Siapa sih, yang pertama kali Souta panggil? Kata pertama yang jelas keluar dari mulut si kecil?
Waktu itu sih..
"Yyis.."
Harris mematung setelah mendengar suara yang keluar dari mulut si kecil. Akhirnya, momen yang ia tunggu tunggu. Sayang, ia belum sempat merekamnya.
"Apa, Sou?"
Harris bersiap dengan ponselnya, membuka aplikasi kamera dan menekan tombol untuk mulai merekam.
"Yyis, cuu"
Harris memekik senang mendengar kata pertama yang keluar dari mulut si kecil. Walaupun sebetulnya kata paling pertama yang diucapkan Souta adalah "Cuu." yang berarti susu.
"Lagi pada ngapain? Seru banget kayaknya." Gin datang menghampiri setelah tak sengaja melihat Harris yang sibuk menciumi Souta sambil keduanya tertawa.
"Dia udah bisa manggil Harris!"
Wajah Gin tiba-tiba saja berubah menjadi murung. Gin sudah berusaha semaksimal mungkin, mengajari Souta untuk memanggil namanya setiap hari tanpa bosan, dan yang dipanggil pertama kali bukan dirinya? Gin kecewa.
"Sou, tega banget kamu, Sou."
"Cuu.."
"Gak mau ah, coba panggil Gin dulu."
Souta mulai merengut, merasa kesal karena keinginannya tak juga terpenuhi. Harris hanya memperhatikan interaksi keduanya. Gin yang bersikeras ingin dipanggil namanya, Souta yang terus meminta susu kesukaannya.
"Cuu, Gin!" Souta berteriak kencang dan menangis setelahnya.
"Tunggu sebentar, ya." bukan Gin yang menjawab, melainkan Harris yang kini bergegas membuatkan sebotol susu hangat untuk si kecil.
Sedangkan Gin hanya terdiam, masih mencerna apa yang baru saja ia dengar, mengabaikan Souta yang meraung dihadapannya.
"Ada apa ini? Kenapa dibiarin itu Souta nangis." Arion datang menghampiri, menggendong Souta yang langsung merentangkan tangannya.
"Souta udah bisa panggil nama Gue, Yon."
"Gila, Gue kira kenapa."
Tak lama Harris datang sebagai penyelamat untuk Souta yang sedari tadi tangisnya tak ditanggapi oleh kedua pria dihadapannya.
Gin masih terdiam, memperhatikan Souta yang kini dengan lahap meminum susunya. Pria itu masih tak percaya kini si kecil sudah bisa memanggil namanya dengan jelas.
"Lebay amat lu, Gin" celetuk Arion.
"Lah, biarin. Daripada lu belum dipanggil sama Souta."
Perkataan Gin saat itu terngiang-ngiang dikepala Arion. Karena, hingga saat ini, sudah satu minggu lamanya Souta tak juga memanggil Arion dengan jelas, hanya gumaman saja. Sedangkan Harris dan Gin sudah sering kali disebut namanya. Pria bersurai unggu itu diam diam berusaha mengajarkan Souta untuk memanggil namanya. Ia tak mau sampai yang lain tau, yang penting mereka tau hasilnya saja, katanya.
Tapi usaha itu tak kunjung membuahkan hasil. Souta masih enggan menyebut namanya.
Sampai pada akhirnya..
"Sou, mau jajan gak?" Tanya Gin pada si kecil.
Souta hanya mengangguk pelan, masih fokus pada mainannya.
"Beli susu, mau?"
Mendengar kata favoritnya, Souta mulai mengalihkan perhatiannya pada pria dihadapannya yang sedari tadi menganggu aktivitas bermainnya.
"Tapi minta uang dulu sama Arion."
"Ya!" Si kecil kini berteriak senang, apapun ia akan lakukan demi susu!
"Gini bilangnya, 'Yon, Minta uang' Gitu" Gin memeragakan perlahan.
"Tey.."
Souta menurut. Setelah melihat dimana Arion berada, kaki kecilnya mulai berjalan perlahan mendekat, dan dengan cengiran lucunya ia berkata,
"Yon, ta wang"
Arion tentu terkejut. Setelah sekian purnama, setelah banyaknya usaha yang dilakukan. Akhirnya, Souta memanggil namanya walaupun tak begitu jelas pengucapannya. Arion terharu sekali, tapi berusaha bersikap biasa saja.
"Mau apa?"
"Wang, cuu"
Arion melirik Gin yang kini sudah tertawa puas sambil merekam interaksi Souta dan Arion.
"Mau uang katanya, buat beli susu."
Arion terkekeh geli sambil merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah dan memberikannya pada Souta. Si kecil terlihat sangat senang, berlari ke arah Gin sambil menunjukkan uang yang kini sudah ada digenggamannya.
"Gin, Gow!" katanya semangat.
"Bilang terima kasih dulu, Sou."
Souta kembali mendekati Arion, "Macih Yon!" katanya sambil mencium sayang pipi Arion.
"Jangan beli permen, ya!" Teriak Harris memperingatkan.
Dan itulah, bagaimana awal mula si kecil memanggil nama ketiga kakak laki-lakinya. Kalau sekarang sih, anak itu sudah berubah menjadi lebih cerewet dan berisik. Tapi, itu lah yang membuat suasana rumah terasa lebih hangat. Ketiga pria dewasa itu senang sekali mendengar celotehan Souta, mereka tak akan pernah bosan mendengar ceritanya. Mereka berharap tak akan pernah ada yang bisa menghilangkan kebahagiaan itu, lagi.
HEHEHEHE
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
