Jealous

320 24 0
                                    

Derap langkah kaki terdengar dari arah pintu, lalu tak lama kemudian munculah seorang pemuda berambut pirang dengan langkah terseok memasuki ruangan. Pemuda itu bernama Draco, berjalan sembari memegangi sisi wajahnya yang memar.

Kekasih Draco, Harry, sedang duduk diatas sofa sembari memangku buku, ditemani oleh segelas teh hangat, menikmati suasana sore yang tenang. Harry menoleh ketika rungu nya menangkap suara kedatangan seseorang, disana ia mendapati kekasihnya tengah berjalan menghampirinya dalam keadaan yang kacau.

Rambut Draco yang biasanya tampak rapih, kini jatuh menjuntai menutupi dahinya yang lecet, berantakan tak beraturan. Matanya bengkak. Di pipi nya terdapat memar biru yang sangat kontras di kulitnya yang pucat. Bibir nya sobek, meninggalkan bercak darah yang sudah mengering. Buku jarinya memerah, bekas mendapatkan ataupun melayangkan pukulan.

Kemeja putih yang dikenakannya sobek di beberapa bagian, dengan noda tanah dan darah yang mengotori. Bahu yang biasanya tegap, kini tertunduk lesu, seolah berkata jika setiap gerakan yang ia lakukan membuatnya sakit.

Mendapati pemandangan itu,
Harry segera menarik nafas panjang, mengumpulkan amarah yang siap meledak. Tatapan matanya tajam, rahangnya sedikit mengencang. Namun, begitu menelisik lebih dalam tampilan kekasihnya, ia jadi tak tega dan berakhir menguburkan niatnya dalam-dalam untuk mengomeli pemuda pirang tersebut.

"Lagi?" tanyanya sembari menutup buku di pangkuannya, fokusnya kini beralih pada wajah kekasihnya yang dipenuhi oleh memar, entah berkelahi dengan siapa lagi dia kali ini. Terlalu banyak perkelahian yang Draco lakukan dalam sebulan terakhir, sampai sepuluh jari tangan Harry tak sanggup lagi untuk menghitungnya.

"Ah, i-itu. Blaise. Sebenarnya Blaise yang berkelahi, dan sebagai sahabat yang baik, aku mencoba membantunya dan menghajar pria itu." jawab Draco dengan mata yang lari kesana-kemari menghindari lirikan tak percaya Harry pada ceritanya.

"Aku kasihan pada Blaise yang selalu menjadi alibi bohong mu." Harry beranjak dari duduknya dan berjalan menggapai kotak P3K yang ia simpan di dalam laci. Ia juga tak lupa mengambil handuk kecil dan es batu yang akan digunakan untuk mengompres.

"Duduk." titah Harry, setelah kembali mengambil beberapa benda yang diperlukan. Harry menyerahkan es batu yang dibalut oleh handuk kecil pada Draco agar dia mengompres sendiri matanya yang bengkak. Sedangkan Harry mulai membuka kotak P3K yang kini isinya hampir kosong karena selalu ia gunakan untuk mengobati luka-luka si pirang.

"Aku tidak berbohong, itu memang benar! Kalau tidak percaya tanya saja—"

"Shht! Asal kau tau saja, seharian ini aku pergi bersama Ron dan Blaise, dan baru kembali sekitar setengah jam yang lalu. Jadi, tidak usah bawa-bawa nama pemuda itu lagi." Harry meletakkan jari telunjuk nya tepat di bibir Draco agar pemuda itu berhenti bicara.

"Jujur. Kali ini dengan siapa kau berkelahi, Draco Lucius Malfoy?" Harry menyebut nama lengkap Draco yang berarti alarm tanda bahaya bagi si pirang. "Dengan si kuning Hufflepuff." jawabnya tak minat.

Harry mengernyitkan dahi nya, mencoba menerka siapa si kuning dari Hufflepuff yang kekasihnya maksud. "Ck. Diggory!" sambung Draco seolah sadar raut wajah kebingungan tersebut.

"Huh. Alasannya apa kali ini? Dia mengajakku mengobrol? Memanggilku? Menyapaku? Atau apa? Tapi, aku tidak ingat jika bertemu dengannya hari ini?" tanya Harry sembari dengan telaten dan penuh perhatian membersihkan luka-luka itu.

"Dia menatapmu dari kejauhan! Aku tidak menyukainya! Aku tidak bisa jika hanya diam saja, setidaknya lima pukulan pantas dia dapatkan." Draco membuang wajahnya ke samping kala Harry tak sengaja menekan lukanya.

"Astaga, Dray. Kau tidak bisa menghajar seseorang hanya karena dia menatap sesuatu? Bisa saja Cedric tidak sengaja menatap kearah ku dan—" ucapan Harry terpotong kala Draco menyela nya dengan emosi.

"Ck. Tidak sengaja apanya? Sudah jelas jika dia menatapmu penuh minat dan damba! Cih, jika aku mengingat bagaimana caranya menatapmu, ingin rasanya aku memukulnya lagi." Alisnya berkerut. Matanya yang bengkak, berkobar menyala menyuarakan gejolak amarah yang tak tertahankan. Draco dan rasa cemburunya adalah dua hal yang tak terpisahkan.

"Lalu, membuatmu berakhir babak belur lebih parah daripada ini?" Kali ini Harry dengan sengaja menekan kuat memar di pipi Draco. "Ah! Sakit!" keluh si pirang sembari menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan mungil Harry. "Sudah tau sakit, tapi masih mau berkelahi lagi?"

Dari semua perkelahian yang pernah Draco lakukan, ini adalah perkelahian yang berakhir membuatnya babak belur, biasanya dia hanya akan mendapatkan satu ataupun dua luka lecet. Sepertinya, aksi adu jotos yang dia lakukan dengan Cedric berjalan cukup sengit.

Harry menghela nafas, ia meletakkan antiseptik yang sebelumnya ia pegang ke atas meja, lalu memandang Draco lamat-lamat, sorot matanya tampak teduh. "Dray, mau sampai kapan kau seperti ini terus? Berhenti mengajak orang-orang berkelahi hanya karena hal sepele."

Di beri tatapan seperti itu, entah mengapa perasaan bersalah mulai merayapi hatinya, Draco merasa jika ia selalu mengecewakan kekasihnya. "M-maaf. Tapi, aku tak bisa. Selalu ada rasa amarah ketika ada orang lain yang mencoba mendekatimu atau bahkan sekedar menatapmu."

"Dray. Ingat, aku hanya milikmu, okay? Aku tidak akan berpaling pada orang lain hanya karena orang itu mendekatiku ataupun menatapku. Sekalipun orang itu memaksa, itu tidak akan merubah kenyataan jika aku hanya milikmu." Harry menangkup wajah rupawan kekasihnya. Luka babak belur itu sama sekali tidak mengurangi kerupawanan yang Draco miliki. "Kau hanya perlu percaya." sambungnya dengan senyuman kecil diakhir.

Harry mengusap lembut pipi Draco. Jujur, ia lelah dengan sikap cemburuan Draco. Namun, rasa sayangnya pada pemuda itu jauh lebih besar daripada amarahnya, acap kali Draco berulah, Harry tidak bisa marah lebih banyak, dan hanya akan menegurnya. Dan berakhir meminta maaf pada orang-orang yang Draco hajar di keesokan harinya.

Hal itu jugalah yang membuat Harry dijauhi oleh beberapa kawannya, mereka lebih memilih menjaga jarak daripada harus berakhir menjadi samsak kekasih Harry. Tapi, masih ada segelintir kawannya yang masa bodoh dengan sikap Draco itu, salah satunya adalah Cedric Diggory, mahasiswa yang berada satu tingkat diatas mereka.

"Janji jika ini yang terakhir?" Harry mengacungkan jari kelingkingnya. Draco tampak ragu untuk menautkannya, karena yang sebelumnya ia telah melanggarnya. "Aku tidak bisa memastikan, tapi aku akan berusaha." Pada akhirnya Draco tetap menautkan jari kelingking mereka. Entah, apakah ia akan menepatinya atau tidak, lihat saja nanti.

"Baiklah. Apakah ini sakit?" Harry menunjuk buku jari kelingking Draco yang memerah, pemuda pirang itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Harry tersenyum lembut sebelum membubuhkan satu kecupan kecil disana.

Cup!

Draco yang melihat itu sebagai sebuah kesempatan, langsung menyentuh semua bagian wajahnya mulai dari bibir, pipi, hingga dahi, dan mengatakan jika semuanya terasa sakit agar mereka mendapatkan kecupan juga. Harry hanya terkekeh sebelum turut membubuhkan kecupan-kecupan manis disana.

"Berhenti melukai dirimu sendiri. I'm in pain, seeing you're in pain."

The End

Ada yang mau nambahin luka Draco? Barangkali ajaa ada gitu wkwkw 😅

Maaf kalau ada typo atau ada kata-kata yang rancu, permisi Byee 👋🏻

Random Story (Drarry)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang