Khawatir.

1.4K 194 20
                                        

— Souta 8 tahun.

Tentang luka yang tak terlihat.

Semakin bertambah usia Souta, semakin banyak pula kekhawatiran ke-tiga pria dewasa itu. Mereka menyadari, ada beberapa perubahan kecil dari si bungsu yang terasa mencurigakan. Anak itu tiba-tiba saja menjadi lebih banyak diam, bungkam ketika ditanyai. Terlalu sunyi.

Tentunya ke-tiga kakaknya sangat sangat khawatir, ditambah dengan banyaknya berita kurang mengenakkan yang beredar tentang anak kecil seumuran bungsunya. Mereka semua jadi parno, dikuatkan dengan perubahan sikap Souta.

"Souta, ayo bangun, udah mau terlambat buat sekolah ini." Harris mengetuk pintu kamar Souta, pasalnya anak itu tidak kunjung keluar sejak beberapa puluh menit yang lalu.

"Harris buka pintunya, ya."

Saat Harris membuka pintu kamar Souta, pria itu disambut dengan keadaan kamar yang masih gelap. Souta masih berbaring diatas kasurnya, dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

"Sou?"

"Souta gak sekolah dulu, boleh?" Souta berbisik tanpa merubah posisinya.

"Kenapa? Gak enak badan?"

Si bungsu mengangguk ragu. Harris menghela napasnya, kemudian menghampiri Souta untuk mengecek keadaannya. Bibir Souta terlihat lebih pucat, suhu badannya terasa lebih hangat juga keningnya yang dipenuhi keringat.

"Harris bawain minum dulu, ya."

Belum sempat melangkah, Harris terlebih dahulu ditahan oleh Souta. "Ayyis kerja aja, Souta sama mbak bisa kok."

"Souta gak mau sama Ayyis, ya?"

Si bungsu itu menggelengkan kepalanya. "Bukan, takut ngerepotin."

Harris tersenyum, kemudian mengelus rambut Souta lembut.

"Mau ikut kebawah? Arion sama Gin masih ada disana, yuk?"

Dan pada akhirnya, Souta kini berada digendongan Harris. Dibawa menuju ke meja makan yang dimana masih terlihat Arion dan Gin yang masih menyantap sarapannya masing-masing.

"Kenapa?" Tanya Arion yang melihat Souta memeluk Harris erat.

"Sakit."

"Mau ke dokter?"

Souta menggelengkan kepalanya lesu.

"Nanti dokternya yang kesini."

Souta tak banyak bicara, Harris lah yang sedari tadi menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Arion.

Kini mereka kembali pada kegiatan masing-masing, Gin dan Arion menyelesaikan sarapannya, dan Harris menyuapi Souta karena si kecil tak mau memakan makanannya sendiri.

"Gue berangkat dulu," Gin beranjak dari duduknya, lalu menoleh ke arah Souta yang terlihat sangat lemas, "Souta mau titip sesuatu?"

"Enggak, Gin." jawabnya lesu.

Biasanya, setiap kali Gin menawari sesuatu pasti dengan semangat Souta akan meminta banyak hal, seperti permen kapas sampai lego. Tapi kali ini berbeda. Mungkin mood Souta sedang kurang baik karena merasa tubuhnya kurang berenergi, pikir Gin.

"Yaudah kalau gitu." Setelahnya Gin berpamitan dan segera berangkat bekerja. Tak lama, Arion pun menyusul.

Kini hanya ada Harris dan Souta di rumah, Mbak belum datang, sedang di pasar katanya.

Sambil menunggu dokter datang, Harris berniat untuk membersihkan badan Souta terlebih dahulu karena melihat badan Souta yang lengket karena keringat. Tapi ada yang aneh, dibagian punggung bawahnya terlihat  warna keunguan. Dengan hati-hati Harris menyibak baju yang dikenakan Souta.

Jantung Harris berdetak tak karuan. Di sana ia melihatnya— luka lebam. Bukan satu, bukan dua, tapi ada beberapa lebam yang Harris yakini beberapa diantaranya adalah luka lama.

Tubuh mungil yang selama ini sering dipeluknya, sering dimanjanya, dirawat penuh kehati-hatian, kini nampak seperti medan perang.

"Souta?" suara Harris nyaris bergetar.

Si kecil hanya terdiam, matanya berkaca-kaca dan bahunya sedikit bergetar. Souta tidak menjawab, hanya menangis pelan, menutupi wajahnya enggan melihat Harris yang kini berpindah ke hadapannya, menatapnya penuh sendu.

"Sini, sayang." Harris membawa Souta ke pelukannya, memeluk erat tubuh yang sedang rapuh itu dengan lembut.

Tangis Souta semakin pecah, ia meraung di dekapan kakaknya, menumpahkan segala emosi yang selama ini ia pendam sendiri.

"Sakit, Ayyis.."

"Mereka pukul Souta, cuma karena Souta gak punya orang tua." ujar Souta masih dengan tangisnya.

"Souta takut.."

Pelukannya semakin mengerat. Harris merapalkan banyak kata penenang sambil menciumi pucuk kepala adiknya dengan sayang.

Beberapa puluh menit berlalu, saat Souta mulai tenang, si kecil akhirnya mau menceritakan kejadian yang ia alami di sekolah selama ini. Dimulai dari ejekan karena katanya "Tidak punya Orang Tua.", banyak barangnya yang dengan sengaja disembunyikan, dipukul karena tak mau menggantikan saat bagian membersihkan kelas, bagaimana ia diseret di lorong sekolah, dan tentang ancaman yang membuat Souta memilih untuk diam.

Air mata Harris ikut turun membasahi pipi. Bukan hanya karena luka yang terlihat, tapi karena luka yang tak pernah dia tau. Souta yang menyimpan semuanya sendirian, merasa tak ingin membebani ke-tiga kakaknya.

Tak berselang lama, dokter yang bertugas mengecek keadaan Souta menghubungi Harris, dokter itu mengabari bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka.

"Dokternya udah mau datang, kita ganti baju dulu, yuk?" Harris berusaha mengembalikan situasinya agar kembali ceria. Mungkin, untuk langkah selanjutnya ia akan diskusi dengan yang lain nanti.

"Souta, terima kasih ya karena sudah mau bercerita."




To be continued.

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang