34.awal dari takdir baru

314 32 11
                                        

Yuhu.......

Gimana kabar kalian?,semoga sehat gak ada yang sakit ya...

Sebelumnya aku minta maaf karena udah jarang updet karna beberapa hal dan lupa alur hehe...

Selamat membaca ya!!

___________________________________________

Kesadaran Name perlahan bangkit, tapi bukan di dunia yang ia kenal.
Ia berdiri di sebuah tempat yang... aneh. Semua serba putih. Tidak ada dinding, tidak ada lantai yang jelas, hanya permukaan datar yang seolah tak berujung. Udara di sini hening, terlalu hening hingga ia bisa mendengar napasnya sendiri bergema di telinga.

Name mengedarkan pandangan, langkahnya ragu.
"A... apa ini...?" gumamnya pelan, nyaris tidak berani bicara lebih keras.
Tidak ada jawaban.

Ia mencoba memanggil, suaranya bergetar. "Halo...?"

Tiba-tiba, di hadapannya, udara beriak seperti permukaan air yang tersentuh angin. Riakan itu membentuk sebuah ilusi bayangan yang semakin jelas. Mata Name membelalak. Itu adalah dirinya sendiri... tapi versi dirinya yang lebih kecil, sekitar tujuh tahun, duduk di kursi kayu tua. Rambut panjangnya disisir perlahan oleh seorang wanita paruh baya berwajah lembut,itu ibu panti.

"Aku tidak ingin diadopsi. Aku ingin bersama ibu," ucap Name kecil sambil memeluk boneka beruang lusuh yang sudah kehilangan satu matanya.

Ibu panti hanya terkekeh lembut, senyumnya hangat. Tangan tuanya tetap menyisir rambut Name kecil dengan sabar. "Name tidak boleh bicara begitu. Jika nanti ada yang mengadopsi Name, tolong... jangan lupakan ibu, ya?"

Name kecil menggeleng mantap. "Tidak akan! Karena ibu adalah ibuku!" jawabnya ceria.

Hati Name yang sekarang terasa ditarik. Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh bahu ibu panti... tapi bayangan itu perlahan menghilang, berubah menjadi asap putih yang berputar pelan, seperti menari di udara. Asap itu bergerak menjauh, lalu berhenti di satu titik dan membentuk ilusi baru.

Kali ini, Name kecil sedang bermain bersama beberapa anak lain di halaman panti. "Kau pasti curang, ya, Name?" teriak salah satu temannya.
"Tidak..." jawab Name kecil dengan wajah cemberut, menyilangkan tangan.

Name tersenyum kecil menyaksikannya. Ada rasa hangat yang muncul di dada, tapi juga perih karena semua itu hanya kenangan. Asap itu kembali menari, berpindah tempat, dan Name mengikutinya dengan langkah pelan.

Ilusi berikutnya memperlihatkan hari ketika Name pertama kali tiba di Konoha, bertemu Shikadai, Mitsuki, dan Boruto. Boruto tersenyum, berkata dengan nada tegas, "Tapi di sini kita adalah teman. Jadi apa pun yang kau sembunyikan, tak perlu dikhawatirkan."

Bayangan itu pun memudar, berganti lagi. Kali ini, suasana rumah sakit. Kakashi sedang memeluk Name yang menangis, membiarkannya melepas semua beban di pelukan itu.

Setelah itu, asap putih muncul lebih banyak. Seperti tirai yang terbuka, ia memperlihatkan potongan demi potongan kenangan:

Duduk di kereta bersama Chocho, Inojin, dan Shikadai dalam perjalanan misi ke Desa Suna,yang menjadi misi pertama bagi name.

Menemani Boruto berlatih rasengan bersama kakashi.

Menjenguk Boruto di rumah sakit bersama Denki, Iwabe, dan Metal Lee.

Bercerita di taman rumah sakit bersama Shizune, tertawa kecil di sela percakapan.

Semua itu berputar mengelilinginya. Name tersenyum lebar, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku... punya banyak hal indah juga..." batinnya.

Namun tiba-tiba, suara berat terdengar.
"Ternyata kau di sini... Name."

Senyum itu langsung hilang. Ia membeku. Ilusi-ilusi di sekelilingnya menghilang, asap putih berubah warna menjadi merah pekat, lalu menghitam di tepinya. Udara yang tadi terasa hangat mendadak dingin menggigit.

WADAH  (Boruto: Naruto Next Generations x reader)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang