Souta 5 tahun
Mata Souta berbinar, penuh ceria. Dihadapannya kini sudah banyak sekali coklat yang dibawa oleh Gin dari bar miliknya. Katanya, karena kemarin adalah perayaan Valentine, banyak costumernya yang memberikan coklat sebagai hadiah.
"Satu aja tapi, nanti dimarahin yang lain." Gin memperingatkan.
"Tapi Gin ada banyak.."
"Nanti Gin kasih ke yang lain."
"Emm, terima kasih Gin" karena tak diijinkan untuk mengambil banyak, akhirnya Souta mengambil coklat berukuran paling besar dengan bungkus berwarna coklat.
"Ini Gin ambil ya sisanya." Dan setelahnya Gin berlalu pergi ke kamarnya.
Padahal tadinya Souta ingin menyimpan lagi satu untuk persediaan.
Tapi meski begitu, si kecil tetap memakan coklat itu dengan rasa senang dan lahap sampai coklat itu habis tak bersisa.
Tak berselang lama, saat Gin kembali turun setelah membersihkan badannya, ia melihat Souta yang kini tengah berlarian kesana kemari dengan Acan, si kucing kesayangannya.
"Souta, ngapain."
"Hahaha, Acan!" Si kecil merasa sangat bersemangat, tubuhnya terasa penuh energi.
"Hati-hati." Gin mengingatkan namun Souta tak peduli, anak itu tetap berlari, melompat tanpa henti.
"Harris pulang."
"Ayyis!" Souta berteriak senang, melihat Harris yang baru saja pulang dari tempat kerjanya.
Souta melompat menubruk Harris. Untungnya dengan sigap Harris menangkap Souta, walaupun tubuhnya sempat sedikit terhuyung kebelakang. Dengan keadaan seperti anak koala yang sedang memeluk induknya.
"Sugar rush kayaknya." Kata Gin yang kini duduk sambil menonton televisi.
"Gue dapet coklat dari costumer, terus Souta ambil yang paling besar." Lanjutnya.
Souta turun melompat dari gendongan Harris, dan kembali berlari lari. Kini si kecil mengambil bolanya.
"Gin, main bola yuk." Ajaknya dengan riang.
"Males ah, udah sore."
"Ihh, sebentar aja Gin!"
Souta dengan sekuat tenaga menarik Gin, membuat si empu mau tak mau mengikuti si kecil yang kini menariknya ke halaman belakang rumah.
Walaupun tadi ia berucap "Malas" tapi tetap saja kini Gin mengikuti permainan si kecil. Dengan perbedaan tubuh mereka yang terbilang jauh, dengan mudah Gin mengalahkan Souta.
"Aih, Gin curang!"
Yang diteriaki hanya tertawa tanpa henti, dan mulai berlari ketika melihat Souta yang kini mulai mengejarnya, berusaha untuk memukul tubuhnya.
"Ginn!" kaki kecil itu terus berlari, mulutnya tak berhenti berteriak memanggil pria bertubuh tinggi yang sedang ia kejar.
Gin perlahan berhenti, dan mendudukkan dirinya di kursi. "Udah ah, cape."
"Lemah." Souta menjulurkan lidahnya mengejek.
Yang diejek tentunya tak terima, dengan gerakan secepat kilat pria bersurai hitam itu langsung mengangkat tubuh Souta dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ayyis, tolong Souta!!"
Souta didudukan di atas meja yang cukup tinggi, membuatnya kesulitan jika turun tanpa bantuan. "Ayyis tolong!"
"Ayyis mulu ah."
"Gin tolong, Souta pusing."
"Nah kan."
Gin yang sudah tau tanda-tanda sugar rush langsung menggendong Souta. "Kebanyakan makan coklat kamu, jadinya gini."
"Pusing, Gin!" Souta merengek, mengeratkan pelukannya dileher Gin.
"Kenapa?" Harris bertanya, pria itu baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Souta yang kini mulai menangis.
"Udah abis energinya, jadi pusing."
"Ayyis, pusing.."
"Istirahat dulu aja, tiduran di kamar, yuk?" Ajak Harris.
Souta menggeleng, masih sesenggukan. "Mau gendong."
Gin mengisyaratkan bahwa ia baik baik saja dan akan menggendong Souta sampai si kecil merasa lebih baik. Souta itu kalau kesakitan sedikit saja, dia akan berubah menjadi lebih manja dari biasanya.
"Aman Ris."
Dan tak lama setelahnya, Souta terlelap di gendongan Gin dengan nyaman. Bisa dipastikan malam ini mereka akan begadang menemani Souta yang terbangun pada tengah malam.
"Mau order kopi dari sekarang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanficbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
