1.darah

2K 147 8
                                        

     

         Derasnya hujan malam membasahi tanah yang telah bercampur oleh darah korban, meresap ke dalam rongga-rongga tanah yang haus. Setiap tetesan air hujan, seperti mata embun, menyatu dengan cerita kelam yang terpahat di kisaran malam. Name berdiri di tengah ladang pembantaian yang diciptakannya, tangan kanannya memegang erat sebatang pisau yang masih basah oleh darah yang baru tumpah.

Tiba-tiba, dari keheningan malam, terdengar suara langkah hati-hati. Seorang
Warga tak bernama muncul dari balik bayang-bayang pohon, menatap Name dengan mata yang penuh kecurigaan.

"Apa yang kau lakukan di sini di tengah malam begini?" Ucap warga itu dengan suara yang gemetar

Name menoleh, dengan wajahnya yang dingin dan tak berkedip.

"Ini bukan tempatmu untuk tahu. Pergi saja sebelum kau menjadi bagian dari mereka..." jawab name dengan suara rendah

"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sini. Dan darah... apa yang kau lakukan?" Ucap warga itu syok saat melihat pisau yang penuh darah di pegang name

Name tersenyum sinis, pisau masih menatap tajam ke arah pengembara.

" Darah ini hanya membasahi tanah yang sudah haus. Bukannya kau ingin merasakan kekuatan yang tak terkalahkan?"

"Kau adalah pembunuh! Aku tidak ingin tahu apa yang sedang kau lakukan di sini."ucap warga itu ketakutan dan mulai mengambil langkah mundur.

Saat warga itu mencoba kabur dari name dengan berlari ke lawan arah

Name langsung  memutar tubuhnya dengan lincah, pisau di tangannya berkilat di bawah sinar rembulan. Warga yang berdiri di hadapannya terlalu lambat menyadari bahaya yang mengintai. Dalam sekejap, Name melancarkan serangan mematikan, membiarkan pisau itu meluncur dengan kecepatan yang memotong angin.

"Tunggu-" ucap warga itu terpotong

Namun, sudah terlambat. Pisau itu menemukan sasaran, dan kehidupan warga itu meredup bersama dengan hujan malam yang semakin deras. Darah baru mengalir, menambah warna merah di antara rintik-rintik hujan.

Name melihat dengan dingin pada korban terbarunya, tanpa ekspresi penyesalan. Kegelapan malam menjadi saksi bisu dari perbuatan terlarang yang kini semakin melibatkan dirinya dalam jaringan takdir yang rumit. Hanya suara hujan yang memecah keheningan, menciptakan lapisan kedalaman dalam dalam kisah hitam yang tengah terungkap.

Percakapan tak bernyawa bersama suara hujan malam, membuat Name meresapi konsekuensi dari setiap pilihan yang diambilnya. Langit gelap menyaksikan tragedi yang tak terelakkan, dan Name melangkah pergi, meninggalkan tubuh warga yang kini tergeletak tak berdaya. Sebuah kisah baru dalam cerita kelamnya telah terbentuk, dan malam yang semakin suram menjadi panggung bagi pembunuh gelap yang tak mengenal belas kasihan.

............................................................................

"Kau sudah membereskanya?" Tanya seorang pria berjas hitam dengan rokok di mulutnya

"Ya,mana bayaranku?" Jawab name dengan nada dingin

"Kau sangat tidak sabaran ya" ucap pria itu

Lalu ia melemparkan sekantong uang ke arah name dan name berhasil menangkapnya dengan tangan kanannya

Setelah mendapatkan bayaran yang diinginkannya, Name melanjutkan langkahnya menjauh dari pria berjas hitam yang tengah merokok di sudut jalan. Bayang-bayang malam menyelimuti gerak langkahnya, dan langit yang semakin terangkat warnanya oleh sinar rembulan menjadi saksi dari kegelapan yang tersembunyi di dalam diri Name.

Tangan Name masih memegang erat sekantong uang, menyimpan rahasia dan dosa yang semakin terkubur dalam lorong-lorong pikirannya. Dia memutuskan untuk menyusuri kembali lorong-lorong desa yang sepi, menuju rumah kecil tempat dia menyembunyikan identitasnya.

Sesampainya di rumah yang berselimut keheningan, Name melihat sekeliling yang penuh dengan kehampaan. Dalam ruang gelap dan sepi, dia menyingsingkan jaket putihnya, meletakkan pisau dengan hati-hati di atas meja kayu yang sudah usang.

Dengan tangan gemetar, Name mencari  roti untuk mengganjal perut laparnya. Pada saat itu, rumah kecil itu menjadi tempat perlindungan dari dunia luar yang gelap dan tak terduga. Meskipun dalam keheningan, ia merasa beban moral dan dosa semakin menghimpitnya.

Name melihat keluar dari jendela yang retak, memandang langit yang masih tertutup awan hitam. Di antara lorong-lorong pikirannya yang berbelit, dia merenung tentang arti dari setiap tindakan gelap yang dilakukannya. Malam yang semakin berlalu menjadi saksi diam dari kisah gelap Name, yang terus teranyam di dalam benaknya sendiri.

"Bukan kah ini yang selalu di lakukan oleh shinobi?.Mereka membunuh......kan" ucap name pada dirinya sendiri.

kan" ucap name pada dirinya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

💫

WADAH  (Boruto: Naruto Next Generations x reader)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang