Souta 2 tahun.
Beberapa hari belakangan ini Souta lagi rewel-rewelnya. Enggan lepas dari kakak-kakaknya itu, bahkan ketika ditinggal ke toilet saja, Souta akan merengek.
Dan hari ini pun sama. Souta yang terbangun lebih awal menangis keras, tak membiarkan Arion pergi bekerja. Satu tangannya masih setia memeluk boneka berbentuk penguin kesayangannya, dan tangan yang lainnya diangkat, minta digendong.
"Ikut .." bisiknya, suaranya serak karena menangis.
Arion tersenyum sambil mengangkat Souta ke gendongannya. "Ayon harus kerja, sayang." katanya lembut.
Tapi Souta menggeleng kuat-kuat, "Mau ikut, Yon!" Kini suaranya meninggi lagi, tangisnya kembali pecah.
Arion hanya bisa menghela napas. Tak lama Gin turun dari kamar sambil menguap lebar.
"Kenapa?" tanya Gin.
"Biasa." balas Arion. Perlahan tangis si kecil mereda, hanya terdengar isakan kecil. Souta meringkuk di pangkuan Arion dengan kepala menempel pada dada sang kakak.
Tak lama Harris datang dengan jaket yang sudah terpakai, sudah siap untuk berangkat bekerja.
"Belum berangkat kamu, Yon?" tanya Harris sambil mengecek jam tangannya.
Arion menggeleng, "Souta gak mau ditinggal," katanya pelan.
Mendengar itu, si kecil mendongak dengan ekspresi waspada. "Ayon peldi??"
"Enggak, enggak." katanya cepat, mengusap lembut rambut si kecil. "Lu gak kerja, Gin?"
"Nanti, siang."
"Nah, Souta sama Gin dulu, mau?"
Mendengar itu, si kecil menggeleng ribut. "Gak mawu!" tolaknya cepat.
"Gin nakal!" si kecil masih dendam rupanya. Karena semalam, Gin menjahilinya terus menerus.
Si pelaku hanya tertawa geli, apalagi ketika Souta menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang memberi peringatan.
"Souta boleh ikut, tapi janji gak nakal, ya?"
Souta mengangguk cepat-cepat. "Janji."
Arion menghela napas, mungkin hari ini akan berjalan lebih berat dari biasanya. "Gin, bantu siapin keperluannya dong."
~ ~ ~
Akhirnya dengan sedikit terpaksa, Arion membawa Souta untuk ikut bekerja. Saat baru saja turun dari mobil, si kecil sudah terlihat sangat bersemangat. Sedangkan Arion, masih kesulitan membawa perlengkapan Souta yang tak sedikit itu. Untungnya, ada staff keamanan yang melihatnya, dan membantu membawakan tas besar itu sampai ke ruangannya.
"Souta, pelan pelan. Jangan lari," bisik Arion sambil mengandeng bocah mungil yang melangkah cepat-cepat dengan sepatu berwarna biru langitnya.
Souta terlihat bangga. Di punggungnya tergantung ransel kecil bergambar dinosaurus, dan ditangan kanannya, ia mencengkram boneka penguinnya dengan erat.
Disepanjang lorong kantor, Souta menyapa beberapa pegawai yang ia kenal dengan riang, senyumnya tak luntur sejak tadi.
"Pak bos bawa asisten pribadi hari ini ya?" celetuk Riji, manajer kepercayaan Arion.
Arion hanya mengangkat alis sambil tersenyum lelah, "Lagi rewel, kalau gak dibawa nangis terus."
Mereka berdua sampai di ruangan pribadi Arion yang berada di ujung lorong kantor. Dinding kaca buramnya menampilkan bayangan samar dari dalam—sebuah meja besar dari kayu walnut, rak buku berisi tumpukkan kertas penting, sofa abu-abu, serta satu tanaman karet di sudut yang tampaknya mulai layu karena jarang disiram.
Tapi, untuk hari ini ruangan itu sedikit berbeda.
Beberapa boneka juga mainan figure berjajar diatas sofa. Ada botol susu juga biskuit di atas meja, dan beberapa mainan balok yang berserakan di lantai.
Mungkin jika dihitung, baru ada kurang lebih satu jam sejak kedatangan mereka. Tapi kini ruangan itu sudah disulap oleh bocah berumur dua tahun menjadi seperti taman kanak-kanak.
Souta duduk ditengah-tengah mainannya, kakinya digoyang-goyangkan sambil mengigit biskuit. Disebrangnya, Arion menatap layar laptopnya dengan wajah serius sambil mengetik cepat tapi sesekali melirik si kecil untuk memastikan.
Sejauh ini masih terpantau aman, Souta masih sibuk dengan mainannya. Di jam kedua, Souta mulai meminta iPadnya untuk bermain game. Tapi menjelang jam makan siang, Souta mulai merasa bosan karena bermain sendirian.
"Ayon ..."
Arion melirik ke arah si kecil, lalu terkekeh pelan. "Bosen, ya? sini duduk sama Ayon."
Souta langsung berlari kecil dan memanjat pangkuan Arion dengan lincah. Tangannya melingkar di leher kakaknya, lalu menyenderkan kepala dibahu Arion.
"Ayon capek ndak?" tanyanya pelan.
"Sedikit," jawab Arion. "Tapi kalau Arion gak kerja, Souta gak bisa beli susu nanti."
"Nanti dipijit."
"Sama siapa? sama Souta?"
Souta mengangguk, "Iyah .. bial capeknya hilang."
"Tapi kasih Souta susu yaa.." sebagai gaji maksudnya.
Hati Arion menghangat. ia menutup laptopnya dan memeluk Souta lebih erat.
"Suka ikut kerja gini?" tanya Arion pada Souta.
"Suka .. soalnya sama Ayon."
"Mau terus bareng Ayon?"
Souta mengangguk, mengeratkan pelukannya. "Mau. Ayon janan kelja jauh-jauh."
Meski tak mudah, tapi hari itu berjalan lebih hangat dari biasanya. Arion dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik , sambil sesekali menyuapi potongan buah semangka pada si kecil yang sedari tadi tak lepas dari pangkuannya.
Souta memang rewel dan manja. Tapi, saat Arion melihat mata kecil itu berbinar memandanginya bekerja, ia sadar—Souta hanya ingin merasa dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
