Liburan singkat itu diputuskan mendadak, tanpa banyak persiapan.
Di pagi hari. Arion menyetir pelan menyusuri jalanan menuju dataran tinggi. Di kursi belakang, si Kecil Souta berdiri dengan sabuk pengaman yang melorot, matanya lekat menatap keluar jendela.
"Itu gunungnya kayak pake topi!" teriaknya.
Harris, yang duduk di samping Arion terkekeh pelan. "Itu awan, Sou."
Souta mengangguk pelan dan kembali fokus pada pemandangan di depannya, sambil dipegangi oleh Gin yang duduk di kursi belakang, tepat di sampingnya.
Si kecil banyak menunjuk dan bertanya, seakan seluuruh dunia di luar sana baru pertama kali dilihatnya hari ini.
Dan mungkin memang begitu. Di usia tiga tahun, setiap pohon yang tinggi adalah menara. Setiap awan adalah hewan. Setiap perjalanan adalah petualangan.
Akhirnya mereka tiba di sebuah vila kecil di tengah perkebunan teh. Bangunannya sederhana, tapi hangat dan bersih. Aroma tanah basah, rumput, dan kayu tua menyambut langkah pertama mereka.
Souta dengan semangat yang penuh langsung berlari kecil ke rerumputan. "Ijoo! Banyak ijoo! Ginn, liat! Souta ilang di rumput!"
"Rumputnya aja cuma setinggi mata kaki, Sou," ujar Gin sambil membenahi barang bawaan.
Tapi bagi anak tiga tahun, dunia memang selalu lebih besar dari dirinya.
Tak lama kemudian, ia menemukan kupu-kupu kecil dan mengejarnya dengan teriakan geli.
"Jangan terbaang! Souta mau liat!"
Arion dan Gin masih mengeluarkann koper dari bagasi, sementara Harris mengikuti Souta dari belakang sambil membawa tas kecil berisi mainan Souta.
Namun, tak sampai sepuluh menit kemudian, semangat itu berubah. Souta berhenti di tengah halaman, berdiri dengan tubuh lesu. Keringat membasahi dahi, dan pipinya memerah karena panas.
"Ayyiss... panas..." rengeknya.
Harris mendekat dengan kipas tangan elektrik. "Kita duduk dulu. Kaki kamu juga udah merah tuh."
Souta menjatuhkan diri duduk di lantai kayu teras, melepas sepatunya sambil bersungut.
"Sepatunya jahat. Kaki Souta kayak di goreng."
Arion muncul sambil membawa botol minum. "Baru datang, langsung mulai dramanya ya?"
"Engga drama loohh.. Souta lagi kayak bunga.. layu." jawabnya sembari menyender ke paha Harris.
Gin datang menyusul sambil membawa beberapa minuman kaleng. "Yon, siram dulu bunganya biar ga layu."
"Siram Souta pake susu cokelat..."
Beberapa menit kemudian, Souta sudah tergeletak nyaman di sofa vila, hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek. Pipinya masih merah, tapi senyumnya mulai kembali.
Harris mengipasi dengan kipas elektrik. Gin menyuapi potongan apel. Arion duduk di lantai, menyender ke kaki sofa sambil melihat ketiganya dari bawah.
"Ademm..." gumam Souta sambil menggengam tangan Harris.
"Kalau sore nanti kita ke danau, gimana?" tanya Gin. "Ada tempat sewa perahu juga, bisa muter-muter sebentar."
Arion mengangguk sambil membuka peta vila di ponselnya. "Danau yang tadi, kan? Deket cuma dua kilometer dari sini. Kita bisa naik mobil sampai parkiran, terus jalan kaki sedikit."
"Pas matahari gak terlalu tinggi, anginnya pasti enak," tambah Harris sambil mengusap rambut Souta pelan.
"Souta mau naik perahu... Pengu juga mau ikut."
Ketiganya menoleh bersamaan. Gin tersenyum dan menyentuh kaki kecil Souta yang menjulur di atas bantal.
"Kalau Pengu ikut, berarti kita harus pakai pelampung dua. Satu buat kamu, satu buat pinguin empuk itu."
"Dia gak bisa berenang.. nanti kena angin terus nyebuuurr.."
Arion terkekeh. "Tenang, kita janji gak akan biarin Pengu kamu itu nyebur. Kita jaga dia kayak kita jaga kamu."
"Tapi Souta lebih penting..."
"Yakin?" sahut Harris menggoda, "Tadi aja kamu nyuapin Pengu duluan daripada makan sendiri."
"I-itu soalnya... dia lebih lapar!" jawab Souta sambil menyembunyikan wajahnya ke pelukan Harris.
Mereka tertawa kecil bersama, lalu kembali membahas rute menuju danau, tempat parkir, dan cemilan apa saja yang bisa dibawa nanti.
"Ini udah kan listnya? ada lagi?" tanya Harris sambil kembali mengecek daftar kecil di ponselnya.
"Jangan lupa selimut buat Souta, dia kalau kena angin suka ngantuk," timpal Gin.
Arion melirik Souta. "Sore nanti kita pergi sekitar jam empat. Jadi, Souta tidur dulu yuk sebentar, biar gak cranky."
Souta menatap Arion dengan mata setengah tertutup.
"Souta nggak ngantuk... Souta cuma mau merem dikitt..."
Tak sampai lima menit kemudian, suara napas kecil itu terdengan teratur. Tangan mungil masih memeluk boneka pinguinnya erat, wajah damai di pangkuan Harris.
Ketiganya menatap si kecil lama, lalu saling bertukar senyum dalam diam yang lembut.
Mereka tahu betul, hari-hari seperti ini terlalu berharga untuk dibiarkan lewat begitu saja.
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
