29.....

356 47 1
                                        

Sesampainya di rumah, Name melepas sandalnya dan meletakkannya di rak khusus yang berada di dekat pintu. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruang tamu yang sepi. Ia menyadari bahwa Kakashi kemungkinan besar sedang berada di kantor Hokage untuk mengurus sesuatu. Meskipun Kakashi sudah pensiun, ia tidak sepenuhnya meninggalkan tanggung jawabnya. Kakashi masih sering mengurus dokumen-dokumen yang tidak bisa ditangani Naruto, dan Name memahami itu.

Name menghela napas panjang, pikirannya masih dipenuhi ucapan Shizune yang terus terngiang di kepalanya. “Jadi diri sendiri?” gumamnya sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi bagi Name, artinya sangat rumit.

Setibanya di kamar, Name duduk di tepi kasur. Hanya suara jam dinding yang berdetak lembut menemani kesendiriannya. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 sore, tetapi suasana hatinya terasa seperti malam yang kelam. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku bajunya dan menatap benda tajam itu. Mata pisau itu memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lelah dan dipenuhi keraguan.

Name teringat dirinya di masa lalu. Seorang pembunuh tanpa belas kasihan, menjalani hidup dengan tangan berlumuran darah. Ia menelan ludah dan bergumam, "Aku... harus menjadi diriku sendiri? Apa itu artinya aku kembali menjadi pembunuh?" Suaranya hampir pecah saat mengucapkan kalimat itu. Pikirannya kalut, dan ucapan Shizune terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.

“Saat itu si nenek tua berkata 'kau akan mengubah masa depan tapi tak bisa mengubah takdirku'... dan sekarang Shizune 'kau harus menjadi dirimu sendiri'.” Name menghela napas frustrasi. Hatinya terasa berat, seolah-olah ia berada di persimpangan yang tidak menawarkan jalan keluar.

Berusaha mengalihkan pikirannya, Name berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia membuka laci untuk menyimpan pisau itu. Namun, alih-alih laci kosong, ia menemukan sebuah gantungan kunci beruang berpasangan kecil,gantungan kunci yang pernah dibelikan Kakashi untuknya. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.

Dengan hati-hati, ia mengambil gantungan kunci itu dan meletakkannya di rak meja sebagai hiasan. Mata Name tertuju pada barang-barang kecil lainnya yang pernah Kakashi belikan untuknya. Ingatan tentang perhatian Kakashi membuatnya merasa hangat, meskipun ia tahu bahwa rasa hangat itu tak akan bertahan lama jika dirinya terus meragukan tempatnya di rumah ini.

Name berjongkok di tepi kasur, mengulurkan tangan ke kolong untuk menarik beberapa tas kertas dan kotak  yang ia sembunyikan di sana. Barang-barang itu berisi pakaian dan beberapa hiasan kecil yang selama ini ia abaikan. Ia mulai memilah-milah barang-barang itu, memisahkan pakaian dari hiasan kamar. Entah bagaimana, kegiatan ini membuatnya lebih tenang.

Setelah selesai, Name berdiri dan memandang sekeliling kamarnya. Ia akhirnya mulai menghias kamar itu dengan hiasan-hiasan sederhana, membuat ruangan terlihat sedikit lebih hidup. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk memberikan kesan bahwa ruangan ini adalah miliknya.

Namun, di sudut hatinya, Name masih menyimpan keraguan. “Apakah kamar ini akan menjadi milikku selamanya? Kakashi mungkin saja mengusirku suatu hari nanti,” pikirnya. Ketakutan itu terus membayangi, tetapi Name mencoba mengabaikannya.

---

Setelah membereskan kamar, Name berjalan menuju dapur. Perutnya mulai terasa lapar, dan ia berpikir untuk membuat makan malam meskipun waktu masih sore. Selain itu, ia ingin mencoba memasak—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Selama ini, ia hanya hidup dengan roti, air, dan buah-buahan yang kadang ia curi. Sekarang, ia ingin mencoba hal baru.

Namun, masalah muncul ketika ia berdiri di depan kompor. Name tidak tahu apa yang harus dimasak. Ia mengambil brokoli dari kulkas dan memutuskan untuk menumisnya. Dengan asal-asalan, ia memotong brokoli menjadi bagian kecil dan menumisnya dengan minyak serta sedikit garam. Hasilnya? Tumisan itu terlalu asin, tetapi setidaknya tidak sepenuhnya gagal.

Setelah selesai menumis brokoli, Name membuka kulkas lagi dan menemukan beberapa apel. Ia berpikir untuk membuat jus apel. Namun, ia terhenti sejenak ketika sebuah suara samar muncul di benaknya.

“Makan... Aku tak ingin kau mati... dasar obake...” Suara itu terdengar seperti potongan ingatan yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan. Name tertegun, kepalanya terasa pusing. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir bayangan itu.

Dengan apel di tangannya, Name kembali bingung. “Membuat jus itu seperti apa? Ditumbuk? Atau bagaimana?” gumamnya sambil menggaruk kepala,name teringat saat kakashi sedang membuat jus juga dengan sebuah alat bernama blender. Ia lalu mengamati blender yang ada di dapur, tetapi tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

Setelah beberapa saat mencoba memahami fungsi blender, Name akhirnya memasukkan potongan apel ke dalamnya, menambahkan sedikit air, dan menekan tombol. Blender mengeluarkan suara keras, dan Name melompat kaget dan itu membuat telinga name berdenging. Ia hampir menjatuhkan gelas di tangannya, tetapi berhasil menenangkan diri.

“Kenapa alat ini seperti ingin melawanku?” gerutunya kesal. Meski begitu, ia berhasil membuat segelas jus apel yang terlihat cukup segar. Setelah mencicipinya, ia merasa cukup bangga meskipun rasanya tidak sempurna.

TBC
---

Di catat : Sabtu 21 desember 2024 (22.07)



WADAH  (Boruto: Naruto Next Generations x reader)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang