"Kau Name bukan?" ucap pria itu dengan suara serak.
"Siapa kau?" tanya Name dengan waspada, meski ketakutan terpancar jelas dari dirinya.
"Panggil aku Jigen. Aku tahu segalanya tentangmu, Name. Apakah kau ingin keluar dari kehidupan yang kau jalan...
Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang perlahan menyusup masuk lewat celah jendela kamar. Name terbangun dengan wajah yang tampak kacau dan lelah. Matanya sembab, dan rambutnya kusut karena malam tadi ia tidak bisa tidur nyenyak akibat mimpi buruk yang menghantuinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya.
Dengan langkah malas, ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaian ganti dari lemari. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, sedikit mengusir rasa kantuk dan penat yang masih tersisa. Seusai mandi dan berganti pakaian, ia mulai merasa lebih segar, meskipun beban di dadanya belum sepenuhnya hilang.
Saat ia keluar dari kamar mandi, aroma sedap langsung menyambut indera penciumannya. Name mengernyit pelan, penasaran dengan sumber aroma tersebut. Ia mengikuti arah bau itu dan melangkah ke dapur. Di sana, ia melihat Kakashi sedang berdiri di depan kompor, mengaduk sesuatu dalam panci besar.
"Ayah masak apa?" tanya Name sambil mendekat.
Kakashi menoleh sedikit dan menjawab, "Kare."
Name mengangguk dan berjalan mendekat. "Aku bisa bantu."
Namun Kakashi langsung menolak dengan senyuman lembut. "Tidak perlu. Duduk saja di meja makan. Ini sebentar lagi selesai."
Name mengangguk pelan dan duduk di kursi. Ia memandangi Kakashi yang tampak tenang memasak. Suasana ini terasa asing tapi... hangat. Sejenak, ia merasa seperti anak perempuan biasa yang tinggal bersama ayahnya.
"Hari ini, kau mau ikut ke rumah sakit? Menjenguk Boruto?" tanya Kakashi sambil terus mengaduk kare.
Name berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Iya, aku mau ikut."
Tak lama kemudian, kare buatan Kakashi matang. Ia menyajikannya dengan rapi ke dalam dua piring dan membawanya ke meja makan. Mereka duduk berseberangan.
"Coba, apakah rasanya enak?soalnya aku jarang membuat kare" ujar Kakashi sambil menyendok kare ke dalam mulutnya.
Name mencicipinya perlahan. Matanya sedikit membulat. "Enak... lebih enak dari yang kubayangkan."
"Tentu saja. Ayahmu ini mantan ninja elit dan ahli dalam hal-hal tidak penting seperti memasak," Kakashi terkekeh.
"Tidak penting?,justru bakat memasak itu penting apa lagi bagi shinobi,jadi kalau kelaparan tinggal masak dengan bahan bahan yang ada" ucap Name sambil tersenyum tipis.
"Kau sangat pintar ya...."
Sarapan mereka berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Sesekali percakapan ringan terjadi, namun tidak ada tekanan. Hanya dua orang yang mencoba membangun hubungan baru dengan cara sederhana.
---
Usai sarapan, mereka bersiap. Name mengenakan jaket hitam tipis dan ikat kepala untuk menahan rambutnya agar tidak mengganggu. Kakashi mengenakan seragam shinobi konoha dan masker seperti biasa. Mereka berdua keluar dari rumah, berjalan santai menyusuri desa.
Seperti biasa, warga desa selalu menyapa Kakashi dengan ramah dan hormat. Namun, tatapan-tatapan itu berubah saat melihat Name. Beberapa orang menatap dengan heran, bahkan sebagian berbisik-bisik.
"Itu anak yang..." "Katanya dia dulu..."
Bisikan itu terdengar samar di telinga Name. Ia menunduk, mencoba tak menghiraukannya. Tapi rasa tidak nyaman itu tumbuh di dadanya. Kakashi yang menyadari situasi itu segera menoleh dan berkata,
"Name, ayo lebih cepat."
