Malam tiba, Name berdiri di depan jendela, memperhatikan langit malam yang dipenuhi bintang. Cahaya bulan menerangi wajahnya yang dipenuhi kebingungan. Ia menghela napas panjang, pikirannya terus berputar tanpa henti. Kenapa ia mempercayai Kakashi? Kenapa ia dengan mudah menerima pria itu sebagai ayah angkatnya?
"Apa aku sudah terlalu nyaman?" gumamnya pelan.
Name teringat ucapan ibu panti dulu. ["Jika ada seseorang yang memberimu kehangatan, kenyamanan, dan keamanan, maka dia adalah keluargamu."] Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya semakin bimbang.
"Apa Kakashi benar-benar menganggapku sebagai anak? Atau dia hanya memanfaatkanku?" pikirnya, mencoba mencari jawaban di langit malam yang tak memberi petunjuk apa pun.
Name menggigit bibirnya. Ia ingin mempercayai Kakashi, tapi bayang-bayang masa lalunya selalu menghantui. Hidup di lingkungan yang penuh kekerasan membuatnya sulit untuk percaya pada orang lain. Baginya, kebaikan selalu punya harga. Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini. Semua orang memiliki kepentingannya masing-masing.
Namun... Kakashi berbeda. Ia tidak pernah meminta apa pun darinya. Pria itu selalu ada, tidak peduli seberapa keras Name menolak atau berusaha menjaga jarak.
Pikirannya tiba-tiba melayang ke Boruto yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia menghela napas, merasa khawatir. Meskipun ia tidak mengatakannya dengan lantang, Name peduli pada dia. Boruto adalah seseorang yang mampu menembus dinding yang ia bangun selama ini, meski dengan cara yang menyebalkan.
"Semoga kau cepat sembuh, bocah," bisiknya, berharap doa itu sampai pada Boruto.
Ia berusaha mengalihkan pikirannya. Dengan langkah malas, ia berjalan ke kasur dan membaringkan diri. Matanya menatap langit-langit kamar, mencoba mengabaikan kebingungannya. Namun, pertanyaan itu terus mengganggunya hingga akhirnya ia perlahan tertidur.
-------------------------------------------------------------
Name berdiri di tengah desa Konoha yang hancur lebur. Asap hitam mengepul di mana-mana, bangunan runtuh, dan tubuh-tubuh tergeletak di tanah. Darah membasahi tanah dan udara dipenuhi aroma kematian.
"Tidak... Ini tidak mungkin..." bisik Name dengan suara bergetar.
Tatapannya tertuju pada sosok yang tergeletak tak bernyawa—Boruto. Dia terbaring dengan luka parah, matanya yang biasanya penuh semangat kini kehilangan cahaya. Name mencoba berlari ke arahnya, tetapi kakinya terasa berat. Panik mulai menjalar di hatinya.
Saat ia hampir mencapai Boruto, tiba-tiba tangan-tangan penuh darah muncul dari tanah, mencengkeram kakinya dengan erat. Tangan-tangan itu bergerak liar, berusaha menyeretnya ke dalam tanah.
"Tidak! Lepaskan aku!" Name menjerit, berusaha menarik kakinya.
Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar di telinganya.
"Salahmu... Kenapa kau bunuh aku?"
"Pembunuh... Jahat..."
"Tolong... Kumohon..."
Suara-suara itu bergema di kepalanya, semakin lama semakin keras. Name menggertakkan giginya, berusaha melepaskan diri dari genggaman mengerikan itu. Namun, semakin ia melawan, semakin kuat tarikan mereka.
Lalu, di antara mayat-mayat yang berserakan, ia melihatnya.
Kakashi.
Tubuh pria itu tergeletak bersama yang lain, matanya tertutup, wajahnya tampak damai namun menyakitkan. Darah mengalir dari luka-luka di tubuhnya.
"Tidak... Ayah..." suara Name bergetar, hatinya mencelos.
Namun yang paling mengejutkannya adalah sosok laki-laki lain yang berdiri di kejauhan. Wajahnya tidak asing, tapi kenangan itu terasa kabur. Pria itu menatapnya dengan mata tajam, seolah menuntut sesuatu.
"Siapa... kau?" tanya Name, tetapi pria itu hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa menyeramkan.
Tangan-tangan itu semakin kuat menariknya ke dalam tanah. Name berusaha menjerit, memanggil Boruto, Kakashi, siapa saja... namun suaranya tak keluar. Dunia semakin gelap, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah suara-suara menyalahkan dan tangisan kesakitan.
-------------------------------------------------------------
Name terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi wajahnya, jantungnya berdebar keras di dadanya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak, mencoba menenangkan diri.
"Itu... hanya mimpi," bisiknya, tetapi rasa takut masih menggigitnya.
Ia duduk di kasur, menarik napas dalam-dalam. Namun, meski ia tahu itu hanya mimpi, ketakutan itu terasa terlalu nyata.
-------------------------------------------------------------
Di luar kamar, Kakashi berjalan melewati koridor rumah. Saat melintasi kamar Name, ia melihat pintunya sedikit terbuka dan lampu kamar masih menyala. Mengira Name belum tidur, ia masuk pelan-pelan.
Namun, yang ia temukan adalah Name yang terduduk di kasurnya, wajahnya penuh ketakutan dan keringat.
"Name?" panggil Kakashi pelan.
Name menoleh, matanya masih dipenuhi kebingungan. Begitu melihat Kakashi, tubuhnya sedikit menegang.
Kakashi mendekat dan duduk di pinggir kasur. "Kau mimpi buruk?"
Name tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kakashi beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Mau cerita?" tawar Kakashi.
Name mengalihkan pandangannya, menatap lantai. "Tidak penting... Hanya mimpi biasa," jawabnya singkat.
Kakashi tidak mendesaknya. Ia hanya menghela napas dan tanpa banyak bicara, ia mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Name. Gerakan itu terasa lembut, penuh kasih sayang.
"Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian, Name," kata Kakashi akhirnya.
Name terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa, terasa menenangkan.
Setelah beberapa saat, Kakashi berdiri, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur kecil. Ia membetulkan selimut Name sebelum berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh dan berkata, "Tidurlah. Besok pagi aku akan menjenguk Boruto. Kau mau ikut?"
Name menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Akan ku pikirkan besok..."
Kakashi mengangguk mengerti. "Baiklah. Selamat tidur, Name...."
"Selamat tidur, ayah..." balas Name pelan.
Kakashi tersenyum tipis sebelum menutup pintu kamar. Name menatap langit-langit, napasnya perlahan mulai stabil. Mimpi buruk itu masih membekas, tetapi entah kenapa, kehadiran Kakashi membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
[Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih banyak sudah membaca ceritaku, aku sangat menghargai dukungan kalian Maaf kalau ceritanya masih kurang baik, aku terbuka untuk kritik dan saran. Saat ini aku sedang menyusun alur untuk Jujutsu Kaisen 0 x Reader, dan untuk Boruto x Reader akan tetap kuusahakan meski agak bingung dengan alurnya. Terima kasih atas kesabaran dan dukungannya]
🙏😇
KAMU SEDANG MEMBACA
WADAH (Boruto: Naruto Next Generations x reader)
De Todo"Kau Name bukan?" ucap pria itu dengan suara serak. "Siapa kau?" tanya Name dengan waspada, meski ketakutan terpancar jelas dari dirinya. "Panggil aku Jigen. Aku tahu segalanya tentangmu, Name. Apakah kau ingin keluar dari kehidupan yang kau jalan...
