33.

310 44 4
                                        

Langkah kaki mereka berdua bergema tenang di koridor rumah sakit. Name menoleh sekali lagi ke dalam kamar tempat Boruto dirawat, lalu berkata lembut, "Jaga dirimu, semoga cepat sembuh."

Boruto membalas dengan senyum lebar yang memperlihatkan giginya. "Tenang saja, aku kan kuat."

Name terkekeh pelan sebelum berbalik dan menyusul Kakashi yang telah lebih dulu melangkah keluar kamar. Meski tak berkata apa-apa, suasana di antara mereka terasa aneh, berat, dan menggantung.

Mereka berjalan tanpa banyak bicara. Name memperhatikan bagaimana para dokter dan perawat menundukkan kepala mereka dengan hormat ketika berpapasan dengan Kakashi. Sosok Hokage Keenam itu tetap terlihat tenang seperti biasa, satu tangan di saku, dan satu tangan lainnya memegang buku Icha-Icha favoritnya.

Namun, dalam keheningan itu, pikiran Name malah tetingat ucapan Shizune beberapa hari yang lalu: "Jadilah dirimu sendiri, Name." Suara itu menggema di kepalanya, membuat langkahnya melambat, pikirannya melayang ke masa lalu.

"Name... kau salah jalan, belok," ujar Kakashi tiba-tiba, memecah lamunannya.

"Mh... maaf," balas Name kaget sambil cepat-cepat berbelok dan berjalan mendekati Kakashi.

"Memikirkan apa? Mimpi buruk malam tadi?" tanya Kakashi datar namun penuh perhatian.

"Um? Tidak... aku hanya kurang fokus saja..." jawab Name dengan ragu, menundukkan kepala.

Kakashi menatapnya sejenak, lalu memilih diam. Ia tahu memaksa bukan cara yang tepat. Jika Name ingin berbagi, maka waktunya akan datang sendiri,mungkin.

Beberapa langkah kemudian mereka tiba di luar rumah sakit ketika sebuah suara menyapa mereka.

"Hokage ke-6? Name?"

Name dan Kakashi menoleh. Ternyata itu Sarada, berdiri dengan senyum kecil di bibirnya.

"Halo," sapa Kakashi sambil melambaikan tangan.

"Um... Sarada, kan?" tanya Name untuk memastikan.

"Iya. Senang bertemu denganmu lagi," jawab Sarada dengan ramah.

"Aku juga," balas Name lembut.

"Ano... kalian sedang apa di rumah sakit?"

"Menjenguk Boruto," jawab Kakashi singkat.

"Begitu ya... Aku juga mau menjenguknya," kata Sarada sambil menoleh ke arah rumah sakit.

"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Kakashi yang mulai berjalan menjauh.

"Sampai jumpa, Sarada," ucap Name sambil melambaikan tangan, lalu menyusul Kakashi.

"Hati hati.." ucap sarada sambil memperhatikan punggung name yang mulai menjauh.

Kakashi dan name kembali berjalan menyusuri jalanan Konoha. Kakashi tetap seperti biasa, santai, satu tangan di saku dan satu tangan lainnya memegang buku icha icha. Name tampak tenang, tapi ada yang bergejolak di dalam hatinya.

"Kau kenapa?" tanya Kakashi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

Name menoleh lalu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa."

"Jujur saja... Aku tidak akan marah," ucap Kakashi dengan nada ringan, tapi matanya menatap tajam.

Tiba-tiba Name menghentikan langkah dan menatap Kakashi tajam. "Apa yang kau inginkan dariku?"

Langkah Kakashi terhenti. Ia berbalik menatap Name, matanya menyipit.

"Maksudmu?"

"Apa alasanmu menjadikanku anakmu? Aku mencoba membunuhmu, tapi kau terlihat tidak membenciku. Kau bahkan tidak memenjarakanku. Ini tidak masuk akal-" ucapan name terpotong

"Kau ingin dipenjara? Aku bisa mengabulkannya kalau kau mau," jawab Kakashi dengan nada dingin, sorot matanya berubah tajam. "Aku sudah bilang, kau mengingatkanku pada seseorang yang dulu kukenal."

Name membalas tatapan itu. "Yakin? Bukan karena sesuatu yang ada di tubuhku? Kau tahu, kan?"

Kakashi diam. Untuk pertama kalinya, dia tak menjawab dengan cepat.

"Tidak mungkin kau tidak tahu. Seorang Hokage keenam mengadopsi seorang gadis asing,yang bukan warga Konoha.Sejak aku kembali dari desa suna, aku diawasi oleh empat orang... Aku seperti tidak punya privasi," ucap Name pelan namun penuh tekanan.

"Bagus kalau kau menyadarinya. Kalau begitu, bisa kau jelaskan?" Kakashi mendekat, sorot matanya berubah tajam.

"Aku... tidak bisa," jawab Name pelan.

"Kenapa?" tanya Kakashi, kini mengangkat tangan kanannya ke langit,seperti sebuah isyarat yang membingungkan Name.

Tiba-tiba, empat sosok muncul mengelilingi Name. Mereka adalah anggota ANBU bertopeng hewan. Tanpa peringatan, mereka langsung menyerang.

Name bereaksi cepat. Ia menghunus pisau dari balik bajunya dan langsung bertarung. Gerakannya cepat dan mematikan. Ia berputar, menghindari kunai yang dilontarkan, lalu membalas dengan tendangan ke arah dada salah satu ANBU, membuatnya terlempar.

Anggota ANBU lain menyerang dari belakang. Name menangkis dengan siku, lalu meluncurkan tusukan ke arah sisi tubuh musuh. Serangan itu mengenai bahu lawan, membuatnya mundur.

Namun, mereka cepat beradaptasi. Salah satu dari mereka menebas ke arah kaki Name, memaksa gadis itu melompat ke belakang. Dua lainnya menyerang dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan. Name nyaris tak bisa menahan kedua serangan itu, tapi berhasil melakukannya meski harus menerima luka gores di lengan dan pundaknya.

Tubuhnya mulai kelelahan. Napasnya memburu, keringat membasahi wajahnya. Tiba-tiba, satu ANBU mengambil kesempatan dan memeluk Name dari belakang, menahan kedua lengannya erat-erat.

"Sialan... seharusnya aku tidak pernah percaya padamu," kata Name dengan nada marah, tubuhnya bergetar, napasnya terengah.

"Memang seharusnya begitu... Tapi kau terlalu naif, Name," ujar Kakashi yang kini mendekat perlahan. Ia menatap Name tanpa senyum, lalu menyentuh kepala gadis itu dengan satu tangan.

"Biarkan aku pergi... Jika aku tetap di sini, Konoha akan hancur..." ucap Name dengan sisa tenaganya.

"Jika kau berada di luar Konoha... maka dunia yang akan hancur," jawab Kakashi tanpa emosi.

Seketika itu juga, tubuh Name kejang. Sengatan listrik kuat menjalar dari kepala hingga seluruh tubuhnya. Ia berteriak kesakitan, tubuhnya menggeliat, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Kakashi menatap wajahnya yang kini terkulai lemas. Ia menarik napas panjang, lalu berkata pelan, "Maafkan aku."

Anggota ANBU mengangkat tubuh Name yang tak sadarkan diri dan mengikuti langkah kakashi yang menuju suatu tempat.

Langit mulai mendung, seolah ikut merasakan beban yang Kakashi pikul. Ini bukan tentang menangkap musuh. Ini tentang menyelamatkan seseorang... bahkan jika caranya terasa seperti pengkhianatan.

"Pahlawan pun bisa bertopeng.
Hanya karena seseorang datang saat kamu terjatuh, bukan berarti dia datang untuk mengangkatmu.
Bisa saja dia hanya ingin kamu tetap di bawah, agar mudah dikendalikan.
Jangan cepat percaya. Tidak semua tangan yang menolong, berniat membuatmu bangkit."



(Aku kaget pas mau nonton anime boruto di apk biru kotak eh tiba tiba premium,padahal boruto loh,biasanya gak pernah premium.Pas aku cek apk lain sama aja berbayar,sekarang jadi males buat nonton apa apa iklan,apa apa bayar.....)

Ktitik dan saran?

Votenya ya...

Follow...

WADAH  (Boruto: Naruto Next Generations x reader)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang