Skincare Gin

1.7K 171 8
                                        

Credits to @/nihilismdazaii on X for the precious art 💞

Biasanya, saat Souta sedang "menginap" di kamar Gin, pada saat sebelum tidur si kecil selalu memperhatikan Gin ketika pria itu sedang melakukan ritual malamnya, Menggunakan Skincare sebelum tidur.
Di mulai dari Gin yang membersihkan wajahnya menggunakan micellar water kemudian mencuci wajahnya dengan sabun lalu dilanjutkan dengan step step yang rumit menurut Souta.

Dan hari ini Souta kembali menginap dikamar Gin. Sebetulnya Souta dipaksa oleh pria berambut hitam itu untuk tidur di kamarnya.

"Souta tunggu disini, Gin dipanggil sama Arion dulu sebentar." katanya pada Souta yang sedang menonton YouTube di handphone milik Gin.

Beberapa menit kemudian Souta mulai bosan bermain dengan Handphone milik Gin. Si kecil turun dari kasurnya dengan susah payah, meninggalkan handphonenya kemudian berkeliling di kamar Gin, mencari apapun yang bisa menghilangkan rasa bosannya.

Dan matanya tertuju pada sekumpulan Skincare milik Gin yang berada di samping meja kerjanya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Souta menaiki kursi dengan susah payah untuk melihat benda benda itu.

Kini tangannya mengambil sebuah benda berbentuk tabung berwarna hijau bertuliskan clay mask yang sedari tadi menarik perhatiannya. Beberapa hari lalu, Souta sempat melihat Gin memakai benda itu diwajahnya, setelah ditanya Gin menjawab benda itu bermanfaat untuk menghaluskan wajahnya.

Jiwa penasaran si kecil sangat tinggi, sampai akhirnya dengan hati-hati ia membuka penutupnya, mengaplikasikan benda itu ke wajahnya seperti apa yang ia lihat dari Gin beberapa hari lalu.

"Hanti muka Cota adi bagus."

Souta terkekeh geli ketika melihat wajahnya sendiri yang kini berubah menjadi warna hijau.

Tak lama berselang, terdengar suara pintu terbuka membuat Souta langsung menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum lebar.

"Gin!"

Yang dipanggil terdiam diujung pintu, mulutnya ternganga melihat Souta yang sudah sangat kotor dan berantakan.

"Astaga, Sou" Gin tertawa lepas setelahnya.

"Hahaha! aduh, kamu ngapain?"

Gin masih tak bisa menghentikan tawanya melihat wajah Souta yang kini sudah mirip dengan Hulk. Pria berambut hitam itu perlahan mendekati Souta yang hanya tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa.

"Souta belum boleh pakai yang kayak gini, nanti kulitnya rusak."

Souta yang mendengarnya langsung melotot panik, takut nanti wajahnya berubah seperti monster jelek yang sering ditonton nya di televisi.

"Hanti muka Cota kaya montel?"

Gin mengangguk. Pria itu sangat senang menjahili si kecil, jadi apapun yang dikatakannya selalu berlebihan.

Souta sudah hampir menangis, membayangkan wajahnya yang berubah menjadi monster jelek. "Gin! Cuci muka, Gin!"

Gin yang masih tak bisa menghentikan tawanya itu langsung membawa Souta ke kamar mandi, membantu mencuci wajahnya hingga bersih. Dan yang menjadi masalah sekarang adalah baju Souta yang sudah sangat kotor, ditambah basah pula.

"Ganti baju ya? takut masuk angin nanti." tawar Gin.

Si kecil menggelengkan kepalanya, enggan mengganti pakaian. "Nda mawu, bagus bajunya."

Baju itu adalah baju tidur favorit Souta, ketika baju biru berkarakter itu selesai di cuci oleh mbak, Souta akan langsung memakainya. Cuci-Kering-Pakai.

"Besok langsung minta mbak buat cuci, jadi bisa langsung dipakai lagi, ya?" Dengan lesu Souta mengangguk setuju, membuat Gin bernapas lega. Setidaknya ia tak perlu membujuk Souta dengan berbagai cara ajaibnya.

Setelah membersihkan wajah juga mengganti pakaian si kecil, kini mereka sudah berada di atas kasur, berbaring sembari mendengarkan Gin yang bercerita.

