Dreaming

1.6K 189 13
                                        

- Souta 6 tahun.

Saat makan malam bersama, Souta bercerita mengenai mimpi yang datang padanya kemarin malam.

"Souta mimpi serem banget kemarin! Di mimpi itu Souta kejebak di rumah yang lagi kebakaran. Disana Souta lari-lari tapi gak ketemu jalan keluar, Souta liat kalian, disana kalian teriak-teriak panggil Souta, tapi waktu Souta samperin rasanya kalian makin jauuuh, terus akhirnya Souta bangun sambil keringetan. Hii, serem deh pokoknya. Nanti temenin Souta tidur, ya?" Anak itu bergidik ngeri mengingat mimpi buruknya.

Ketiga pria yang ada dimeja makan itu hanya terdiam sambil memandang satu sama lain. Tatapan mereka seolah mengisyaratkan sesuatu.

"Souta, berdoa sebelum tidur gak kemarin?" Tanya Harris yang berusaha terlihat biasa saja.

"Souta ketiduran, jadi lupa deh hehe." jawab Souta diakhiri dengan tawa kecil.

"Pantesan, lain kali jangan lupa berdoa biar gak mimpi buruk lagi. Nanti Ayyis temenin tidurnya." nasihat Harris.

Souta mengangguk mengiyakan, kemudian melanjutkan kembali kegiatan makan malamnya dengan tenang. Tak ada lagi percakapan setelahnya, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.

—————————————————

Sesuai janjinya pada saat makan malam tadi, Harris menemani Souta untuk tidur malam ini. Souta baru kembali dari dapur, mengambil susu dan beberapa cemilan sebelum tidur.

"Kalian dulu pernah tinggal di apartemen gitu ya? kayak di film film." Tanya Souta penasaran.

"Hm? tau darimana?" Jawab Harris yang masih terfokus pada laptop dihadapannya.

"Souta nemu foto kalian barusan jatuh. Tapi kok, ada yang kebakar gambarnya?"

Harris terdiam cukup lama, tangannya yang tadi sibuk mengetik tiba tiba saja seolah tak bisa digerakkan. Foto itu. Foto yang Souta lihat adalah satu-satunya foto yang berhasil mereka selamatkan. Foto yang dimana hanya bagian Souta lah yang terbakar oleh panasnya api dan menyisakan tiga yang lainnya.

"Iya, dulu kita sempet tinggal di apartemen. Tapi karena kebakaran, jadinya kita putusin buat pindah ke rumah ini." Jelas Harris sedangkan Souta hanya membulatkan mulutnya.

"Terus itu siapa? Cuma keliatan tangannya sedikit."

Harris kembali melirik pada foto yang berada ditangan Souta. Tiba-tiba saja ingatannya kembali ke masa dimana mereka harus merasakan sebuah kehilangan.

"Itu temennya Ayyis sama yang lain, kita tinggal bareng berempat."

"Terus kemana dia Ayyis? Kalian sekarang cuma bertiga."

Untuk beberapa saat Harris kembali terdiam kemudian menghela napasnya. Ternyata, walaupun kejadiannya sudah cukup lama tapi rasanya masih tetap sama. Takut, sedih semuanya bercampur menjadi satu.

"Dia— meninggal waktu kebakaran. Dia berusaha buat selamatin anak kecil, tapi ternyata dia yang gak berhasil selamat." Jelas Harris.

"Dia hebat, ya?"

Harris tersenyum, mengusap lembut surai si kecil yang kini menatap lekat pada foto yang dipegangnya.

"Ayyis, ada fotonya orang ini gak?"

Si surai merah hanya menggeleng sebagai jawaban. Sebetulnya, ada. Untung saja foto mereka tersimpan rapi di sosial media masing-masing, juga mereka menyimpannya pada platform khusus.
Tapi, Harris masih belum yakin untuk menunjukkannya. Mungkin suatu saat nanti, bersama yang lainnya.

"Ayyis, kapan selesai kerjanya?" Tanya Souta yang kini meletakkan foto itu di meja. Ia mengucek matanya pelan, sepertinya si kecil sudah mulai mengantuk. Susu dan cemilannya pun sudah habis tak bersisa.

"Sebentar lagi, Souta mau tidur?"

Souta mengangguk, ia mulai memposisikan badannya, mencari posisi ternyaman untuk tidur. "Tapi bareng sama Ayyis."

"Iya, ayo." Harris menaruh laptopnya, menyampingkan dulu pekerjaannya dan ikut berbaring disamping Souta.

"Berdoa dulu, jangan lupa."

Setelahnya, mata Souta mulai terpejam. Napasnya mulai tenang. Dengan cepat Souta tertidur, pergi ke alam mimpi.

Harris mengusap surai biru itu perlahan, pikirannya melayang kesana kemari. Entah kenapa, malam ini terasa begitu sendu ketika Souta menceritakan mimpinya, sampai dimana Souta bertanya tentang masa lalu dengan sahabatnya.

Beberapa menit kemudian, Harris dengan perlahan turun dari kasur Souta. berjalan tanpa suara meninggalkan kamar itu. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum, tapi ternyata sudah ada dua pria yang sedang mengobrol santai sambil meminum sekaleng soda di meja makan.

"Eh, Ris. Souta udah tidur?" Tanya Arion ketika menyadari kedatangan Harris.

"Udah." Jawabnya singkat.

Harris bergabung dengan yang lain setelah mengambil sekaleng soda di dalam kulkas. "Tadi Souta nemu foto kita dulu, yang kebakar."

"Yang sisa kita bertiga?" Arion memastikan, dan Harris mengangguk.

"Tadi Souta tanya-tanya, terus dia sempet minta foto Souta dulu, tapi Harris masih belum yakin." ujar Harris sambil membuka penutup kaleng sodanya.

"Makin gede, Souta makin mirip sama yang dulu ya?" timpal Gin yang kini tengah mencari foto Souta kecil.

"Apa perlu kita kasih tau dia? aku kepikiran buat bawa Souta ke pemakaman sih." Arion kembali membuka suara.

Gin dengan pikiran randomnya menyeletuk, "Apa gak kaget dia namanya ada di batu nisan?"

Mereka tertawa memikirkannya, tetapi setelahnya kembali fokus pada dunia masing-masing. Jika ini disebut reinkarnasi, mereka bukan hidup didunia fantasi. Disebut sebuah kebetulan pun terlalu tidak masuk akal. Tapi, mereka selalu bersyukur karena Tuhan mengabulkan permintaan mereka dengan menghadirkan kembali sosok yang selalu mereka rindukan.

——————————————🪄
🏃🏻‍♀️

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang