalu menoleh ke Akizuki. "Aku masuk dulu. Terima kasih atas taiyakinya."
"Tak masalah," kata Akizuki sambil melambaikan tangan. "Sampai jumpa lagi, Name-chan!"
Name memperhatikan Akizuki berjalan pergi. Ternyata mereka tidak searah. Ia menghela napas, lalu masuk ke rumah Kakashi. Saat menutup pintu, pikirannya kembali pada ucapan Shizune. Ia sadar, jika ingin menjadi dirinya sendiri, ia harus memulai dari sesuatu yang kecil. Tapi di mana ia harus memulai?
Tbc
Jangan lupa vote
Kritik dan saranya
KAMU SEDANG MEMBACA
WADAH (Boruto: Naruto Next Generations x reader)
Random"Kau Name bukan?" ucap pria itu dengan suara serak. "Siapa kau?" tanya Name dengan waspada, meski ketakutan terpancar jelas dari dirinya. "Panggil aku Jigen. Aku tahu segalanya tentangmu, Name. Apakah kau ingin keluar dari kehidupan yang kau jalan...