Name mengangguk dan mempercepat langkahnya. Mereka berjalan tanpa banyak bicara hingga akhirnya tiba di rumah sakit.
Setibanya di sana, mereka langsung menuju meja resepsionis. Kakashi menyebutkan nama Boruto, dan perawat menunjuk ke arah lorong kanan lantai dua. Mereka mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju kamar yang dimaksud.
[EPISODE:172]
Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Boruto yang masih tertidur di ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding kemarin.
"Ya ampun, dia masih belum bangun," ucap Kakashi dengan nada malas.
Name menatap Boruto dengan tatapan khawatir. "Apa Boruto separah itu...?"
Kakashi menoleh dan berkata dengan tenang, "Tidak. Tenang saja. Dia hanya kelelahan."
Sambil berbicara, Kakashi mengeluarkan buku Icha Icha Paradise dari dalam sakunya dan mulai membaca. Name duduk di kursi sebelah tempat tidur Boruto, memperhatikan wajah boruto dengan seksama.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan hingga tiba-tiba Boruto mengerang pelan. Matanya terbuka perlahan.
"Astaga... tidurku nyenyak sekali," gumamnya dengan suara serak dan lemas.
"Boruto..." Name memanggil dengan suara pelan namun penuh kelegaan.
Boruto mengerjapkan mata, memandang sekeliling. "Itu memang kuat sekali," katanya sambil melihat telapak tangannya.
"Kau beruntung. Lenganmu hampir meledak," ujar Kakashi santai tanpa menoleh dari bukunya.
Boruto menoleh ke arah suara itu. "Oh, guru Kakashi... ada di sini?" Ia terdiam sesaat, lalu menyadari sosok lain. "Name juga?"
Name tersenyum hangat. "Bagaimana kondisimu?"
"Lumayan lebih baik," jawab Boruto dengan senyum lemah dan mengacungkan jempolnya.
Kakashi akhirnya menutup bukunya dan berjalan mendekat ke sisi ranjang Boruto. "Aku ingin bicara soal rasengan milikmu kemarin."
"Rasengan?" Boruto mengangkat alisnya.
"Energi yang kau keluarkan tak biasa. Itu bukan hanya chakra biasa... Ada sesuatu yang berbeda," ujar Kakashi serius.
Name menyimak dengan seksama, meski ia tidak sepenuhnya paham soal teknik ninja. Namun ia bisa merasakan kekhawatiran terselubung di balik nada Kakashi.
Boruto menunduk. "Aku juga tidak tahu... Saat itu rasanya seperti ada sesuatu yang meledak dari dalam diriku. Tapi... aku bisa mengendalikannya."
"Itu bukan hal yang bisa disepelekan. Kita akan cari tahu sumbernya," ucap Kakashi.
Name memandangi Boruto.Meski sering bersikap ceroboh, memiliki kekuatan besar yang bahkan ia sendiri belum mengerti.
Boruto tiba-tiba menoleh ke Name. "Hei... Maaf kalau aku membuatmu khawatir."
Name tersenyum kecil. "Tidak apa. Yang penting kau baik-baik saja."
"Oh ya kemarin aku berkunjung bersama...um..?,iwabe,denki,dan metal lee tapi saat itu kau masih belum bangun" name mulai bercerita
"Benarkah?,terima kasih ya" ucap boruto sambil tersenyum hangat membuat name juga tersenyum.
Kakashi memperhatikan senyum name yang berbeda ikut tersenyum di balik maskernya
"Ayo pulang name..."
Tbc.....
[Maaf kalo ceritanya kurang bagus,kalo ada kesalahan beritau aku biar bisa aku perbaiki,aku nerima kritik dan saran kalian kok]
Di baca juga ya.... Semoga kalian suka,TERIMA KASIH
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.