Biasanya sebelum tidur mereka akan mengobrol layaknya dua orang dewasa. Walaupun kata Souta masih terbatas dan terkadang Souta tak mengerti dengan ucapan Gin. Tapi, entah mengapa Gin lebih senang membagikan cerita tentang kesehariannya kepada si kecil.

"Tau gak, tadi Gin ditraktir sama orang lain tiba-tiba. Kayaknya dia suka sama Gin." katanya besar kepala.

Si kecil yang sedang menikmati susu dot nya itu merengut tak terima, "Janan ada yang suka Gin."

"Loh, kenapa?"

"Nanti Gin di lebut, Ndak sama Cota ladi."

Gin terkekeh geli. Souta ini sering sekali cemburu ketika ada yang dengan sengaja mendekati saudaranya. Ia akan merengut tak terima. Takut saudaranya akan berpaling dan tak mau diajak bermain bersama lagi.

"Loh, nanti kalau Gin nikah gimana?" tanya Gin dengan nada yang lebih serius.

"Ndak, Gin!"

Tiba-tiba saja Souta menangis kencang, membuat Gin panik kelabakan. Souta itu sudah sedikit mengerti tentang pernikahan, karena pernah sedikit dijelaskan oleh Harris sebelumnya. Yang ia pahami dari kata pernikahan itu, saudaranya akan pergi dengan pilihan mereka dan meninggalkannya, tak lagi tinggal bersama. Jadi Souta sangat takut kalau saudaranya menikah lalu meninggalkannya sendirian.

"Eh, becanda aja Sou."

Souta masih menangis. Botol susunya pun sudah ia abaikan sejak tadi. Pria yang lebih tua itu memang panik, namun juga merasa sedikit senang karena berhasil menjahili adiknya sampai menangis.

"Enggak, Sou. Gin masih bakal tetep disini sama Souta." katanya menenangkan.

Gin kini memeluk si kecil yang juga membalas pelukannya tak kalah erat, seolah tak ingin membiarkannya pergi kemanapun.

Tak lama setelahnya, terdengar suara ketukan pintu yang disusul suara seseorang dari luar sana.

"Souta, kenapa?"

Harris terdengar cemas di luar sana. Sepertinya suara tangisan Souta terlalu nyaring hingga terdengar sampai ke luar kamar Gin.

"Ayyis.." lirih si kecil yang kini mengalihkan perhatiannya pada pintu kayu itu.

"Yis!"

Souta berteriak. Meronta menjauh dari tubuh Gin yang masih setia memeluknya. Kebetulan pintu kamar Gin belum terkunci sehingga Harris langsung masuk ke kamar setelah mendengar Souta memanggil namanya.

"Mawu Ayyis aja.." bibirnya cemberut, pipinya sudah penuh dengan air mata.

"Gin nakal, lepas!"

Dengan dramatis Gin membiarkan Souta yang masih menangis itu diambil oleh Harris. Gagal sudah malamnya, tak bisa tertidur sambil memeluk bantal guling bernyawanya.

"Kenapa?"

"Gin nakal." Souta berucap sambil tersedu-sedu. Sepertinya si kecil betulan sakit hati dengan ucapan si surai hitam yang kini malah tersenyum-senyum seolah tak terjadi apa-apa.

"Dot nya mana, Gin?"

Gin melirik sekitarnya, mencari kemana botol dot susu Souta pergi. Tadi Souta membuangnya ke sembarang arah, dan Gin tidak terlalu menyadari itu. Tapi untungnya masih bisa ditemukan. Botol susu itu hanya tersisa sedikit, tapi sepertinya bukan karena tumpah, tapi memang Souta sudah hampir menghabiskannya.

"Ngantuk kayaknya." Kini tangis Souta perlahan mulai mereda, hanya terdengar isakan.

Harris berjalan keluar dari kamar Gin, berusaha menidurkan Souta yang kini terlihat mulai mengantuk. Gin pun tak tinggal diam, dia mengekor dari belakang. Tapi belum sampai ke pintu, Souta merengek dan protes, tak ingin didekati oleh Gin.

Gin seketika merasa tubuhnya lesu. Yang tadinya tak mau lepas, kini berpaling, bahkan tak mau didekati.

"Nanti tidurin disini ya, Ris."

"Em, ditenangin dulu bentar."

Pria tinggi itu sedikit menyesal tapi juga merasa senang karena berhasil menjahili adik kecilnya. Nanti juga bakal baik-baik lagi, katanya.

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang