Satu Hari Bersama Gin

1.3K 178 9
                                        

Hari itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Arion sedang dinas ke luar kota selama beberapa hari, Harris harus terjebak lembur, dan Mbak sedang cuti pulang kampung. Hanya ada satu orang dewasa yang bisa diandalkan untuk menjaga rumah dan si kecil. Gin, yang terpaksa mengajukan work form home agar bisa menemani adik mungil mereka di rumah.

Matahari belum sepenuhnya menyelinap dari balik tirai ketika suara kecil menggema di dalam rumah. 

"Ginnn!! Souta ngompol!"

Suara nyaring itu memecah pagi dengan kecepatan supersonik. Gin yang semalam tidur di sofa karena mengerjakan beberapa pekerjaannya juga begadang sedikit mencuri waktu untuk bermain game sampai pukul 3, langsung terjatuh dari posisi tidurnya.

"Hah? Tahan! Ini Gin kesana!"

Dengan satu mata yang masih lengket dan rambut yang acak-acakan, Gin lari ke kamar adik kecilnya. Di sana, Souta yang masih memakai piyama motif bintang menatapnya dengan wajah panik, sambil menggengam boneka pinguin kesayangannya yang tampak basah di bagian sayap.

Gin dengan segera mengajak Souta untuk membersihkan tubuhnya, walaupun sangat dramatis, penuh dengan air mata dan sabun bayi. 

Setelah sesi bersih-bersih selesai, Gin menyiapkan sarapan seadanya. Roti yang di olesi selai cokelat, potongan pisang dan segelas susu hangat.

"Sarapan dulu, ya."

Tapi Souta menatap piringnya lama sekali, lalu memandang ke arah pengu yang lengannya masih sedikit basah setelah ikut dimandikan.

"Pengu mau nasi goleng. Katanya dia sedih cuma dapet loti..."

Gin menahan napas, mencoba bersikap tetap tenang.
"Gin cuma bisa bikin roti sekarang. Kita anggap ini nasi goreng aja ya? pura-pura."

Souta nampak berpikir. "Oke deh. Tapi siang kita beli nasi goleng yaa?"

Gin tersenyum simpul, "Iya, boleh."

—————————

Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Gin membuka lemari dan mengambil seragam kecil Souta. Namun ketika mengganti baju, si kecil langsung menolak mentah-mentah.

"Gak mau, Ginnn! Souta mau pake baju dino!"

Kaos berkarakter itu sudah kotor bekas dipakai kemarin bermain seharian. Gin berjongkok, menatap adik kecilnya.

"Kan kalau ke sekolah harus pake seragam, biar samaan kayak temen-temen lain.."

"Tapi Souta mau pake baju dino, Ginn!"

Gin menarik napas panjang. "Nanti pake baju dino nya waktu lagi main aja, ya? kalau mau sekolah pake seragam dulu."

Souta terdiam, lalu mengangguk pelan. 

Mandi? sudah. Makan? sudah. Seragam pun sudah menempel dengan rapi di tubuh si kecil. Tinggal memakai sepatu dan tas, lalu bersiap untuk berangkat.

Souta berdiri di depan pintu dengan wajah serius, memandangi sepasang sepatu kecil berwarna biru laut.

Gin jongkok, membuka tali sepatu.
"Ayo, kaki kiri dulu."

Souta menggeleng. "Enggak mau."

"Kaki kanan dulu. Kanan altinya baik."

Gin menarik napas, lagi.

"Ya udah, kaki kanan dulu."

Souta menurut, memajukan kakinya dan menunggu Gin memasangkan seaptunya.

"Talinya salah iket, harus bikin kayak jaring laba-laba!"

Gin tersenyum kecil. Berdiri dan dengan segera mengambil sepatu dengan model lain.
"Kita pake sepatu yang pake perekat aja, ya?"

Setelahnya, pada pukul delapan lebih lima belas menit, mobil Gin melaju mulus di bawah langit pagi yang mulai hangat. Musik anak-anak mengalun pelan dari speaker, tapi suaranya kalah dari ocehan Souta yang duduk di car seat belakang.

"Souta gak bawa bekal makan siang!!"

Mobil langsung melambat. Gin menoleh cepat, "Hah?!"

"Astaga, Gin lupa. Maaf ya?"

"Nanti... Souta gak makan dong? Souta cuma lihat temen-temen makan... Souta keyaapalan..."

Gin melirik kaca spion dan melihat wajah kecil itu mulai merengut—pertanda akan ada drama tangis dalam waktu kurang dari lima menit.

"Eh, eh jangan sedih dulu dong," kata Gin cepat. "Masih ada waktu, kita mampir beli makan dulu. Kamu mau apa?"

Souta mengangkat kelapa, matanya langsung bersinar cerah. "Nugget, ya!"

Di jalur drive-thru, Gin menurunkan kaca mobil dan menunggu giliran. Dari belakang, suara Souta mengatur strategi seperti jendral kecil.

"Gin, Souta mau nugget ayam, kentang goleng, sama susu!"

Giliran mereka tiba. dan Gin menyampaikan pesanan sambil sesekali menahan tawa karena ekspresi serius bocah empat tahun itu di kaca sepion.

Pesanan mereka diterima dan tak lama kemudian kantong kertas berisi makanan darurat berpindah ke tangan Souta.

"Yah, gak pake kotaknya dong." 

"Kalau kita beli kotak makannya dulu, nanti Souta telat, terus di hukum sama guru, mau?"

Souta menggeleng cepat. "Enggak! Ya udah deh gini aja."

Mobil kembali menyatu dengan lalu lintas pagi. Di kursi belakang, Souta memeluk kantong kertas itu seperti harta karun yang baru ia temukan.

Tak lama, gerbang sekolahh mulai terlihat—dunia mungil dengan warna warni tas dan suara riang anak-anak.

Gin memelankan laju mobil dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang disediakan. Ia turun lebih dulu, membuka pintu belakang.

Souta turun dengan langkah mantap. Rambutnya sedikit berantakan tapi matanya berbinar. Tas kecil dipunggung, kantong kertas bekal di tangan kiri, dan boneka pinguinnya yang muncul dari sela zipper tas seperti ajudan setia. Ia mengadah ke Gin.

"Jangan telat jemput Souta, ya."

Gin mengangguk sambil membenarkan kerah seragam si kecil. "Nanti Gin bakal tungguin Souta satu jam sebelum selesai. Kayak wartawan yang nungguin presiden."

Souta terkikik pelan. "Souta pwesidennya."

Sebelum berbalik dan menghampiri guru, si kecil tiba-tiba memeluk Gin cepat-cepat. Pelukan kecil, tapi erat. 

Lalu bocah itu pergi, berlari kecil menghampiri teman-temannya yang sudah berbaris rapi di depan kelas.

Gin kembali ke mobil, duduk di kursi kemudi, dan membiarkan dirinya diam sejenak. Di kaca depan, matahari mulai naik, menumpahkan cahaya ke dashboard. Di kursi belakang, satu mainan kecil dari drive-thru tergeletak tak sengaja.

Ia meraihnya, memutar-mutar pelan di tangan, dan tersenyum seolah hidupnya dulu penuh sunyi, kini bisa diringankan oleh hal-hal sekecil ini.

“Satu hari, satu kenangan lagi. Souta... kamu tumbuh, dan kita belajar bertahan.”




Happy 4th Anniversery Gin!
Dan selamat untuk 500k-nya Mika!

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang